10 hotel besar di Kota Batu Jatim hentikan operasional selama PPKM

·Bacaan 3 menit

Sebanyak sepuluh hotel besar di Kota Batu, Jawa Timur, dilaporkan menghentikan sementara kegiatan operasional mereka selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang bertujuan untuk menekan penyebaran COVID-19.

Ketua Perhimpunan Hotel, dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi, di Batu, Jawa Timur, Kamis mengatakan, jumlah hotel yang memilih untuk menghentikan sementara kegiatan operasional mereka, saat ini bertambah sejak PPKM digelar pada 3 Juli 2021.

"Untuk hotel yang menghentikan operasional, bertambah. Saat ini, untuk yang besar-besar sudah mulai banyak yang berhenti operasional, kurang lebih ada sepuluh hotel besar," kata Sujud kepada ANTARA.

Sujud menjelaskan alasan manajemen hotel menghentikan sementara kegiatan operasional mereka, dikarenakan selama masa PPKM tidak banyak tamu yang menginap di hotel-hotel yang ada di wilayah Kota Batu.

Jika hotel terus dibuka, lanjutnya, maka biaya operasional akan membengkak, namun tidak ada pemasukan yang diterima. Oleh karena itu, manajemen hotel memutuskan untuk menghentikan operasional dan untuk para karyawan dirumahkan sementara.

"Karena, jika diteruskan operasional, sementara tidak ada tamu, dan karyawan tetap masuk, mereka akan merugi. Selain karyawan, juga ada pemasok bahan makanan yang menyuplai kebutuhan," katanya.

PHRI Kota Batu menaungi kurang lebih 70 hotel dan restoran yang beroperasi di wilayah tersebut. Dari 70 hotel yang tergabung di PHRI tersebut, ada kurang lebih sebanyak 28 hotel besar dengan jumlah karyawan yang cukup banyak.

Selain hotel-hotel besar yang menghentikan sementara kegiatan operasional mereka, lanjutnya, untuk hotel-hotel kecil yang ada di wilayah Kota Batu, sebagian kecil masih tetap beroperasi. Hotel-hotel kecil, relatif tidak memiliki jumlah karyawan yang banyak.

"Sebetulnya mereka masih buka. Namun, saya tidak tahu ada tamu atau tidak. Karena biaya operasional untuk hotel yang kecil tidak terlalu besar, ada yang ditunggu oleh pemiliknya sendiri," ujarnya.

Secara garis besar, menurut Sujud, kondisi usaha hotel dan restoran di Kota Batu saat ini merupakan yang paling berat. Dampak ekonomi sesungguhnya tidak hanya dirasakan oleh sektor hotel dan restoran saja, akan tetapi juga pada sektor usaha lain yang terkait.

Kota Batu sebagai kota wisata memiliki keterkaitan pada masing-masing sektor perekonomian. Jika kunjungan wisatawan meningkat, maka hotel dan restoran akan kembali hidup, termasuk juga para pedagang kaki lima, termasuk penjual oleh-oleh.

"Jadi, ketika kami tidak beroperasi, banyak pihak yang juga terdampak. Namun di sisi lain, kami menyadari bahwa di Kota Batu saat ini harus menerapkan PPKM," katanya.

Ia mengharapkan upaya pemerintah untuk menekan penyebaran COVID-19 bisa segera terlaksana, dan sektor-sektor usaha bisa kembali beroperasi. Meskipun nantinya sektor hotel dan restoran belum mampu pulih 100 persen, diharapkan pelaku usaha mampu untuk bertahan.

"Ketika nanti kami sudah diperbolehkan beroperasi, kita bisa memutar otak untuk bagaimana bertahan sebelum akhirnya pulih," katanya.

Hingga saat ini, secara keseluruhan di Kota batu, tercatat ada sebanyak 2.156 kasus konfirmasi positif COVID-19. Dari total tersebut, sebanyak 1.738 orang dilaporkan telah sembuh, 168 orang dinyatakan meninggal dunia dan sisanya berada dalam perawatan.

Baca juga: Okupansi hotel di Jakarta hanya 10 persen selama PPKM Darurat
Baca juga: Hotel dan restoran di Kota Batu terdampak penerapan PPKM Darurat
Baca juga: Hotel dan wisma terancam gulung tikar akibat imbas PPKM

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel