10 Manfaat Daun Basil untuk Kesehatan yang Jarang Diketahui

·Bacaan 4 menit

Bola.com, Jakarta - Bagi masyarakat Indonesia, daun basil mungkin belum terlalu populer apabila dibandingkan dengan daun-daun hijau beraroma lain, seperti daun mint dan kemangi. Hal ini karena daun basil lebih identik dengan masakan barat, terutama makanan Italia.

Padahal, sejatinya di Asia Tenggara dan India, daun basil cukup terkenal sebagai penyedap rasa. Selai itu, daun mungil ini bisa digunakan sebagai aromatik, teh, dan beberapa suplemen.

Sepintas, basil mirip daun mint. Hal ini cukup wajar karena basil memang 'bersaudara' dengan daun mint, sama-sama masuk keluarga tanaman rempah penyegar.

Tak hanya menambah citarasa dalam masakan, daun basil memiliki beberapa nutrisi yang berguna bagi kesehatan, seperti kalsium, vitamin A, vitamin K, vitamin B, serta beta-karoten.

Dengan kandungannya itu, daun basil telah dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi flu, peradangan, hingga kardiovaskular. Basil juga memberi aromatik yang bisa menenangkan hati.

Berikut ini beberapa manfaat daun basil bagi kesehatan, seperti disadur dari Liputan6, Jumat (8/1/2021).

Manfaat Basil untuk Kesehatan

Ilustrasi kanker. /Unsplash
Ilustrasi kanker. /Unsplash

1. Melawan kanker

Studi klinis yang diterbitkan dalam Nutrition and Cancer juga menunjukkan daun basil mengandung fitokimia, yang dapat membantu mencegah kanker secara alami, termasuk kanker kulit, hati, mulut, dan paru-paru yang diinduksi bahan kimia.

Basil mampu meningkatkan aktivitas antioksidan untuk melawan kanker dan menghentikan penyebaran tumor kanker.

2. Kaya antioksidan

Basil mengandung antioksidan antosianin dan beta karoten. Antioksidan sangat penting untuk menghilangkan radikal bebas dari tubuh. Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang berkembang sebagai hasil metabolisme dan proses alami lainnya.

Radikal bebas yang menumpuk akan menimbulkan stres oksidatif yang bisa mengakibatkan kerusakan sel dan penyakit. Antioksidan seperti antosianin dan beta karoten dapat membantu menghilangkan radikal bebas dalam tubuh.

3. Mendukung kesehatan hati

Sifat detoksifikasi basil yang kuat dapat mendukung kesehatan hati. Hati adalah organ yang sangat penting bagi tubuh karena memainkan peran penting dalam metabolisme.

Basil dapat membantu mencegah penumpukan lemak di hati dan menjaga kesehatan hati.

Manfaat Basil untuk Kesehatan

Ilustrasi memeriksa gula darah pada tubuh. Credit: pexels.com/PhotoMIX
Ilustrasi memeriksa gula darah pada tubuh. Credit: pexels.com/PhotoMIX

4. Mencegah penuaan kulit

Menurut penelitian yang diterbitkan pada 2011, basil memiliki khasiat yang dapat membantu melindungi kulit dari beberapa efek penuaan.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menerapkan ekstrak basil ke model kulit laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan memasukkan ekstrak basil ke krim kulit topikal dapat meningkatkan hidrasi kulit dan mengurangi kekasaran dan kerutan.

5. Menurunkan gula darah

Beberapa praktisi pengobatan tradisional merekomendasikan basil untuk membantu mengatur kadar gula darah. Sebuah studi tahun 2019 pada tikus menemukan ekstrak daun basil membantu menurunkan kadar gula darah tinggi.

Hasil penelitian juga menunjukkan daun basil dapat membantu mengobati efek gula darah tinggi jangka panjang. Jika penyelidikan lebih lanjut mengonfirmasi temuan ini, ekstrak basil terbukti berguna untuk penderita diabetes.

Manfaat Basil untuk Kesehatan

Ilustrasi infeksi. (dok. Pixabay/Novi Thedora)
Ilustrasi infeksi. (dok. Pixabay/Novi Thedora)

6. Meredakan peradangan dan bengkak

Pada 2017, para peneliti menganalisis sifat anti-inflamasi dari dua olahan minyak esensial basil. Menurut hasil penelitian itu, minyak basil dapat membantu mengobati berbagai penyakit yang melibatkan peradangan akibat stres oksidatif.

Minyak atsiri dalam basil, termasuk eugenol, linalool, dan sitronelol, dapat membantu melawan peradangan dalam tubuh. Sifat anti-inflamasi ini dapat membantu menurunkan risiko kondisi peradangan, seperti artritis. penyakit jantung, dan masalah usus.

7. Melawan infeksi

Berbagai praktisi pengobatan tradisional telah menggunakan basil sebagai agen antimikroba dan beberapa penelitian ilmiah mendukung penggunaannya.

Pada 2013, peneliti mengoleskan minyak basil ke berbagai strain Escherichia coli, atau E. coli. Bakteri tersebut berasal dari penderita infeksi saluran pernapasan, perut, kencing, atau kulit, serta dari peralatan rumah sakit.

Hasil penelitian menunjukkan minyak aktif melawan bakteri tersebut. Para peneliti menyimpulkan olahan tertentu dari minyak basil dapat membantu mengobati atau mencegah beberapa jenis infeksi.

Manfaat Basil untuk Kesehatan

Ilustrasi pencernaan. Credit: pexels.com/pixabay
Ilustrasi pencernaan. Credit: pexels.com/pixabay

8. Mendukung kesehatan kardiovaskular

Sebuah tinjauan tahun 2011 melaporkan temuan bahwa ekstrak basil secara singkat mengurangi tekanan darah tinggi, kemungkinan karena kandungan eugenol. Eugenol dapat memblokir saluran kalsium dalam tubuh, menurunkan tekanan darah tinggi.

Minyak esensial dalam basil dapat membantu menurunkan kolesterol dan trigliserida. Basil juga mengandung magnesium, yang dapat membantu memperlancar aliran darah dengan memungkinkan otot dan pembuluh darah menjadi rileks.

9. Menyehatkan pencernaan

Basil dapat memperlancar pencernaan secara optimal. Basil memperkuat sistem pencernaan dan saraf. Eugenol yang ada di daun memastikan tindakan anti-inflamasi di saluran pencernaan.

Basil juga membantu mengembalikan tingkat pH alami tubuh dan memberi makan bakteri sehat di dalam mikroflora usus. Flora usus yang sehat meningkatkan kekebalan dan meningkatkan pencernaan yang sehat.

10. Meningkatkan kesehatan mental

Minyak esensial basil dapat membantu mengatasi depresi dan kecemasan. Ramuan ini dipercaya dapat merangsang neurotransmitter yang mengatur hormon yang bertanggung jawab untuk mendorong kebahagiaan dan energi.

Basil dianggap sebagai adaptogen yang kuat atau agen anti stres. Sifat anti-inflamasi dan peningkat kekebalannya juga membantu mengelola stres.

Disadur dari: Liputan6.com (Penulis: Anugerah Ayu Sendari, Editor: Rizky Mandasari. Published: 30/11/2020)