100 Hari Berkuasa, Taliban Masih Cari Pengakuan Internasional

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Kabul - Taliban menerobos masuk ke ibu kota Afghanistan pada 15 Agustus 2021. Presiden Ashraf Ghani dan famili langsung melarikan diri, meninggalkan nasib jutaan rakyat kepada Taliban.

Pada Selasa (23/11), Taliban mencapai 100 hari berkuasa. Kekuasaan telah berhasil diraih Taliban, tetapi pengakuan tak kunjung didapat. Para utusan Taliban harus mondar-mandir bertemu delegasi Amerika Serikat, Rusia, hingga China.

Diplomasi Taliban masih terbatas negara-negara tetangga, seperti Pakistan.

"Kebijakan diplomasi dan luar negeri Emirat Islam terbatas ke beberapa negara tetangga dan regional selama 100 hari. Negara-negara masih menunggu apakah Taliban akan memenuhi apa-apa yang ia telah janjikan tempo hari atau tidak," ujar Fakhruddin Qarizada, mantan penasihat Kemlu Afghanistan, dikutip Tolo News, Rabu (24/11/2021).

Sejauh ini, negara-negara yang memfasilitasi pertemuan internasional dengan Taliban, yakni Iran, Pakistan, India, Rusia, dan China.

China meminta agar dunia internasional bersikap pragmatis terhadap Taliban.

Hingga kini ,ada 11 negara yang kedubesnya masih buka di Afghanistan, yakni Iran, Pakistan, China, Russia, Turki, Qatar, Uzbekistan, Turkmenistan, Kazakhstan, Kirgizstan, Italia dan Uni Emirat Arab.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Taliban Ingin Mengirim Dubes

Sejumlah pasukan Taliban saat menaiki perahu kayuh di Danau Qargha di sebuah pekan raya di Kabul barat (28/9/2021). Sambil membawa senjata laras panjang sambil berjaga, mereka mengayuh perahu bebek memutari danau. (AFP/Wakil Kohsar)
Sejumlah pasukan Taliban saat menaiki perahu kayuh di Danau Qargha di sebuah pekan raya di Kabul barat (28/9/2021). Sambil membawa senjata laras panjang sambil berjaga, mereka mengayuh perahu bebek memutari danau. (AFP/Wakil Kohsar)

Pemerintahan Taliban berencana mengirimkan para duta besar ke berbagai negara. Para dubes pilihan Taliban itu akan menggantikan dubes Afghanistan yang dipilih rezim sebelumnya.

Ini artinya duta besar pilihan Taliban juga berpotensi masuk Indonesia.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) di Indonesia masih enggan berkomentar banyak mengenai wacana kehadiran diplomat Taliban ke Indonesia, serta menyiratkan akan memantau situasi terlebih dahulu.

"Kita tunggu saja ya pada waktunya," terang jubir Kemlu, Teuku Faizasyah, kepada Liputan6.com.

Mantan Dubes Afghanistan di Norwegia, Shukria Barakzai, menyebut mengirim utusan diplomatik tidaklah mungkin kecuali Taliban diakui negara-negara yang dituju.

"Mengangkat orang-orang baru untuk misi-misi diplomatik tidaklah mungkin kecuali pemerintahan Taliban diakui oleh negara-negara di mana mereka ingin mengangkat orang-orang bari," ujarnya seperti dikutip Tolo News.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel