1 Bulan Jalan Bandung-Garut Tertutup Longsor, Warga Meradang

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Bandung - Sudah sekitar sebulan, jalan di Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, masih terputus. Jalur transportasi darat milik Provinsi Jawa Barat yang menghubungkan Kabupaten Garut-Kabupaten Bandung via Pangalengan itu masih tampak tertimbun longsor.

Warga pun hilang kesabaran dan meradang. Di badan jalan yang terputus, kini terbentang spanduk maupun seberkas papan bertuliskan desakan agar jalan yang rusak atau yang tertimbun longsor segera diperbaiki.

"Pak Gubernur, Kadis Binamarga, iraha bade mereskeun dampak longsoran sareng jalan? (Pak Gubernur, Kadis Binamarga, kapan akan membenahi danpak longsoran dan jalan?)," sebagaimana tertulis dalam seberkas papan.

"Sakirana teu barisaeun gawe!!! Pecat mandor dan pegawas jalan Binamarga Talegong. Rek 2 bulan jalan teu diomekeun. (Sekiranya tak becus kerja, pecat mandor dan pengawas jalan Binamarga Talegong. Hampir 2 jalan tak diperbaiki)," tertulis dalam spanduk lain.

Seorang pelintas, Randiansyah (28) mengeluh dengan kondisi di area longsor tersebut. Randiansyah yang berprofesi sebagai maintenace menara sinyal sebuah operator seluler itu tak bisa bekerja karena kesulitan mengakses jalan. Ia berangkat dari arah Kabupaten Bandung menuju Kabupaten Garut.

"Jadi, saya tadinya harus membetulkan tower sinyal yang terletak di Cisewu. Tapi saya tidak jadi kerja karena tidak bisa melewati jalan itu," katanya kepada Liputan6.com, Sabtu (16/1/2015).

Jembatan Darurat

Longsoran terlihat menimbum badan jalan di daerah Kecamatan Talegong perbatasan Kabupaten Bandung-Kabupaten Garut, Jumat (15/1/2021). (Foto: Liputan6.com/Dikdik Ripaldi)
Longsoran terlihat menimbum badan jalan di daerah Kecamatan Talegong perbatasan Kabupaten Bandung-Kabupaten Garut, Jumat (15/1/2021). (Foto: Liputan6.com/Dikdik Ripaldi)

Randiansyah menuturkan, hingga kini masih ada tiga titik kerusakan jalan yang sangat parah, yakni jalan yang retak karena amblas, jalan yang tertimbun longsoran dan jembatan penghubung yang ambruk.

Ia menuturkan, jalan tersebut bisa saja dipaksakan untuk dilintasi jika menggunakan sepeda motor. Namun, katanya, bukan tanpa risiko, jalanan yang amblas atau tertimbun tanah itu bisa sangat licin. Belum lagi ancaman longsor susulan. Sementara, untuk kendaraan roda empat dipastikan tak akan bisa melewatinya.

"Untuk jembatan, sekarang warga bikin jembatan darurat dari bambu. Yang saya tahu itu inisiatif warga. Yang menggunakan juga kebanyakan warga sekitar yang memang terpaksa melawati itu," ungkapnya.

"Banyak warga yang puter balik. Ada juga yang pakai jalan alternatif masuk-masuk ke perkampungan. Tapi itu jauh banget, dan cuma masuk hanya untuk satu mobil. Kalau ada dua mobil dari arah berlawanan mah pasti repot," ucapnya.

Sebagai warga pengguna jalan, Randiansyah berharap hal itu segera dibenahi oleh pemerintah. Alasannya, jika berlarut dibiarkan itu sangat membahayakan dan menghambat kerja masyarakat.

"Jalannya segera dibenerin. Potensi longsornya juga harus diantisipasi, saya lihat ada satu menara sinyal yang sudah miring. Itu ada di atas lereng pas banget di samping atas jalan. Kalau hujan besar mungkin bisa runtuh itu. Untung saya tidak disuruh naik ke tower yang itu," dia berharap.

Diketahui, longsor di Desa Sukamulya dan Desa Sukalaksana, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, terjadi Kamis 3 Desember 2020 pukul 06.30 WIB. Sekitar 18 rumah tertimbun longsor, sementara 55 rumah lainnya ikut terdampak, akibat musibah alam tersebut. Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu.

Simak Video Pilihan Berikut Ini: