10 Jenis Ular Paling Berbisa, Salah Satunya Banyak Ditemui di Indonesia

·Bacaan 7 menit

Liputan6.com, Jakarta - Jika Anda sedang mendaki gunung atau bahkan saat bermain di lapangan golf, salah satu binatang yang kerap ditemui dalah ular.

Berbisa atau tidak, bertemu dengan ular di alam liar adalah situasi menyeramkan yang perlu dihindari.

Dikutip dari Listverse, Rabu (3/2/21), berikut adalah 10 jenis ular paling berbisa di Bumi:

10. Ular Derik

(dok.Meg Jerrard/unsplash)
(dok.Meg Jerrard/unsplash)

Ular derik adalah satu-satunya ular yang berasal dari Amerika dalam daftar ini. Ular derik merupakan ular yang mudah dikenali dari tanda atau suara ber-derik yang berada di ujung ekornya.

Mereka masuk ke dalam keluarga Pit Viper. Keluarga ular yang dapat menyerang mangsa yang 2/3 lebih besar dibanding mereka. Spesies dari ular derik yang paling berbisa adalah Eastern Diamondback di Amerika Utara.

Eastern Diamondback yang masih berusia muda masih belum bisa mengontrol jumlah racun yang dikeluarkan. Hal tersebut membuat mereka lebih bahaya daripada Eastern Diamondback yang sudah dewasa.

Sebagian besar spesies ular detik memiliki racun hemotoksik yang dapat merusak jaringan, organ tubuh, dan menyebabkan pembekuan darah. Bekas dari gigitan ular ini -- walaupun jika mendapatkan pengobatan yang cepat dan efektif, dapat bertahan selama permanen dan dapat menyebabkan hilangnya anggota tubuh sampai kematian.

Kesulitan bernapas, kelumpuhan, pengeluaran air liur berlebihan, dan pendarahan hebat juga merupakan gejala umum jika digigit oleh ular ini. Gigitan ular berbisa tidak bisa diobati. Namun, jika Anda mendapatkan antivenin secara tepat waktu, injeksi tersebut dapat mengurangi tingkat kematian hingga kurang dari 4%.

9. Death Adder

Ular death adder atau beludak Australia. (Publik Domain)
Ular death adder atau beludak Australia. (Publik Domain)

Ular ini dapat ditemukan di Australia dan New Guinea. Ular berbisa ini merupakan jenis kanibal karena memburu dan membunuh sesama dengan cara penyergapan. Seramnya, secara penampilan, death adder sangat mirip dengan ular berbisa dengan kepala berbentuk segitiga dan tubuh pendek.

Biasanya, mereka dapat mengeluarkan sekitar 40 sampai 100 miligram racun atau bisa.

Jika Anda tidak segera diobati setelah digigit oleh death adder, saraf Anda akan mengalami kerusakan hebat karena racun dari ular ini adalah racun saraf. Gigitan dari death adder dapat menyebabkan kelumpuhan dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu enam jam akibat gagal napas.

Pada tahun 2019, seorang anggota Brimob bernama Bripka Desri Sahroni meninggal di Mimika, Papua, setelah digigit ular ini. Gejala umum akan memuncak dalam waktu 24 hingga 28 jam.

Walaupun terdengar menyeramkan, injeksi antivenin dalam waktu cepat sangat berhasil untuk mengobati gigitan dari ular ini. Gigitan death adder memiliki tingkat kematian setinggi 50%.

8. Ular Viper

Steve Ludwin mengambil bisa ular viper palem peliharaannya di Kennington, London, Kamis (9/11). Steve Ludwin menyuntikkan bisa ular viper tersebut ke tubuhnya untuk kekebalan tubuh. (AFP Photo/Niklas Halle'n)
Steve Ludwin mengambil bisa ular viper palem peliharaannya di Kennington, London, Kamis (9/11). Steve Ludwin menyuntikkan bisa ular viper tersebut ke tubuhnya untuk kekebalan tubuh. (AFP Photo/Niklas Halle'n)

Ular ini bisa ditemukan di sebagian besar dunia tetapi yang paling bahaya adalah spesies Saw Scaled Viper dan Chain Viper yang dapat ditemukan di berapa belahan bumi terutama Timur Tengah dan Asia Tengah, khususnya India, China, dan Asia Tenggara.

Ular viper adalah ular yang cepat marah dan umumnya aktif di malam hari dan sering aktif setelah hujan.

Selain cepat marah, ular ini juga dapat bergerak dengan cepat. Sebagian besar spesies ini memiliki bisa yang dapat menyebabkan gejala yang dimulai dengan rasa sakit di tempat gigitan yang diikuti oleh pembengkakan ektstrim.

Gejala umum setelah digigit Viper adalah pendarahan terutama dari gusi. Akan ada penurunan tekanan darah dan detak jantung juga akan turun.

Pada kasus yang parah, lokasi tubuh yang kena gigitan akan melepuh yang dapat mengefek ke seluruh bagian tubuh tersebut. Nekrosis biasanya hanya terbatas pada otot di dekat gigitan tapi bisa parah dalam kasus yang ekstrim.

Dalam sepertiga kasus yang pernah menjadi korban gigitan ular ini, muntah dan pembengkakan juga pernah terjadi. Pembengkakan lokal akan mencapai puncaknya dalam waktu 24 hingga 72 jam yang juga akan melibatkan anggota tubuh yang tergigit.

Perubahan warna dapat terjadi di seluruh area yang bengkak karena sel darah merah dan plasma yang bocor ke jaringan otot. Kematian akibat septikemia, gagal napas atau jantung dapat terjadi satu hingga 14 hari pasca gigitan, atau bahkan setelahnya.

7. Kobra Filipina

(dok.pavan adepu/unsplash)
(dok.pavan adepu/unsplash)

Bisa dari racun Kobra Filipina ini adalah racun yang paling mematikan dari semua spesies kobra. Mereka mampu menyemburkannya hingga sejauh tiga meter. Racun dari ular ini adalah racun saraf yang mempengaruhi fungsi jantung dan pernapasan, dapat menyebabkan neurotoksisitas, kelumpuhan pernapasan, dan kematian dalam tiga puluh menit.

Gigitan hanya menyebabkan kerusakan jaringan minimal. Neurotoksin mengganggu transmisi sinyal saraf dengan mengikat sambungan saraf-otot di dekat otot. Gejala mungkin termasuk sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, diare, pusing, pingsan, dan kejang.

6. Ular Harimau

(dok.David Clode/unsplash)
(dok.David Clode/unsplash)

Ular yang bisa ditemukan di Australia ini memiliki racun neurotoksik yang sangat kuat. Gigitan dari ular ini dapat menyebabkan kematian dalam hitungan 30 menit. Tapi, biasanya membutuhkan waktu enam hingga 24 jam.

Sebelum adanya antivenin, tingkat kematian dari ular ini mencapai 60% hingga 70%. Gejala dari gigitan ular ini dapat berupa nyeri di area lokal seperti kaki dan leher, kesemutan, mati rasa dan berkeringetan serta kesulitan bernapas dan kelumpuhan yang muncul cukup cepat.

Ular macan pada umumnya akan melarikan diri jika kontak dengan manusia. Namun, akan agresif jika terpojok.

5. Mamba Hitam

(dok.Glen Carriee/unsplash)
(dok.Glen Carriee/unsplash)

Ini adalah jenis ular yang ditakuti ditemukan di banyak bagian benua Afrika. Mamba hitam adalah ular yang dikenal sangat agresif, dan akan menyerang dengan presisi yang mematikan.

Selain agresif, ular ini juga merupakan ular darat tercepat di dunia yang mampu mencapai kecepatan hingga 20km/jam.

Ular ini bisa menyerang hingga 12 kali berturut-turut dan satu gigitan dari ular ini mampu membunuh sepuluh hingga 15 orang dewasa.

Racun dari ular ini adalah racun saraf yang dapat bekerja dengan cepat. Gigitan dari ular ini dapat menghasilkan sekitar 100 sampai 120 miligram racun tapi bisa memberikan racun hingga 400 miligram.

Jika racun ini mencapai pembuluh darah, 0.25 miligram saja cukup untuk membunuh manusia dalam 50% kasus. Gejala awal gigitan adalah nyeri lokal di area gigitan, meski tidak separah ular dengan hemotoksin.

Setelah itu, korban akan mengalami sensasi kesemutan di mulus dan dalam kasus ekstrim, penglihatannya akan terganggu, kebingungan, demam, air liur yang berlebihan, mulut dan hidung berbusa, dan kurang kontrol otot yang parah.

Jika korban tidak mendapat perawatan medis, gejala dengan cepat berkembang menjadi sakit perut yang parah, mual dan muntah, pucat, syok, nefrotoksisitas, toksisitas kardio, dan kelumpuhan.

Pada akhirnya, korban akan kejang-kejang, berhenti napas, koma, lalu meninggal. Tanpa antivenin, angka kematian dari gigitan ular ini mencapai 100%. Tergantung pada sifat gigitannya, kematian dari gigitan mamba hitam dapat terjadi kapan saja dari 15 menit hingga tiga jam.

4. Taipan

Warna kuning terang, termasuk kepala dan leher; pada musim panas. (Creative Commons)
Warna kuning terang, termasuk kepala dan leher; pada musim panas. (Creative Commons)

Ular dari Australia ini mempunyai racun yang kuat membunuh 12.000 marmot.

Racun dari bisa ular taipan ini ini dapat membekukan darah dan menghalangi arteri atau vena. Sebelum antivenin ditemukan, tidak ada kasus yang selamat dari gigitan ular ini.

Kematian biasanya terjadi dalam waktu satu jam. Dalam kasus pemberian antivenin yang berhasil saja, sebagian korban besar akan menjalani perawatan intensif secara ekstensif setelah digigit.

3. Weling

Tewaskan Satpam Serpong, Begini Cara Mengatasi Gigitan Ular Weling (sumber: Pixabay)
Tewaskan Satpam Serpong, Begini Cara Mengatasi Gigitan Ular Weling (sumber: Pixabay)

Weling dapat ditemukan di seluruh Asia Tenggara dan Indonesia. 50% gigitan dari ular ini berakibat fatal walaupun setelah diberi antivenin. Weling juga memburu dan membunuh ular lain dan ular weling lainnya.

Ular ini adalah ular jenis nokturnal dan lebih agresif dalam kegelapan. Walaupun terdengar menyeramkan, ular ini secara kesuluruhan cukup pemalu dan akan sering mencoba bersembunyi daripada bertarung.

Racunnya adalah racun saraf, 16 kali lebih kuat daripada ular kobra. Gigitan dari ular ini dapat menyebabkan kelumpuhan otot dengan mencegah kemampuan ujung saraf untuk melepaskan bahkan kimia yang berfungsi untuk mengirim pesan ke saraf berikutnya.

Hal tersebut akan diikuti oleh kram, tekor, kejang, yang akhirnya berujung pada kelumpuhan.

Gigitan dari weling jarang terjadi karena sifatnya yang nokturnal. Sebelum adanya antivenin, tingkat kematian dari gigitan ular ini mencapai 85% dan jika diberi tepat waktu, belum tentu Anda akan selamat dari kematian.

Kematian biasanya terjadi dalam 6 hingga 12 jam setelah gigitan. Bahkan jika pasien berhasil sampai ke rumah sakit, koma permanen dan bahkan kematian otak akibat hipoksia dapat terjadi, mengingat waktu transportasi yang berpotensi lama untuk mendapatkan perawatan medis.

2. Eastern Brown Snake

(pixabay)
(pixabay)

1 dari 14.000 ons racun dari ular ini cukup untuk membunuh manusia yang sudah dewasa.

Ular ini datang dalam berbagai spesies, ular ini adalah yang paling berbisa. Habitat dari ulat ini juga sepanjang pusat populasi utama di Australia.

Ular ini dapat bergerak cepat dan dapat menjadi agresif dalam keadaan tertentu dan telah diketahui dapat mengejar penyerang dan akan berulang kali menyerang mereka. Bahkan ular yang masih berusia muda dapat membunuh manusia.

Racunnya mengandung neurotoksin dan koagulan darah. Untungnya bagi manusia, kurang dari setengah gigitan mengandung racun dan mereka memilih untuk tidak menggigit jika memungkinkan.

Mereka hanya akan beraksi jika ada gerakan. Jadi, jika Anda menemukan ekor ini di alam liar, berusahalah untuk tidak bergerak.

1. Taipan Pedalaman

Warna cokelat gelap dengan kepala dan leher berwarna hitam pada musim dingin. (Creative Commons)
Warna cokelat gelap dengan kepala dan leher berwarna hitam pada musim dingin. (Creative Commons)

Ular ini memiliki racun yang paling beracun dari semua ular darat di dunia.

Hasil maksimum yang tercatat untuk satu gigitan adalah 10 miligram yang cukup untuk membunuh sekitar 100 manusia atau bahkan 250.000 tikus.

Untungnya, ular ini tidak terlalu agresif dan jarang ditemui manusia di alam liar sehingga tidak ada korban jiwa yang pernah tercatat walaupun berpotensi membunuh manusia dewasa dalam waktu 45 menit.

Reporter : Paquita Gadin

Infografis Kombinasi 3M Turunkan Risiko Tertular Covid-19 hingga 99,9 Persen

Infografis Kombinasi 3M Turunkan Risiko Tertular Covid-19 hingga 99,9 Persen. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Kombinasi 3M Turunkan Risiko Tertular Covid-19 hingga 99,9 Persen. (Liputan6.com/Trieyasni)