Berburu Harta Luthfi

UNICEF Penanaman Modal Pada Anak-Anak Prioritas di Sudan Selatan

PBB, New York (ANTARA/Xinhua-OANA) - Dana Anak PBB (UNICEF), Jumat (6/7), menyerukan agar hak anak dijadikan prioritas di Sudan Selatan, yang akan merayakan ulang tahun pertama kemerdekaan pada Senin (9/7).

Badan dunia tersebut menegaskan semua itu penting bagi kestabilan dan pertumbuhan negara termuda di dunia tersebut. "Dasar bagi Sudah Selatan yang makmur dan damai hanya dapat jadi kuat jika kita menanam modal pada warga paling muda di negeri itu," kata wakil UNICEF untuk Sudan Selatan, Yasmin Ali Haque, di dalam satu siaran pers.

"Itu harus jadi prioritas setiap orang sehingga generasi masa depan dapat memainkan bagian aktif dan berarti dalam membangun negara baru ini," kata Haque.

Sudan Selatan memperoleh kemerdekaan dari Sudan pada 9 Juli tahun lalu, enam tahun setelah penandatanganan kesepakatan perdamaian yang mengakhiri beberapa dasawarsa perang antara utara dan selatan.

Separuh penduduk Sudan Selatan saat ini berusia di bawah 18 tahun, tapi negara itu memiliki indikator sosial yang sangat buruk, termasuk tingginya angka kematian ibu dan bayi, tingginya angka buta aksara dan gizi buruk, dan prasarana yang sangat terbatas, sehingga menjadikannya tempat paling beresiko di dunia bagi bayi yang dilahirkan.

"Pengukuran kemajuan harus berupa ketentuan hasil nyata bagi anak-anak," kata Haque. "Kita perlu meningkatkan peluang anak-anak untuk bertahan hidup setelah ulang tahun kelima mereka, untuk memiliki kesempatan untuk bersekolah dan dilindungi dari kekerasan serta konflik."


Menurut UNICEF, 70 persen anak-anak di Sudan Selatan antara enam dan 17 tahun tak pernah bersekolah, dan angka diselesaikannya sekolah dasar kurang dari 10 persen, salah satu yang paling rendah di dunia, demikian laporan Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Sabtu malam.

Anak perempuan, khususnya, masih kurang beruntung ketika sampai pada masalah pendidikan dan rentan terhadap praktek sosial seperti menikah dini dan membesarkan anak dalam usia belia, kata badan PBB tersebut.

Bermacam krisis di negeri tersebut juga telah membuat banyak anak-anak tak memperoleh layanan dasar, dan hanya 13 persen dari mereka memiliki akses ke sanitasi yang layak.

UNICEF, melalui kerja sama dengan pemerintah Sudan Selatan dan mitra pembangunan, telah bekerja untuk menyediakan air bersih dan sumber kebersihan, serta prasarana pendidikan.

Dalam lima tahun, telah terjadi peningkatan 40-persen pada akses ke sumber air minum yang ditingkatkan, dan selama satu tahun belakangan, berbagai upaya telah ditingkatkan guna memastikan anak-anak di beberapa sekolah yang kurang beruntung memperoleh lingkungan belajar yang lebih bersahabat.

UNICEF menyatakan masalah yang ada antara Sudan dan Sudan Selatan terus memiliki dampak pada anak-anak. Sejak kemerdekaan Sudan Selatan, perdamaian antara kedua negara tersebut telah terancam oleh bentrokan di sepanjang perbatasan bersama mereka. Sementara itu masalah pasca-kemerdekaan, termasuk kepemilikan daerah Abyei yang membentang di antara kedua negara, membuat ratusan ribuan orang meninggalkan kediaman mereka.

Arus pengungsi yang terus mengalir, ancakan konflik yang tak kunjung reda dan kerawanan pangan parah membuat keadaan jadi lebih mendesak untuk memenuhi kebutuhan, tambah UNICEF.(rr)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.