Penghargaan buat SBY

Wapres: Pendidikan Bukan Hanya Hati tetapi Otak

Jakarta (ANTARA) - Wakil Presiden Boediono mengatakan memberikan pendidikan kepada anak didik generasi muda penerus bangsa bukan hanya menyangkut kemampuan otak tapi juga hati dan karakter.

"Mendidik bukan hanya sekedar mengembangkan kemampuan nalar tetapi karakter. Bukan hanya menyangkut kemampuan otak tapi juga hati mereka," kata Wapres Boediono pada acara Puncak Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2012 di Stadion Tenis Indoor Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu.

Wapres menjelaskan, memberikan pendidikan kepada anak didik harus seimbang antara kemampuan otak dengan hati.

Untuk itu, dia meminta orang tua dan seluruh unsur pendidikan untuk menyediakan waktu mengajarkan tentang kejujuran.

"Sediakan waktu mengajarkan kejujuran, mengajarkan tentang menyatukan kata dan perbuatan serta mengasihi manusia lain," katanya.

Selain itu, mengajarkan tentang bagaimana membangkitkan kecintaan pada tanah air, mengenai apa yang menjadi hak dan kewajiban serta tanggung jawab untuk menjadi seorang warga negara yg baik.

Wapres meminta seluruh pihak untuk semangat dalam melakukan evaluasi dan koreksi terkait pendidikan.

"Apakah yang kita lakukan dan laksanakan sudah benar.Jika belum dilakukan, mari kita lakukan koreksi bersama," katanya.

Menurut dia, setiap upaya harus diukur nilai dan tujuan serta sasaran yang ingin dicapai agar tidak ada upaya yang sia-sia.

Wapres mengingatkan seluruh pihak terkait tanggung jawab untuk menyiapkan generasi pengganti.

"Generasi saat ini menyiapkan anak-anak kita untuk menjadi generasi yang lebih baik atau generasi emas," katanya.

Selain itu, Wapres juga mengingatkan bahwa pendidikan dan kesehatan merupakan kunci kemajuan suatu bangsa.

"Suatu bangsa akan maju apabila generasi pengganti lebih baik dari generasi yang diganti. Jika sebaliknya maka bangsa itu akan hilang dari peta sejarah," katanya.

Untuk itu, Wapres meminta semangat semua pihak untuk melakukan koreksi dan evaluasi dan mengingat bahwa hakikat pendidikan bukan sekedar memberikan kurikulum wajib atau lulus UN tapi juga membukakan pintu kepada anak didik untuk mengembangkan diri menjadi manusia yang utuh dan berbudi. (tp)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.