Wamendag: UAE Pintu Masuk Indonesia ke Timur Tengah

  • Dahlan Kumpulkan 143 BUMN Bahas "Outsourcing"

    Dahlan Kumpulkan 143 BUMN Bahas "Outsourcing"

    Antara
    Dahlan Kumpulkan 143 BUMN Bahas "Outsourcing"

    Jakarta (ANTARA) - Menteri BUMN Dahlan Iskan mengumpulkan direksi dan komisaris 143 perusahaan milik negara untuk membahas soal tenaga kerja alih daya (outsourcing), pengalihan program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL). Selain itu, kewajiban direksi mengajar langsung pada jenjang SD-SMU, dan penyerahan penghargaan bagi BUMN yang mampu memperbaiki kinerja dalam operasional. Acara "Pertemuan Akbar BUMN 2013", yang digelar di Kantor Pusat Pertamina itu, diikuti hampir sekitar 1.000 orang

  • Pengamat: Kementerian Pertanian Harus Limpahkan Riph FTZ

    Antara

    Batam (ANTARA) - Kementerian Pertanian harus melimpahkan kewenangan perizinan rekomendasi impor produk hortikultura untuk Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan, dan Karimun ke Dewan FTZ, kata seorang pengamat. "FTZ tidak terkena kuota nasional. Menteri Pertanian tidak berhak mengatur daerah non-pabean," kata pengamat kawasan perdagangan bebas Harry Azhar Azis di Batam, Minggu. Dewan FTZ bersama Badan Pengusahaan Batam berupaya meminta pengalihan kewenangan penerbitan RIPH

  • Produksi Susu Lokal Menurun

    Produksi Susu Lokal Menurun

    Tempo
    Produksi Susu Lokal Menurun

    TEMPO.CO, Jakarta -Ketua Dewan Persusuan Nasional, Teguh Boediyana mengatakan tahun 2013 ini persentase susu segar untuk memasok kebutuhan nasional diyakini menurun dibandingkan tahun 2012. Prooduksi susu segar di tahaun 2103 diperkirakan turun sekitar 10 -15 persen.

Dubai (ANTARA) - Wakil Menteri Perdagangan RI Bayu Krisnamurthi mengatakan, Uni Emirat Arab (UAE) sangat berpotensi dijadikan sebagai pintu masuk pasar ekspor Indonesia ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, meliputi Oman, Qatar, Iran dan Pakistan.

"UAE bisa dijadikan sebagai pusat distribusi (distribution center) bagi produk-produk Indonesia, untuk kemudian dapat diekspor kembali ke negara di sekitarnya," kata Bayu, usai melakukan "Business Forum" dengan sekitar 50 pengusaha asal Uni Emirat Arab, di Dubai, Rabu malam.

"Business Forum" di Dubai tersebut merupakan bagian terakhir dari rangkaian penyelenggaraan Misi Dagang Kementerian Perdagangan-RI ke Timur Tengah, setelah sebelumnya juga diselenggarakan di Jordania.

Menurut Bayu, pemilihan UAE sebagai pusat distribusi sejalan dengan program pemerintah dalam memperluas pasar ekspor di Timur Tengah di tengah krisis keuangan di Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa yang belum kunjung pulih.

Ia menjelaskan, Dubai saat ini merupakan merupakan hub bisnis termodern dikawasan Timur Tengah sehingga sangat layak dan efisien dijadikan sebagai pintu bagi produk Indonesia untuk menembus pasar di kawasan itu.

Lebih luas dari itu, Dubai telah menjadi perlintasan bisnis yang menghubungkan seluruh benua.

Situasi politik di sejumlah negara di Timur Tengah saat ini belum mapan karena terjadi gejolak, yang sedikit banyak mengganggu distribusi.

Namun di sisi lain situasi yang tidak menguntungkan itu memicu tingginya permintaan terhadap komoditas tertentu seperti bahan makanan, obat-obatan, sandang dan material bangunan akibat kerusakan infrastruktur.

"Selain meningkatkan pasar di UAE, Dubai bisa dijadikan basis produk-produk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan ke negara-negara tetangganya," ujar Bayu.

Menurut data Kementerian Perdagangan, total nilai perdagangan Indonesia dengan UEA hingga Agustus 2012 mencapai sekitar sekitar 2,15 miliar dolar AS, meningkat 19,04 persen dibanding periode sama 2011 sebesar 1,8 miliar dolar AS, dengan surplus bagi Indonesia hanya sekitar 12 juta dolar AS.

Nilai ekspor Indonesia mencapai 1,08 miliar dolar AS, sebaliknya Indonesia mengimpor produk dari UEA sekitar 1,06 miliar dolar AS.


Surplus perdagangan Indonesia tersebut makin menurun sehingga harus dicarikan jalan keluar agar ekspor Indonesia dapat ditingkatkan.

"Jadi, sudah saatnya cepat mencari terobosan baru untuk menjaga pertumbuhan ekspor nasional," kata Bayu.

Jumlah penduduk UAE saat ini sekitar 8,5 juta jiwa, dan 80 persen di antaranya merupakan pendatang.

"Namun ekspatriat tersebut juga menjadi potensi pasar bagi produk-produk Indonesia negara itu karena membutuhkan komoditas yang lebih beragam. Ini peluang yang harud dapat tangkap," ujarnya.

Menurut catatan, Indonesia saat ini mengekspor sejumlah komoditi seperti makanan olahan, mebel, minyak nabati, tekstil dan garmen, mebel, suku cadang otomotif.

"Selain memenuhi pasar dalam negeri negara itu, setelah melalui proses pemberian nilai tambah (value added) bisa dipasarkan kembali oleh pengusaha setempat ke negara-negara lain yang menjadi tujuan ekspor UEA)," ujarnya. (tp)




PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

POLL

Apakah Anda percaya pengerjaan proyek MRT yang sudah resmi dimulai akan berjalan tepat waktu sesuai rencana?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat