Damaskus (AFP/ANTARA) - Utusan PBB-Liga Arab Kofi Annan Ahad tiba di Suriah, kata juru bicaranya, setelah mengakui bahwa rencana perdamaian telah begitu jauh gagal mengakhiri hampir 16 bulan pembantaian di negara itu.
"Utusan Khusus Bersama untuk Suriah, Kofi Annan, tiba di Damaskus malam ini untuk mengadakan pembicaraan dengan Presiden Bashar Al-Assad," kata juru bicaranya Ahmad Fawzi, dan menjelaskan ini adalah perjalanan ketiga Annan ke Suriah sejak pecah konflik.
Sebelumnya, juru bicara kementerian luar negeri Suriah Jihad Makdissi mengatakan kepada AFP, bahwa Annan akan mengunjungi Suriah guna membicarakan rencana enam pasalnya untuk perdamaian dengan pemimpin Suriah.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton memperingatkan pada Minggu bahwa waktunya telah habis untuk menyelamatkan Suriah dari "serangan bencana," dan pada saat puluhan orang lainnya dilaporkan tewas dalam kerusuhan yang melanda negara.
Annan sendiri menyatakan misinya yang didukung PBB sejauh ini gagal untuk menghentikan pertumpahan darah, dan menekankan bahwa Rusia dan Iran tidak boleh absen dari upaya perdamaian.
"Rusia memiliki pengaruh, tetapi saya tidak yakin bahwa peristiwa ini akan ditentukan oleh Rusia sendiri ... Iran adalah aktor. Dia harus menjadi bagian dari solusi. Memiliki pengaruh dan kita tidak bisa mengabaikan itu," kata Annan kepada harian Prancis Le Monde.
Dia juga menyatakan bahwa iritasi sementara Rusia dan Iran disebutnya sebagai beberapa batu sandungan bagi perdamaian, "sedikit mengenai negara lain yang mengirim senjata, uang, dan datang di tanah tersebut."
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menuduh Amerika Serikat dan sekutu menentang rezim Assad dengan tujuan mendominasi Timur Tengah dan menopang Israel.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian mengatakan pada Ahad di Jordania bahwa setiap serangan terhadap Suriah akan jadi tindakan "bodoh" dan "bencana."
"Aksi militer di Suriah tidak mungkin dan jika ini terjadi akan bodoh. Suriah dapat mempertahankan diri tanpa bantuan Iran. Setiap solusi non-politik akan membawa bencana untuk seluruh kawasan," tegasnya.
Kantor berita Suriah SANA mengatakan Minggu bahwa angkatan laut negara itu menggelar latihan peluru tajam untuk "mensimulasikan skenario memukul mundur secepat mungkin serangan dari laut."
Sebelumnya, Menlu Hillary Clinton mengakui bahwa upaya di Tokyo yang dipimpin oleh Annan untuk membujuk rezim Bashar al-Assad menghentikan tindakan keras terbukti sulit.
"Lebih cepat bisa dihentikan kekerasan dan dilakukan transisi proses politik, tidak hanya akan akan mengurangi korban tewas, tetapi ada kesempatan untuk menyelamatkan negara Suriah dari serangan bencana yang akan membahayakan tidak hanya ke negara, tetapi juga kawasan itu," katanya kepada wartawan.
"Ini harus sangat jelas untuk mereka yang mendukung rezim Bashar, hari-hari mereka telah dihitung."
Hillary berbicara setelah pembicaraan di Paris pada Jumat, di mana negara-negara berjanji untuk meningkatkan tekanan terhadap Bashar agar mundur, dengan mengupayakan resolusi PBB yang didukung dengan ancaman sanksi-sanksi.
Sekjen PBB Ban Ki-moon, juga berbicara di Tokyo, menyerukan kembali di Dewan Keamanan untuk bertindak secara kolektif menekan Suriah agar menghentikan kekerasan.
"Presiden Assad harus memahami bahwa segala sesuatunya tidak dapat dilanjutkan. Perubahan mendasar yang dibutuhkan," kata Ban.(rr)

