10 Ribu Warga China Kabur dari Myanmar Akibat COVID-19, Instabilitas Politik

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Ruili - Lebih dari 10 ribu warga China berusaha pergi dari Myanmar karena kondisi negara yang tidak stabil. Kondisi pandemi COVID-19 di Myanmar sedang memburuk, serta situasi politik masih bergejolak.

Warga China pun menyerbut kota Ruili yang menjadi perbatasan kedua negara. Namun, akses pulang ke China dibatasi karena regulasi COVID-19, demikian laporan media China, Global Times, Sabtu (2/10/2021).

Arus warga China sudah dimulai sejak Juni 2021. Saat ini, ada 10 ribu orang yang masih menunggu di perbatasan. Tiap harinya, warga yang diizinkan masuk hanya sekitar 100 orang.

Mereka pun harus ikut tes PCR dahulu. Yang ternyata positif harus dikirim ke fasilitas perawatan, sementara yang negatif harus karantina.

Kota Ruili juga kewalahan karena terkena ancaman lonjakan kasus COVID-19 karena aliran warga yang masuk ke daerah mereka.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Dampak ke Perbatasan

Ilustrasi Bendera China (AFP/STR)
Ilustrasi Bendera China (AFP/STR)

Kota Ruili berada di provinsi Yunnan, dan merupakan perbatasan langsung denga Myanmar.

Posisi kota ini memungkinkan warga China bisa pulang lewat jalur darat.

Efeknya, Ruili tak hanya kewalahan karena administrasi warganya ang pulang, tetapi terkena masalah di layanan kesehatan.

"Oang-orang tersebut memberikan tekanan yang berat kepada kinerja pengendalian pandemi Ruili, sekarang kota ini menghadapi risiko infeksi impor dan domestik, ditambah lagi ini membebankan tanggung jawab kepada manajemen karantina," ujar seorang pejabat customs.

Sebelumnya, Ruili menghadapi beberapa gelombang COVID-19. Pada April lalu, pejabat Partai Komunis China di Yunnan bahkan dipecat karena ada lonjakan kasus di Ruili.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel