11 Dampak Buruk Paparan Sinar UV, Merusak Sistem Kekebalan Tubuh

·Bacaan 7 menit

Liputan6.com, Jakarta Memahami dampak buruk paparan sinar UV penting sekali bagi manusia. Apalagi sumber utama paparan sinar UV adalah matahari, yang setiap hari muncul di Indonesia karena berada di garis katulistiwa.

Pada dasarnya sinar matahari dapat membantu manusia memproduksi vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Akan tetapi, sinar UV yang bisa memberikan manfaat ada di saat-saat tertentu saja, yakni pagi hari saat belum terik sekali atau maksimal pukul 10.00 pagi.

Ada tiga jenis sinar UV yang perlu diketahui, yakni UVA (keriput pada lapisan dermis), UVB (sengatan matahari pada lapisan epidermis), dan UVC (peradangan dan iritasi). Nah, dampak buruk paparan sinar UV berlebihan berasal dari tiga jenis sinar ini.

Selain membahayakan kesehatan kulit, dampak buruk paparan sinar UV juga berisiko menyerang sistem kekebalan tubuh, mata, dan rambut manusia. Lebih jelasnya, berikut Liputan6.com ulas dampak buruk paparan sinar UV dari berbagai sumber, Rabu (3/2/2021).

Dampak Buruk Paparan Sinar UV

Ilustrasi mata | (dok. Bacila Vlad/Unsplash.com)
Ilustrasi mata | (dok. Bacila Vlad/Unsplash.com)

Merusak Mata

Dampak buruk paparan sinar UV yang pertama adalah berisiko bagi kesehatan mata. Terutama untuk paparan yang berkepanjangan. Jaringan mata bisa rusak dan dampak buruk paparan sinar UV dapat membuat permukaan mata terbakar.

Istilah permukaan mata terbakar dari dampak buruk paparan sinar UV adalah fotokeratitis. Efeknya memang bisa hilang dalam beberapa hari, tetapi komplikasinya masih menyerang di kemudian hari.

Pada tahun 1998, Journal of American Medical Association melaporkan sedikit saja sinar matahari dapat meningkatkan risiko kerusakan mata. Dampak buruk paparan sinar UV bagi mata dapa memicu katarak, kebutaan, pterigium, dan pinguekula. Sifatnya kumulatif, jadi tidak ada kata terlambat untuk mulai melindunginya.

Sunburn

Dampak buruk paparan sinar UV yang kedua adalah sunburn. Sunburn atau kulit terbakar matahari merupakan istilah untuk kulit merah, bengkak, dan menyakitkan. Kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan kulit yang ringan sampai berat.

Sunburn disebut sebagai dampak buruk paparan sinar UV yang memiliki faktor risiko serius untuk kanker kulit. Dalam beberapa kasus, kulit melepuh bisa terjadi. Maka dari itu mulai hindari sinar matahari berlebihan agar sunburn tidak terjadi.

Dampak Buruk Paparan Sinar UV

Ilustrasi Rambut | Credit: unsplash.com/Prior
Ilustrasi Rambut | Credit: unsplash.com/Prior

Age Spots

Dampak buruk paparan sinar UV yang ketiga adalah age spots atau solar lentigines. Pada kondisi ini, sinar UV menjadikan kulit berbintik dalam jangka waktu lama. Meski dampak buruk paparan sinar UV ini tidak berbahaya, tetapi dapat mengganggu penampilan.

Ukuran bintiknya bervariasi dan biasanya muncul di wajah, tangan, bahu, dan lengan. Pada beberapa kasus, dampak buruk paparan sinar UV seperti age spots berbentuk datar dan oval dengan peningkatan pigmentasi. Biasanya berwarna cokelat atau hitam.

Age spots merupakan dampak buruk paparan sinar UV yang sangat umum pada orang dewasa usia lebih dari 50 tahun. Namun tidak menutup kemungkinan yang lebih muda juga bisa mendapatkannya, terutama jika mereka menghabiskan banyak waktu di bawah sinar matahari.

Merusak Rambut

Tidak hanya berdampak buruk bagi mata dan kulit, tetapi rambut juga berisiko terkena dampak buruk paparan sinar UV. Sinar UVA dan UVB dari matahari dapat merusak lapisan terluar rambut yang terdiri atas keratin dan melanin.

Apabila paparan terjadi dalam waktu yang lama, rambut dapat kehilangan kelembapan alami dan strukturnya melemah. Akhirnya dampak buruk paparan sinar UV membuatnya terlihat kering, rapuh, dan susah diatur.

Dampak buruk paparan sinar UV bagi rambut akan merubah warnanya. Rambut hitam menjadi kekuningan, yang berwarna menjadi pudar dan membuatnya terlihat kusam. Bahkan kerontokan dan ketombe sangat mungkin mucul karena sunburn di kulit kepala.

Dampak Buruk Paparan Sinar UV

Ilustrasi Kekebalan Tubuh | Credit: unsplash.com/Ben
Ilustrasi Kekebalan Tubuh | Credit: unsplash.com/Ben

Kulit Gelap dan Kusam

Dampak buruk paparan sinar UV yang kelima adalah kulit menjadi gelap dan kusam. Sudah jelas kondisi kulit yang demikian menunjukkan kondisi yang tidak sehat. dampak buruk paparan sinar UV ini terjadi karena sel pigmen di kulit melepaskan pigmennya.

Pelepasan pigmen merupakan respons alami pertahanan kulit dalam rangka memberikan lapisan perlindungan tambahan. Bila hal ini terus terjadi, kulit bisa menjadi lebih gelap. Pada waktu yang bersamaan, kondisi kulit kusam akan menyerang.

Kulit yang kusam karena dampak buruk paparan sinar UV dipengaruhi proses penuaan dini yang terjadi. Ada proliferasi sel kulit akibat sinar UV, menyebabkan lapisan epidermis pada kulit menebal dan membuat kulit terlihat kusam.

Melasma

Melasma merupakan dampak buruk paparan sinar UV yang perlu diwaspadai. Kondisi ini disebut sebagai kelainan pigmentasi yang menyebabkan munculnya bercak coklat atau abu-abu di kulit, terutama wajah.

Menurut American Academy of Dermatology, hanya 10 persen dari semua kasus melasma terjadi pada pria. Wanita dengan kulit yang lebih gelap dan yang hamil berisiko lebih besar terkena melasma.

Gejala utama dampak buruk paparan sinar UV adalah perkembangan bercak kulit yang berubah warna. Memang tidak menyebabkan gejala fisik lain, tetapi mengganggu penampilan. Pemicu potensial untuk melasma, yakni paparan sinar matahari.

Merusak Sistem Kekebalan

Memenuhi asupan vitamin D dari matahari memang penting sekali, tetapi tidak saat siang dan terik. Sinar matahari hanya baik saat pagi hari, yakni pukul 6.00 sampai 10.00.

Apabila berjemur pada saat yang terik sekali, dapat dipastikan dampak buruk paparan sinar UV akan merusak sistem kekebalan tubuh. Para ilmuwan percaya bahwa sengatan matahari dapat mengubah distribusi dan fungsi sel darah putih.

Padahal sel ini yang melawan penyakit pada manusia hingga 24 jam setelah terpapar sinar matahari. Paparan sinar ultraviolet yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh. Jangan dianggap sepele, ya!

Dampak Buruk Paparan Sinar UV

Ilustrasi Gatal | Credit: freepik.com
Ilustrasi Gatal | Credit: freepik.com

Fotosensitivitas

Dampak buruk paparan sinar UV yang kedelapan adalah fotosensitivitas. Kondisi ini berpotensi bagi yang merasa alergi dengan sinar UV saja.

Beberapa orang memiliki kecenderungan sensitif terhadap sinar UV. Alhasil, ketika terpapar sinar UV dalam jumlah kecil, dapat memicu reaksi alergi dengan memunculkan ruam dan luka bakar derajat sedang hingga berat.

Dalam istilah medis, kondisi ini sering disebut sebagai fotodermatosis. Fotodermatosis sendiri terbagi menjadi banyak tipe, tetapi tipe yang paling sering adalah polymorphic light eruption (PLE).

Gejalanya dampak buruk paparan sinar UV ini berupa:

1. Bercak kemerahan (eritema) dan disertai rasa gatal.

2. Bercak tersebut akan menetap hingga beberapa hari dan berubah menjadi bengkak dan bentol seperti biduran.

3. Pada beberapa orang, bisa menjadi lenting yang berisi air.

Solar Elastosis

Dampak buruk paparan sinar UV yang kesembilan adalah solar elastosis. Pada dasarnya, radiasi ultraviolet bisa memecah jaringan ikat kulit seperti kolagen dan serat elastin pada lapisan kulit yang lebih dalam (dermis).

Bila tidak ada jaringan ikat yang mendukung akibat dampak buruk paparan sinar UV, kulit akan kehilangan kekuatan dan fleksibilitasnya. Kondisi ini, dikenal sebagai solar elastosis atau elastosis aktinik.

Solar elastosis sebagai dampak buruk paparan sinar UV ditandai oleh lipatan vertikal, kering, kerutan dalam, dan kulit kendur. Salah satu yang paling mudah diidentifikasi adalah kulit yang menebal.

Strategi pencegahan paling efektif untuk mencegah kondisi ini adalah meminimalkan terkena paparan sinar matahari secara langsung, melalui penggunaan tabir surya. Batasi waktu berjemur sesuai dengan aturannya.

Dampak Buruk Paparan Sinar UV

Ilustrasi kanker | Foto oleh Ave Calvar Martinez dari Pexels
Ilustrasi kanker | Foto oleh Ave Calvar Martinez dari Pexels

Keratosis Aktinik

Banyak orang sudah paham bahwa sinar matahari berpotensi menyebabkan kanker kulit. Akan tetapi sebelum benar-benar menjadi kanker, dampak buruk paparan sinar UV akan menyebabkan keratosis aktinik atau solar keratosis.

Dampak buruk paparan sinar UV keratosis aktinik adalah pertumbuhan prakanker dengan paparan sinar ultraviolet jangka panjang. Pra-kanker merupakan tahap awal sel dapat berkembang menjadi kanker bila tidak mendapat penanganan tepat.

Ukuran keratosis aktinik bervariasi dari kecil hingga satu inci atau lebih dengan diameter. Variasi warnanya berkisar dari terang ke gelap. Gejala biasanya terbatas pada bercak bersisik dan kulit berkerak dengan diameter kurang dari 1 inci (2,5 cm).

Dalam beberapa kasus, dampak buruk paparan sinar UV ini membuat permukaan keras, seperti kutil. Gatal dan terbakar bisa terasa di area yang terpapar. Keratosis aktinik membutuhkan bertahun-tahun paparan sinar matahari reguler untuk berkembang.

Kanker Melanoma

Dampak buruk paparan sinar UV yang terakhir dan terparah adalah kanker melanoma. Kondisi ini disebut sebagai jenis kanker kulit yang paling serius, berkembang dalam sel melanosit yang menghasilkan melanin.

Penyebab pasti dari semua melanoma tidak jelas, tetapi paparan radiasi ultraviolet (UV) dari sinar matahari meningkatkan risiko melanoma. Dampak buruk paparan sinar UV berupa kanker melanoma berisiko menyerang siapa saja.

Melanoma dapat berkembang di anggota tubuh bagian mana saja. Kasus yang paling sering terjadi adalah di daerah yang terkena paparan sinar matahari, seperti punggung, kaki, lengan, dan wajah. Maka dari itu penting menggunakan tabir surya untuk meminimalkan risikonya.