10 Vaksin COVID-19 dengan Izin Penggunaan Darurat dari Badan POM, Beserta Penjelasannya

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta 10 jenis vaksin Covid-19 sudah mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia. Jenis-jenis vaksin tersebut di antaranya Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer, Novavax, Sputnik-V, Janssen, Convidencia, dan Zifivax.

Semua jenis vaksin Covid-19 tersebut memiliki mekanisme tersendiri untuk pemberiannya. Baik dari jumlah dosis, interval pemberian, hingga platform vaksin tersebut berbeda-beda. Platform vaksin tersebut di antaranya inactivated virus, berbasis RNA, viral-vector, dan sub-unit protein.

Vaksin Covid-19 yang sudah mendapatkan izin penggunaan darurat dari BPOM ini tentunya sudah dipastikan keamanan dan efektivitasnya. Oleh karena itu, kamu bisa tenang untuk segera melakukan vaksinasi agar terhindar dari Covid-19.

Berikut Liputan6.com rangkum dari covid19.go.id, Selasa (28/12/2021) tentang vaksin Covid-19 dengan izin penggunaan darurat dari Badan POM.

Vaksin COVID-19 dengan Izin Penggunaan Darurat dari Badan POM

Ilustrasi vaksin COVID-19 (Source: Pexels/Artem Podres)
Ilustrasi vaksin COVID-19 (Source: Pexels/Artem Podres)

1. Sinovac

Sinovac adalah sebuah vaksin inaktivasi terhadap COVID-19 yang menstimulasi sistem kekebalan tubuh tanpa risiko menyebabkan penyakit. Setelah vaksin inaktivasi ini bersentuhan dengan sistem kekebalan tubuh, produksi antibodi terstimulasi, sehingga tubuh siap memberikan respons terhadap infeksi dengan SARS-CoV-2 hidup. Vaksin ini mengandung ajuvan (aluminium hidroksida), untuk memperkuat respons sistem kekebalan.

Jadwal yang direkomendasikan:

2 dosis (masing-masing 0,5 mL) dengan interval 2 hingga 4 minggu:

Dosis 1: tanggal pemberian awal.

Dosis 2: 14 hingga 28 hari setelah dosis pertama.

2. AstraZeneca

AstraZeneca adalah vaksin vektor adenovirus non-replikasi untuk COVID-19. Vaksin ini mengekspresikan gen protein paku SARS-CoV-2, yang menginstruksikan sel inang untuk memproduksi protein S-antigen yang unik untuk SARS-CoV-2, sehingga tubuh dapat menghasilkan respons imun dan menyimpan informasi itu di sel imun memori. Efikasi dalam uji-uji klinis pada peserta yang menerima vaksin ini dengan lengkap (dua dosis) di Inggris, Brazil, dan Afrika Selatan tanpa memandang interval dosis adalah 61%, dengan median masa pengamatan 80 hari, tetapi cenderung lebih tinggi jika interval ini lebih panjang. Data tambahan dari analisisanalisis interim atas uji klinis di Amerika Serikat menunjukkan efikasi vaksin 76% terhadap infeksi SARS-CoV-2 simtomatik.

Jadwal yang direkomendasikan:

2 dosis (masing-masing 0,5 mL), WHO merekomendasikan interval 8–12 minggu:

Dosis 1: tanggal pemberian awal.

Dosis 2: delapan hingga 12 minggu setelah dosis pertama.

Vaksin COVID-19 dengan Izin Penggunaan Darurat dari Badan POM

Ilustrasi Vaksin Virus Corona COVID-19. (File foto: AFP / John Cairns)
Ilustrasi Vaksin Virus Corona COVID-19. (File foto: AFP / John Cairns)

3. Sinopharm

Sinopharm adalah sebuah vaksin inaktivasi terhadap COVID-19 yang menstimulasi sistem kekebalan tubuh tanpa risiko menyebabkan penyakit. Setelah vaksin inaktivasi ini bersentuhan dengan sistem kekebalan tubuh, produksi antibodi terstimulasi, sehingga tubuh siap memberikan respons terhadap infeksi dengan SARS-CoV-2 hidup.

Vaksin ini mengandung ajuvan (aluminium hidroksida), untuk memperkuat respons sistem kekebalan. Sebuah uji klinis fase 3 besar menunjukkan bahwa dua dosis dengan interval 21 hari memiliki efikasi 79% terhadap infeksi SARS-CoV-2 simtomatik pada 14 hari atau lebih setelah dosis kedua. Uji klinis ini tidak dirancang maupun cukup kuat untuk menunjukkan efikasi terhadap penyakit berat.

Jadwal yang direkomendasikan:

2 dosis (masing-masing 0,5 mL) dengan interval tiga hingga empat minggu:

Dosis 1: tanggal pemberian awal.

Dosis 2: 21 hingga 28 hari setelah dosis pertama.

4. Moderna

Vaksin COVID-19 Moderna adalah sebuah vaksin berbasis RNA duta (messenger RNA/mRNA) untuk COVID-19. Sel inang menerima instruksi dari mRNA untuk memproduksi protein S-antigen unik SARS-CoV-2, sehingga tubuh dapat menghasilkan respons kekebalan dan menyimpan informasi itu di dalam sel imun memori.

Efikasi menurut uji-uji klinis pada peserta yang menerima dosis lengkap vaksin ini (dua dosis) dan memiliki status awal SARS-CoV-2 negatif adalah sekitar 94% dengan median masa pengamatan sembilan minggu. Semua data yang dikaji mendukung kesimpulan bahwa manfaat yang diketahui dan potensial dari vaksin mRNA-1273 lebih besar dibandingkan risiko diketahui dan potensialnya.

Jadwal yang direkomendasikan:

2 dosis (100 μg, masing-masing 0,5 mL), dengan rekomendasi interval 28 hari:

Dosis 1: tanggal pemberian awal.

Dosis 2: 28 hari setelah dosis pertama.

5. Pfizer

COMIRNATY® adalah sebuah vaksin berbasis RNA duta (messenger RNA/mRNA) untuk COVID-19. mRNA menginstruksikan sel untuk memproduksi protein S-antigen (bagian dari protein paku (spike)) yang unik untuk SARS-CoV-2 untuk menstimulasi respons kekebalan. Dalam uji-uji klinis, efikasi pada peserta dengan atau tanpa bukti infeksi SARS-CoV-2 sebelumnya dan yang menerima dosis lengkap vaksin ini (dua dosis) diperkirakan 95% dengan median masa pengamatan dua bulan.

Jadwal yang direkomendasikan:

2 dosis, direkomendasikan dengan interval 21–28 hari:

Dosis 1: tanggal pemberian awal.

Dosis 2: 21–28 hari setelah dosis pertama.

Vaksin COVID-19 dengan Izin Penggunaan Darurat dari Badan POM Lainnya

Ilustrasi Vaksinasi.
Ilustrasi Vaksinasi.

6. Novavax

Platform vaksin Novavax adalah Protein Sub-unit.

Jadwal yang direkomendasikan:

Jeda Pemberian Dosis : 21 Hari

Jumlah Dosis: 2 x (0,5 ml/dosis)

7. Sputnik-V

Platform vaksin Sputnik-V adalah Non-replicating viral vector. Efek samping dari penggunaan Sputnik-V merupakan efek samping dengan tingkat keparahan ringan atau sedang seperti flu yang ditandai dengan demam, menggigil, nyeri sendi, nyeri otot, badan lemas, ketidaknyamanan, sakit kepala, hipertermia, atau reaksi lokal pada lokasi injeksi.

Jadwal yang Direkomendasikan :Jeda Pemberian Dosis : 21 Hari

Dosis 1: (0,5 ml/dosis)

Dosis 2: (0,5 ml/dosis)

8. Janssen

Platform vaksin Janssen adalah Non-replicating viral vector. Vaksin Janssen ini merupakan jenis vaksin dengan dosis tunggal, dengan pemberian dosis 1: (0,5 ml/dosis).

9. Convidencia

Platform vaksin Janssen adalah Non-replicating viral vector. Sementara itu, vaksin Convidecia juga menunjukkan reaksi ringan hingga sedang. KIPI lokal yang umum terjadi, antara lain adalah nyeri, kemerahan, dan pembengkakan, serta KIPI sistemik yang umum terjadi adalah sakit kepala, rasa lelah, nyeri otot, mengantuk, mual, muntah, demam dan diare. Vaksin ini juga merupakan jenis vaksin dengan dosis tunggal, dengan dosis 1: (0,5 ml/dosis).

10. Zifivax

Platform vaksin Zifivax adalah Rekombinan protein sub-unit. Efek samping pemberian vaksin Zifivax antara lain timbul nyeri pada tempat suntikan, sakit kepala, kelelahan, demam, nyeri otot (myalgia), batuk, mual (nausea), diare dengan tingkat keparahan grade 1 dan 2.

Jadwal yang direkomendasikan:

Jeda Pemberian Dosis : 3 x 30 Hari

Dosis 1: (0,5 ml/dosis)

Dosis 2: (0,5 ml/dosis)

Dosis 2: (0,5 ml/dosis)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel