11 Waktu Mustajab untuk Berdoa, Jangan Dilewatkan

·Bacaan 7 menit

Liputan6.com, Jakarta Waktu mustajab untuk berdoa merupakan saat segala keinginan lebih mungkin dikabulkan. Berdoa adalah momen seorang hamba bisa berkomunikasi langsung dengan sang Pencipta, Allah SWT. Doa ditujukan untuk memohon dan meminta segala sesuatu, maksudnya hajat yang baik.

Mulai dari rezeki, kesehatan, sampai kelamatan di dunia dan akhirat. Waktu mustajab untuk berdoa yang bisa dijumapi setiap hari adalah dalam sujud, setelah salat, di sepertiga malam terakhir, serta di antara azan dan iqamah. Sementara waktu mustajab untuk berdoa yang istimewa adalah saat puasa, sahur, di malam Lailatul Qadar, hari Arafah, saat turun hujan, hari Jumat, dan saat minum air zam-zam.

"Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat. Aku menjawab panggilan (doa)-nya orang yang berdoa ketika ia berdoa kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 186)

Para ulama pun mengajarkan untuk selalu memanjatkan berdoa, terutama di waktu mustajab untuk berdoa. Meski hajat yang dipanjatkan selalu sama dan sangat remeh. Sebab saat seseorang tak berdoa, ia sudah dianggap sombong.

Berikut Liputan6.com ulas waktu mustajab untuk berdoa dari berbagai sumber, Jumat (16/4/2021).

Waktu Mustajab untuk Berdoa

Ilustrasi buka puasa. (Photo by Gabby K from Pexels)
Ilustrasi buka puasa. (Photo by Gabby K from Pexels)

Saat Puasa dan Berbuka Puasa

Waktu mustajab untuk berdoa yang pertama adalah saat seseorang sedang menjalankan ibadah puasa. Bukan hanya saat sedang puasa, tetapi ketika buka puasa tiba pun termasuk waktu mustajab untuk berdoa.

“Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan doa, akan dikabulkan.” dari hadits Jabir bin 'Abdullah (HR. Al-Bazaar.

Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid 10: 14. Dijelaskan bahwa di waktu mustajab untuk berdoa seperti untuk orang-orang yang menjalanklan ibadah puasa, agar memperbanyak doa.

“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.”

Dalam Sujud

Tak bisa dipungkiri bahwa dalam setiap sujud salat yang ditunaikan adalah waktu mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW pun bersabda bahwa dalam sujud salat, itulah waktu seorang hamba sangat dekat dengan Rabbnya.

Rasulullah SAW dalam sabdanya "Seroang hamba yang berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu." (HR. Muslim, no. 482)

Selain itu Rasulullah SAW juga bersabda, "Adapun ketika rukuk maka agungkanlah Allah. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, maka doa tersebut pasti dikabulkan untuk kalian." (HR Muslim, no.479)

Dalam sujud terakhir adalah waktu mustajab untuk berdoa. Ada tiga doa dalam keadaan sujud yang tidak boleh terlewatkan yakni:

1. Meminta diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah.

2. Memohon diberikan kesempatan untuk bertaubat sebelum ajal menjemput.

3. Meminta agar hati istiqamah dalam agama Islam.

Waktu Mustajab untuk Berdoa

Ilustrasi salat. Sumber: freepik.com
Ilustrasi salat. Sumber: freepik.com

Di Sepertiga Malam Terakhir

Di sepertiga malam terakhir adalah waktu mustajab untuk berdoa. Ketika banyak orang terlelap tidur, Allah SWT turun pada sepertiga atau penghujung malam untuk melihat hambanya yang memanjatkan doa. Sepertiga malam terakhir merupakan waktu mustajab untuk berdoa, dimana doa-doa mudah diijabah.

Rasulullah SAW bersabda tentang waktu mustajab untuk berdoa ini, “Allah tabaaraka wata’ala turun setiap malam ke langit bumi, ketika malam tersisa sepertiga terakhir. Ia berkata, “Adakah yang memohon kepada-Ku agar Aku kabulkan, adakah yang meminta kepada-Ku agar Aku berikan, adakah yang memohon ampun agar Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Waktu mustajab untuk berdoa yang dimaksudkan berlaku untuk setiap malam. Bukan hanya di bulan istimewa saja seperti Ramadan dan hari raya.

“Di malam hari terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah SWT berkaitan dengan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini berlaku setiap malamnya.” (HR. Muslim no. 757)

Selesai Salat Wajib

Usai menunaikan salat fardhu wajib jangan langsung beranjak pergi, sempatkanlah untuk berdoa terlebih dahulu. Inilah waktu mustajab untuk berdoa yang setiap hari umat muslim bisa temukan, jangan disia-siakan.

Jangan lupa untuk mengiringinya dengan bacaan dzikir dan wirid. Memanjatkan segala yang diinginkan dan diharapkan di waktu mustajab untuk berdoa menjadi menjadi salah satu kelengkapan yang dianjurkan.

“Dari Abu umamah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah SWT, beliau menjawab. Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai shalat fardhu.” (HR. Tirmidzi)

Waktu Mustajab untuk Berdoa

Ilustrasi azan. (Photo by Positive Moslem Attitude on Unsplash)
Ilustrasi azan. (Photo by Positive Moslem Attitude on Unsplash)

Di Antara Azan dan Iqamah

“Doa diantara adzan dan iqamah tidak tertolak.” (H.R. Tirmidzi)

Di antara azan dan iqamah adalah waktu mustajab untuk berdoa. Di waktu tersebut, kemungkinan doa pasti dikabulkan cukup besar dan kemungkinan ditolak kecil. Waktu mustajab untuk berdoa ini sama dengan saat perang sedang berkecamuk.

Rasulullah SAW bersabda:

“Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang.” (H.R. Abu Daud)

Minum Air Zam-Zam

Waktu mustajab untuk berdoa adalah saat seorang muslim minum air zam-zam. Hal ini bisa dilakukan sebelum atau menjelang mulai meminumnya. Maka jangan sampai di waktu mustajab untuk berdoa ini dilewatkan begitu saja.

“Khasiat air zam-zam sesuai niat orang yang meminumnya.” (HR. Ibnu Majah; hasan)

Ibnu Abbas waktu mustajab untuk berdoa ini atau menjelang meminumnya, membaca doa yang berkaitan dengan rezeki, ilmu, dan kesehatan. “Ya Allah aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan kesembuhan dari segala macam penyakit.”

Hari Jumat

Rasulullah SAW bersabda tentang hari Jumat yang menjadi waktu mustajab untuk berdoa. Dijelaskan bahwa di waktu mustajab untuk berdoa adalah termasuk saat yang penuh dengan keberkahan dan sakral.

"Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut.” (H.R. Bukhari, Muslim)

Hari Jumat merupakah hari penuh keberkahan dan sakral bagi umat muslim, di mana peristiwa penting dalam Islam banyak terjadi pada hari Jumat. Selain berdoa, perbanyaknya amal salih di waktu mustajab untuk berdoa ini.

Dari Aus bin ‘Aus radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Di hari itu, Adam diciptakan; di hari itu, Adam meninggal; di hari itu, tiupan sangkakala pertama dilaksanakan; di hari itu pula, tiupan kedua dilakukan.” (HR. Abu Daud, no. 1047; An-Nasai, no. 1374; Ibnu Majah, no. 1085 dan Ahmad, 4:8)

Waktu Mustajab untuk Berdoa

Ilustrasi Hujan. (pixabay.com)
Ilustrasi Hujan. (pixabay.com)

Saat Turun Hujan

Ketika hujan turun itulah saat terbaik untuk memanjatkan doa. Hujan yang diturunkan sebagaimana kekuasaan Allah SWT punya tujuan mendatangkan manfaat dan memberikan keberkahan.

Inilah waktu mustajab untuk berdoa dan jangan sampai terlewatkan begitu saja. Saat hujan Allah SWT memberikan kesempatan emas kepada setiap hambanya untuk memohon segala hajat dan kebaikan.

Dari Ibnu Qudamah dalam Al Mughni, meriwayatkan sabda Rasulullah:

“Carilah doa yang mustajab pada tiga keadaan: 1. Bertemunya dua pasukan, 2. Menjelang shalat dilaksanakan, dan 3. Saat hujan turun.”

Dikala hujan Raulullah SAW juga memanjatkan doa agar diturunkan hujan yang bermanfaat.

“Allahumma shoyyiban naafi’aa"

(Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat)

Malam Lailatul Qadar

Selain hari Jumat, waktu mustajab untuk berdoa jatuh di malam Lailatul Qadar. Malam ini dikenal sebagai malam diturunkannya kitab suci Al-Qur’an ke bumi oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya.

Di waktu mustajab untuk berdoa seperti Lailatul Qadar juga dianjurkan mempebanyak amal salih selain mengungkapkan hajat. Tujuannya agar di malam istimewa ini apa-apa yang diinginkan menjadi semakin berkah.

“Aku bertanya kepada Rasulullah : Wahai Rasulullah, menurutmu apa yang sebaiknya aku ucapkan jika aku menemukan malam Lailatul Qadar?

Beliau bersabda :

“Berdoalah, Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah aku.”) (H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah)

Waktu Mustajab untuk Berdoa

Ilustrasi sahur. (Sumber: freepik.com)
Ilustrasi sahur. (Sumber: freepik.com)

Saat Sahur

Bila saat melaksanakan ibadah puasa dan berbuka saja termasuk waktu mustajab untuk berdoa, maka saat sahur perlu digaris bawahi juga. Hal ini dijelaskan dalam Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim, nomor 1145 dan 758.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir.

Lantas Allah berfirman, "Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.”

Dalam hadits di atas, Ibnu Hajar berkata:

"Doa dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan." (Fath Al-Bari, 3: 32).

Setelah sahur, Rasulullah kerap membaca doa ini, seperti tercantum dalam hadits riwayat Thabrani. Berikut doa dan artinya.

Doa Sahur yang Dibaca Rasulullah

Yarhamullahul mutasahhirin.

Artinya:

"Semoga Allah menurunkan rahmat-Nya bagi mereka yang bersahur."

Hari Arafah

Hari arafah adalah waktu mustajab untuk berdoa. Hari saat para jemaah haji melaksanakan ibadah wukuf di pada tanggal 9 Dzulhijjah. Maka dari itu mengungkap segala hajat di waktu mustajab untuk berdoa sangat dianjurkan dan jangan samapi terlewatkan.

“Sebaik-baik doa adalah pada hari arafah. Dan sebaik-baik ucapanku dan Nabi sebelumku adalah ‘Tiada ilah kecuali Allah SWT yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan, bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. Tirmidzi)