1 dari 4 Balita Minum Kental Manis Setiap Hari

Tasya Paramitha, Sumiyati
·Bacaan 3 menit

VIVA – Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama PP Aisyiyah dan PP Muslimat NU, melanjutkan penelitian tentang Persepsi Masyarakat Tentang Kental Manis. Penelitian dilakukan di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, NTT dan Maluku. Total responden adalah 2.068 ibu yang memiliki anak usia 0 - 59 bulan atau 5 tahun.

"Ini merupakan lanjutan dari penelitian tahun lalu. Kami ingin melihat pola konsumsi dan persepsi di provinsi-provinsi dengan memiliki kota besar dan berpenduduk padat," ujar Ketua Harian YAICI, Arif Hidayat, dalam acara virtual baru-baru ini.

Baca Juga: Ini Penyebab Banyak Orangtua Berikan Kental Manis untuk Anak

Dari hasil penelitian ditemukan, 28,96 persen dari total responden mengatakan, kental manis adalah susu pertumbuhan. Sedangkan 16,97 persen ibu memberikan kental manis untuk anak setiap hari.

Hasil penelitian ini juga menemukan, sumber kesalahan persepsi ibu, di mana sebanyak 48 persen ibu mengakui mengetahui kental manis sebagai minuman untuk anak adalah dari media, baik TV, majalah atau koran dan sosial media. Serta, 16,5 persen mengatakan informasi tersebut didapat dari tenaga kesehatan.

Temuan menarik lainnya adalah, kategori usia yang paling banyak mengonsumsi kental manis adalah usia 3-4 tahun sebanyak 26,1 persen, usia 2-3 tahun sebanyak 23,9 persen. Sementara konsumsi kental manis oleh anak usia 1-2 tahun sebanyak 9,5 persen, usia 4-5 tahun 15,8 persen dan 6,9 persen anak usia 5 tahun, mengonsumsi kental manis sebagai minuman sehari-hari.

Dilihat dari kecukupan gizi, 13,4 persen anak yang mengonsumsi kental manis mengalami gizi buruk, 26,7 persen berada pada kategori gizi kurang dan 35,2 persen adalah anak dengan gizi lebih.

"Dari masih tingginya persentase ibu yang belum mengetahui penggunaan kental manis, terlihat bahwa memang informasi dan sosialisasi tentang produk kental manis ini belum merata, bahkan di ibukota sekalipun," lanjut Arif Hidayat.

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Chairunnuisa, mengatakan, media sangat memiliki peran penting di dalam memberikan persepsi kepada masyarakat. "Betul, memang media ini memiliki peran penting di dalam memberikan persepsi kepada masyarakat tentang SKM adalah susu," kata dia.

Sedangkan Erna Yulia Soefihara, selaku Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU mengatakan ia dan kadernya di seluruh Indonesia mencoba untuk merubah persepsi bahwa SKM itu bukanlah susu yang bisa diminum untuk balita.

"Tapi memang sangat sulit ya, saat kita melakukan sosialisasi itu karena sudah begitu lama di mereka bahwa susu kental manis itu sehat. Maka kami punya cara sendiri pada waktu itu, sosialisasinya dengan mengadakan lomba membuat makanan versi mereka masing-masing sesuai dengan potensi lokal yang ada dengan dicampur susu kental manis," tuturnya.

Erna menambahkan, dia ingin memberikan pemahaman bahwa ini bukan susu, tapi kental manis.

"Dan alhamdulillah mereka sedikit paham, mindset mereka sudah mulai berubah, kami juga pantau terus untuk mengetahui perkembangan bagaimana pemahaman ibu-ibu," tambahnya.

Sofie Wasiat, Public Policy Observer yang juga hadir sebagai penanggap mengatakan, meski tulisan ‘susu’ pada SKM sudah dihilangkan, tetapi kata Susu Kental Manis masih digunakan di e-commerce, padahal sejak 2018 melalui Perka BPOM No. 31, sudah diperintahkan untuk menghilangkan kata-kata susu, dari susu kental manis menjadi kental manis.

"Dan promosi susu kental manis tidak hanya dilakukan oleh seller, tetapi juga oleh produsen. Itu artinya, masih ditemukan niat yang kurang suportif terhadap program pemerintah untuk memperbaiki gizi anak-anak kita,” ucapnya.

“Perlu ada aturan bagi produsen, perlu ada aturan dari BPOM terkait hal tersebut, dan UU itu untuk produsen," tambah Sofie Wasiat.