10 Penyebab Kehamilan di Luar Rahim, Faktor Risiko dan Gejalanya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Penyebab kehamilan di luar rahim penting diketahui. Kehamilan di luar rahim atau kehamilan ektopik termasuk kondisi serius pada ibu dan janin. Penyebab kehamilan di luar rahim bisa berakibat fatal bagi ibu.

Biasanya penyebab kehamilan di luar rahim akan menimbulkan gejala pada beberapa minggu setelah kehamilan. Penting untuk memeriksakan penyebab kehamilan di luar rahim jika muncul gejala. Penyebab kehamilan di luar rahim perlu diwaspadai setiap wanita.

Ada sejumlah faktor risiko yang menjadi penyebab kehamilan di luar rahim. Berikut penyebab kehamilan di luar rahim, risiko, dan gejalanya, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa(14/09/2021).

Penyebab kehamilan di luar rahim secara umum

Ilustrasi Kehamilan Credit: pexels.com/Leah
Ilustrasi Kehamilan Credit: pexels.com/Leah

Penyebab kehamilan di luar rahim secara umum terjadi ketika pembuahan terjadi di luar rahim. Kehamilan normal terjadi ketika pembuahan terjadi di saluran tuba, di mana sel telur, atau ovum, bertemu dengan sel sperma. Telur yang telah dibuahi kemudian bergerak ke dalam rahim dan ditanamkan di lapisan rahim. Embrio berkembang menjadi janin dan tetap berada di dalam rahim sampai lahir.

Sementara pada kehamilan di luar rahim, pembuahan terjadi bukan pada rahim. Sebagian besar kehamilan ektopik terjadi di tuba falopi, tetapi bisa juga terjadi di leher rahim, di ovarium, atau di rongga perut. Embrio tidak dapat bertahan dari kehamilan ektopik.

Kehamilan ektopik sering disebabkan oleh kerusakan pada saluran tuba. Telur yang dibuahi mungkin mengalami kesulitan melewati tabung yang rusak, menyebabkan telur tertanam dan tumbuh di dalam tuba.

Faktor penyebab kehamilan di luar rahim

Ilustrasi Kehamilan Credit: pexels.com/Leah
Ilustrasi Kehamilan Credit: pexels.com/Leah

Kehamilan di luar rahim sebelumnya

Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya bisa menjadi faktor penyebab kehamilan di luar rahim. Jika ibu pernah mengalami jenis kehamilan ini sebelumnya, kemungkinan besar ia akan mengalaminya lagi. Siapa pun yang pernah mengalami kehamilan ektopik memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kehamilan ektopik lainnya.

Saluran tuba yang tidak normal

Tuba fallopi yang rusak atau bentuknya tidak beraturan merupakan salah satu faktor penyebab kehamilan di luar rahim. Perubahan struktur tuba fallopi atau struktur yang tidak teratur dapat mempersulit telur untuk melewatinya. Ini dapat meningkatkan risiko implantasi embrio di luar rahim. Kelainan anatomi saluran tuba dapat membuat implantasi di saluran tuba lebih mudah terjadi.

Faktor penyebab kehamilan di luar rahim

Ilustrasi Ibu Hamil Credit: pexels.com/Alicia
Ilustrasi Ibu Hamil Credit: pexels.com/Alicia

Peradangan atau infeksi

Riwayat peradangan dan infeksi pada saluran tuba, rahim, atau ovarium dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik. Beberapa infeksi menular seksual (IMS) , seperti gonore atau klamidia , meningkatkan risiko terkena penyakit radang panggul (PID). Memiliki PID dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik.

Endometriosis

Wanita yang menderita endometriosis memiliki peningkatan risiko penyebab kehamilan di luar rahim. Endometriosis dapat mengakibatkan pembentukan jaringan parut dan perlengketan yang dapat mengganggu kemampuan sel telur yang telah dibuahi untuk mencapai rahim.

Faktor penyebab kehamilan di luar rahim

Ilustrasi Kehamilan Credit: pexels.com/Melanie
Ilustrasi Kehamilan Credit: pexels.com/Melanie

Riwayat bedah tuba

Pembedahan untuk memperbaiki tuba fallopi yang tertutup atau rusak dapat meningkatkan risiko penyebab kehamilan di luar rahim. Dilansir dari Verywellfamily, sekitar sepertiga wanita yang hamil setelah ligasi tuba akan mengalami kehamilan ektopik. Selain itu, menurut Medical News Today, melahirkan sesar atau pengangkatan fibroid sebelumnya meningkatkan risiko kehamilan ektopik.

Riwayat infertilitas

Beberapa faktor medis yang menyebabkan infertilitas mungkin juga membuat kehamilan ektopik lebih mungkin terjadi. Selain itu, diperkirakan bahwa beberapa obat yang biasa digunakan untuk mengobati infertilitas dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik.

Selain itu, menurut Mayo Clinic, beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita yang menjalani fertilisasi in vitro (IVF) atau perawatan serupa lebih mungkin mengalami kehamilan ektopik.

Faktor penyebab kehamilan di luar rahim

Ilustrasi Kehamilan Credit: pexels.com/Michelle
Ilustrasi Kehamilan Credit: pexels.com/Michelle

Usia

Semakin bertambah usia, semakin tinggi risiko penyebab kehamilan di luar rahim. Risiko kehamilan ektopik terus meningkat seiring bertambahnya usia, dengan ibu di atas 40 tahun memiliki risiko tertinggi.

Merokok

Merokok juga dapat meningkatkan risiko penyebab kehamilan di luar rahim. Merokok sebelum hamil dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik. Semakin banyak merokok, semakin besar risikonya.

Faktor penyebab kehamilan di luar rahim

Ilustrasi Kehamilan Credit: pexels.com/Allef
Ilustrasi Kehamilan Credit: pexels.com/Allef

Aborsi elektif

Wanita yang telah melakukan dua atau lebih aborsi elektif mungkin memiliki sedikit peningkatan risiko kehamilan ektopik, meskipun penelitian tentang hal ini tidak meyakinkan.

Alat kontasepsi

Menurut Mayo Clinic, peluang hamil saat menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) jarang terjadi. Namun, jika terjadi kehamilan saat menggunakan IUD, kemungkinan besar akan terjadi ektopik. Ligasi tuba, metode pengendalian kelahiran permanen yang biasa dikenal sebagai "mengikat tuba," juga meningkatkan risiko penyebab kehamilan di luar rahim, jika hamil setelah prosedur ini.

Gejala kehamilan di luar rahim

Ilustrasi Kehamilan Credit: pexels.com/Camylla
Ilustrasi Kehamilan Credit: pexels.com/Camylla

Pada awal kehamilan, tanda atau gejala kehamilan di luar rahim mungkin belum terlihat. Gejala kehamilan di luar rahim dapat berkembang pada awal minggu ke-4 dan hingga minggu ke-12 kehamilan. Menurut Medical News Tofay, gejala lebih umum muncul pada minggu ke 6–9.

Gejala kehamilan di luar rahim bisa termasuk:

- Nyeri di perut, sering terjadi di daerah panggul bawah.

- Pendarahan vagina, yang mungkin lebih terang atau lebih gelap dari cairan menstruasi. Mungkin juga kurang kental.

- Nyeri bahu yang bisa mengindikasikan pendarahan internal. Pendarahan dapat mengiritasi saraf frenikus, yang menyebabkan rasa sakit.

- Jika sel telur yang telah dibuahi terus tumbuh di tuba falopi, dapat menyebabkan tuba pecah. Pendarahan hebat di dalam perut mungkin terjadi. Gejala dari peristiwa yang mengancam jiwa ini termasuk kepala sangat ringan, pingsan, dan syok.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel