10 tahun menebar teror, akankah eksistensi kelompok teroris Poso berakhir setelah ditinggal banyak tokoh kuncinya?

<span>Banner daftar pencarian orang (DPO) terduga teroris.</span> <span><span>Rani Dwi Putri/CSPS UGM</span>, <span>Author provided</span></span>
Banner daftar pencarian orang (DPO) terduga teroris. Rani Dwi Putri/CSPS UGM, Author provided

Serangkaian penangkapan puluhan anggota, simpatisan, serta tokoh kunci jejaring kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), ditambah dengan kematian pimpinan mereka, Ali Kalora, seakan memberikan signal yang positif untuk benar-benar mengakhiri eksistensi kelompok tersebut.

MIT yang merupakan kelompok ekstremis Islam ini diketahui beroperasi di Poso, Sulawesi Tengah, dan telah menyebar teror selama 10 tahun terakhir .

Meski keberadaan MIT semakin surut, di masa depan, ideologi ekstremisme masih menjadi ancaman di Poso. Pemerintah perlu mengintensifkan program-program deradikalisasi yang menyasar kelompok perempuan dan anak-anak untuk meredam ancaman ini.

Krisis kepemimpinan

Pada Mei 2022, Datasemen Khusus (Densus) 88 menangkap 24 orang yang diduga terlibat dalam kelompok MIT. Peran mereka bermacam-macam, mulai dari penyembunyian informasi, pemberian bantuan logistik, hingga perencanaan untuk memperkuat formasi MIT setelah kematian Ali Kalora, pimpinan kelompok tersebut setelah Santoso.

Ali tewas pada 18 September 2021 dalam baku tembak dengan Satuan Tugas (Satgas) Operasi Madago Raya, operasi militer gabungan TNI dan Polri (dulu bernama Tinombala) untuk menangkap kelompok MIT.

Belum sempat muncul pimpinan baru, Satgas Madago Raya kembali menembak mati dua anggota MIT pada Januari 2022 dan April 2022. Operasi ini menyisakan satu anggota yang masih buron, yaitu Askar alias Jaid alias Pak Guru.

Pada 2020, Densus 88 menangkap Sutomo bin Sudarso alias Ustad Yasin untuk ketiga kalinya. Yasin adalah salah satu pendiri MIT yang aktif menyuplai dan mempersiapkan calon-calon anggota. Ia juga merupakan pimpinan lokal Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), kelompok militan Islam.

Bersama dengan istrinya, Yasin memimpin pengajian-pengajian khusus yang bertujuan untuk memupuk ideologi ekstremisme, serta mengelola pondok pesantren Darul Anshor Putri di Kayamanya, Poso, salah satu sekolah untuk anak-anak anggota MIT.

Selain pemahaman agama yang dianggap kuat, pengalaman dua kali masuk penjara yang tidak melunturkan ideologinya membuat para anggota MIT beserta keluarga mereka menghormati sosok Yasin. Inilah mengapa Yasin menjadi salah satu magnet untuk menarik banyak anggota baru untuk MIT.

Tertangkapnya Yasin menandakan bahwa MIT kehilangan “mesin produksi”, pencetak calon-calon mujahidin, sekaligus juga sosok ideolog senior yang disegani.

MIT juga harus kehilangan dua aktor terpenting yang menambah krisis, sekaligus menandakan kondisi terburuk dalam sejarah eksistensi kelompok ini.

Hilangnya gairah jihad

Pada 2021 lalu, Basri alias Bagong, satu-satunya komandan di MIT yang masih hidup dan eks tangan kanan Santoso, mengucapkan ikrar setia kepada NKRI, menandakan keputusannya meninggalkan ideologi dan kelompok ekstremisme kekerasan tersebut.

Sebelumnya, Basri secara terang-terangan mengimbau Ali Kalora dan anggotanya untuk menyerahkan diri ke polisi. Tapi imbauannya tidak membuahkan hasil.

Imbauan dan ‘kembalinya’ Basri ke NKRI berdampak cukup signifikan terhadap keberlangsungan kelompok MIT.

Pertama, setelah kematian Ali, Basri menjadi satu-satunya komandan senior di MIT dan menjadi kandidat pimpinan paling potensial. Sampai saat ini, belum ada aktor yang muncul sebagai calon pimpinan baru MIT. Terlebih lagi, anggota dan para simpatisan yang tersisa dianggap belum cukup berpengalaman.

Kedua, Basri menambah deretan tokoh jihadis lokal yang akhirnya keluar dari kelompok ekstremisme.

Istilah jihadis pada dasarnya merujuk pada orang yang terlibat dalam aktivitas memperjuangkan syariat Islam. Dalam konteks terorisme, jihadis biasanya digunakan untuk menyebut anggota yang siap berperang untuk menegakkan syariat Islam – dengan definisi ‘syariat’ yang berdasarkan pemahaman kelompok mereka sendiri.

Radikalisasi masyarakat lokal di Poso sendiri tidak bisa dipisahkan dari konflik komunal antara komunitas Muslim dan Kristiani yang terjadi selama tahun 1998-2001. Konflik berdarah ini kemudian menjadi magnet bagi banyak kelompok militan Islam, seperti Jamaah Islamiyah (JI) dan Mujahidin Komite Penanggulangan Krisis (KOMPAK) yang merupakan organisasi sayap JI, untuk datang ke Poso. Mereka turut membangun camp pelatihan untuk penduduk lokal.

Camp tersebut tidak hanya menyediakan pembekalan kemampuan militer, tapi juga memberikan materi-materi seputar jihad. Pada saat itu, komunitas Muslim lebih banyak menjadi korban berbagai konflik yang terjadi di Poso. Akhirnya kelompok militan Islam tidak sulit melakukan, bahkan mempercepat, penetrasi paham ekstremisme kekerasan terhadap penduduk lokal.

Basri adalah satu di antara puluhan penduduk lokal yang menjadi bagian dari proses tersebut. Selain tempat tinggalnya yang hangus terbakar, Basri juga kehilangan dua saudara kandungnya dalam konflik. Alasan ini disebut-sebut sebagai motivasi utama Basri bergabung dengan MIT.

Kematian dan penangkapan para petinggi kelompok, ditambah sejumlah tokoh-tokoh senior yang memutuskan ‘kembali’ ke NKRI dan meninggalkan paham ekstremisme, lambat laun memudarkan gairah jihadis para anggota MIT. Mereka seakan kehilangan arah dan nyawa utama dari kelompok itu.

Saatnya memberantas sampai akar

Riset yang dilakukan oleh Center for Security and Peace Studies (CSPS) Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2019-2021 mengenai agensi perempuan dalam lingkaran ekstremisme kekerasan di Poso menemukan bahwa sejumlah istri para anggota MIT justru memiliki ideologi ekstremisme yang lebih kuat.

Mereka seringkali memengaruhi suaminya untuk memegang teguh ideologi ekstremisme atau gairah jihadnya. Bahkan, beberapa dari mereka akan meminta cerai jika suaminya memutuskan untuk kembali ke NKRI. Ancaman ini yang sering kali mengurungkan niat beberapa narapidana terorisme untuk meninggalkan kelompoknya.

Anak-anak dari para anggota MIT juga mewarisi ideologi ekstremisme yang ditanamkan oleh orang tuanya. Jika dibiarkan, anak-anak ini berpotensi menjadi mujahidin-mujahidin baru yang menghidupkan kembali eksistensi MIT.

Fakta ini menegaskan bahwa selain operasi militer, program-program deradikalisasi yang menyasar kelompok perempuan dan anak-anak penting dilakukan untuk benar-benar memutus rantai terorisme di Poso.

Program pemberdayaan ekonomi bagi kelompok perempuan bisa menjadi salah satu alternatif untuk mendorong mereka keluar dari kelompok dan ideologinya. Meskipun terkesan sebagai pendekatan klasik, pada kenyataannya, terutama di Poso, ekonomi dan kemiskinan masih menjadi salah satu faktor pendorong perempuan ke dalam lingkaran ekstremisme kekerasan.

Laporan Monash University’s Gender, Peace and Security bersama UN Women(2018) mengungkapkan bahwa pemberdayaan ekonomi di kalangan perempuan akan mengurangi ketegangan dalam keluarga dan komunitasnya, dan dengan demikian berkontribusi pada masyarakat yang lebih damai dan tangguh.

Selaras dengan persoalan ekonomi yang seringkali menimpa para simpatisan MIT, pemberian bantuan dana pendidikan merupakan salah satu solusi untuk memutus rantai ideologi ekstremisme anak-anak di kelompok tersebut. Solusi ini setidaknya dapat mencegah para anak-anak di lingkaran kelompok MIT kembali bersekolah di lembaga-lembaga pendidikan yang berasosiasi dengan jejaring kelompok ekstremisme kekerasan - yang justru seringkali menawarkan banyak pembebasan biaya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel