Yunani vs Jerman: Duel David-Goliath

TEMPO.CO, Gdansk - Jerman melangkah ke perempat final setelah menyapu bersih tiga kemenangan di Grup B. Di lain pihak, Yunani datang dengan langkah terseok-seok. Pertemuan keduanya Sabtu dinihari nanti seperti pertempuran David melawan Goliath.

Kedua tim akan bertemu di PGE Arena, Gdansk, Polandia, Sabtu dinihari nanti. Jika Der Panzer--julukan untuk tim sepak bola nasional Jerman--datang dengan rasa percaya diri yang membuncah, maka Yunani menjejakkan kaki di partai delapan besar ini dengan keharuan mendalam.

Pasukan dari negeri para dewa ini lolos dari Grup A berkat, bisa dibilang, keberuntungan. Dari tiga pertandingan, mereka hanya meraih satu kemenangan saat melawan Rusia dengan skor 1-0. Sebelumnya mereka ditekuk Republik Cek 1-2 dan bermain imbang dengan tuan rumah Polandia 1-1.

Dengan demikian, praktis mereka hanya memperoleh empat poin, sejajar dengan Rusia yang juga mengoleksi empat poin. Jika merujuk aturan selisih goal, maka Rusia yang seharusnya lolos karena selisih gol mereka menang jauh. Namun EUFA menggunakan ketentuan head to head sehingga Yunani-lah yang melenggang ke delapan besar. 

"Kemenangan (melawan Rusia) ini tak membuat kami menjadi tim terbaik, tapi kekalahan kami (saat melawan Republik Cek) juga tak membuat kami menjadi tim terburuk. Kami tahu dimana posisi kami," kata Kapten Yunani Giorgos Karagounis.

Karagounis adalah pahlawan Yunani. Pemain gaek berusia 35 tahun ini mencetak gol satu-satunya ke gawang Rusia. Kemenangan yang membuat mereka lolos dari Grup A. Namun saat melawan Jerman nanti, Karagounis tak bisa tampil lantaran akumulasi kartu kuning.

Ini menjadi pukulan telak bagi Yunani. Tanpa Karagounis, Yunani akan kehilangan separuh nyawa mereka. Peran Karagounis bisa disamakan dengan Ibrahimovic di Swedia dan mungkin juga Pirlo di Italia. Kehadirannya di tengah tim selalu mengangkat moral dan mental para pemain lain.

"Saya pikir dia adalah sumber inspirasi dari permainan Yunani dalam beberapa tahun terakhir ini," kata pelatih tim nasional Jerman, Joachim Loew, "Dia menjadi penghubung antara lini belakang dan lini depan. Absennya Karagounis menjadi luka tersendiri bagi Yunani."

Meskipun begitu, Loew tak ingin gegabah dengan memandang sepele Yunani. Menurut dia, tanpa Karagounis pun, Yunani tetap menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan. "Yunani selalu menjadi lawan berbahaya. Pertahanan mereka sangat solid. Menembusnya seperti mencungkil granit. Dan mereka sangat efisien."

Pelatih Yunani, Fernando Santos, memang memfokuskan timnya untuk bertahan dengan mengandalkan serangan balik cepat. Para pemain muda, seperti Kyriakos Papadopoulos, Yiannis Fetfatzidis, dan Vassilis Torosidis, serta Sokratis Papastathopoulos juga menjadi andalan.

Hasilnya cukup lumayan. Dari lima pertandingan terakhir, mereka meraih dua kemenangan, dua kali seri, dan sekali kalah. Sedangkan Jerman dalam lima pertandingan terakhir memetik empat kali kemenangan dan sekali kalah. Mereka juga baru dua kali kebobolan lebih dari dua gol sepanjang 24 pertandingan.

Hasil statistik, baik catatan pertemuan kedua tim maupaun head to head antarpemain, Jerman memang di atas angin. Mereka, misalnya, bertabur pemain bintang. Di sana ada Mario Gomez, Mesut Oezil, Poborski, dan Sami Khedira. Hebatnya, semua bintang ini kompak. Mereka mengubur ego dan bermain dalam satu kesatuan tim.

Tak mengherankan jika mereka kemudian menjadi tim favorit juara. Namun sepak bola selalu bermain di wilayah abu-abu. Semua kalkulasi berhenti saat bola mulai bergulir di lapangan. Yang mungkin menjadi tak mungkin dan yang mustahil bisa menjadi kenyataan. 

Tengok saja Yunani. Mereka berada di posisi buncit Grup A. Tak ada yang mengira mereka bakal mengalahkan Rusia, yang saat itu berada di puncak klasemen, kemudian lolos ke perempat final. Rusia yang digadang-gadang bakal lolos justru tersingkir. Ada kekuatan lain yang mempengaruhi hasil akhir selain formasi, pemain, dan taktik, yakni keberuntungan.

Pelatih Jerman Joachim Loew pun mengaku tak terlalu memfokuskan hal teknis seperti taktik dan strategi menjelang laga melawan Yunani. Loew justru meminta pemain lebih rileks. "Setelah melewati grup neraka dengan sembilan poin, saya hanya meminta pemain untuk lebih santai dan fokus," katanya.

REUTERS | DAILY MAIL | DWI RIYANTO AGUSTIAR

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

POLL

Yakinkah Anda, wanita-wanita yang terlibat dengan Ahmad Fathanah akan dikenakan sanksi hukum?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat