INILAH.COM, Jakarta - Fenomena melesetnya sejumlah prediksi lembaga survei di Pemilukada DKI Jakarta terus menjadi perbincangan.
Berbagai kalangan makin meragukan akurasi survei politik. Cawagub DKI Jakarta Didik J Rachbini mengatakan, saat ini hanya sedikit lembaga survei yang memiliki kredibilitas.
"Kalau saya lihat di sini, lembaga survei yang benar itu cuma satu atau dua saja dan lainnya tidak. Sebab ada dua kemungkinan yakni dagang atau salah, tapi salah kan tidak dosa mungkin salah karena metodologi atau karena manipulasi," kata Didik di Jakarta, Selasa, (17/7/2012).
Didik melihat ada kesalahan yang dilakukan oleh lembaga survei dalam Pilkada Jakarta. "Kalau saya lihat salahnya itu di kasus Pilkada Jakarta pada minggu-minggu terakhir. Survei itu ada dua, yakni pra dan pasca pemilihan," kata Didik.
Lembaga survey yang berani me-mark up data menurut Didik merupakan pelanggaran etik dalam survei. Di samping itu, survei ilmiah pun terdiri dari dua jenis, yakni ilmiah komersil. "Nah, yang kedua ya survei yang komersil tapi tidak ilmiah," imbuhnya.
Didik mengatakan bahwa banyak lembaga survei yang dalam prediksinya itu melakukan distorsi dan membiarkan distorsi itu mempengaruhi publik, ini untuk kasus Pilkada Jakarta. Tetapi juga ada lembaga survei yang dikontrak.
Terkait hasil Pilkada ini, memang aspirasi masyarakat untuk melakukan perubahan ini relatif tinggi dan DKI ini tidak bisa ditaklukan oleh partai apapun. "Nah DKI ini pemilihnya memang sangat dinamis dan saya kira demokrasi ya seperti itu," jelasnya. [mah]



Yahoo! OMG