14 BUMN Berpeluang IPO, Analis Sebut Bakal Tingkatkan Kompetisi Perusahaan

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 14 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak usaha dari berbagai klaster akan mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dari 14 BUMN tersebut, diperkirakan dua BUMN disebutkan berpotensi melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) pada 2021 yaitu PT Pertamina Geothermal Energi dan PT Dayamitra Telekomunikasi atau Mitratel.

Lalu apa kata analis mengenai hal tersebut?

"Untuk prospek diperkirakan akan menarik, terlebih pembangunan dan pengembangan infrastruktur yang saat ini terus berjalan. Seperti yang kita ketahui bersama Mitratel menguasai bisnis menara telekomunikasi,” ujar Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana, dikutip dari Antara, ditulis Minggu (2/5/2021).

PT Pertamina Geothermal Energi atau PGE adalah anak BUMN PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang pemanfaatan energi panas bumi.

Sementara itu, PT Dayamitra Telekomunikasi atau Mitratel adalah anak BUMN PT Telkom Indonesia Tbk yang bergerak di bidang infrastruktur dan menara telekomunikasi. IPO kedua perusahaan tersebut akan meraup dana triliunan rupiah.

IPO Mitratel disebut-sebut akan menjadi IPO terbesar hingga menembus USD 1 miliar atau setara Rp14,5 triliun.

Dengan kebutuhan mobilitas data dan telekomunikasi saat ini yang semakin meningkat sejak pandemi, dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk pengembangan oleh perseroan guna mengoptimalkan kinerja ke depan.

Sementara itu, dari IPO PGE akan terkumpul dana hingga 500 juta dolar AS atau setara Rp7,25 triliun. PGE saat ini dalam tahap konsolidasi aset dengan PT PLN Gas & Geothermal dan PT Geo Dipa Energi (Persero) sebelum mencatatkan saham perdana di BEI.

14 BUMN Bakal IPO

Layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Terkait 14 BUMN yang akan IPO, Herditya Wicaksana menuturkan, rencana BUMN dan anak usaha BUMN masuk Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui IPO, akan memperkuat daya saing perusahaan pelat merah tersebut.

"Tentunya, ini akan menambah ramai emiten-emiten yang berasal dari BUMN dan bertujuan untuk mampu berkompetisi di era saat ini," kata dia.

Berdasarkan data Kementerian BUMN, sebanyak 14 BUMN dan anak usaha BUMN dari berbagai klaster akan melantai di bursa. Sebanyak 14 perusahaan tersebut adalah PT Pertamina International Shipping, PT Pertamina Geothermal Energi, PT Pertamina Hulu Energi, PT Pertamina Hilir, dan PT Pembangkit Listrik Tenaga Uap.

Kemudian, PT Indonesia Healthcare Corporation (Persero), PT Bio Farma (Persero), PT EDC and Payment Gateway (Persero), PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Dayamitra Telekomunikasi, PT Telkom Data Center, PT Inalum Operating, PT MIND ID (Persero), dan PT Logam Mulia.

Manfaat BUMN Go Public

Suasana pergerakan perdagangan saham perdana tahun 2018 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Perdagangan bursa saham 2018 dibuka pada level 6.366 poin, angka tersebut naik 11 poin. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Suasana pergerakan perdagangan saham perdana tahun 2018 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Perdagangan bursa saham 2018 dibuka pada level 6.366 poin, angka tersebut naik 11 poin. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Selain itu, Pengamat Ekonomi dari Universitas Indonesia Toto Pranoto menuturkan, rencana 10-15 BUMN untuk menggelar IPO merupakan langkah tepat. Hal ini karena memberikan alternatif pendanaan bagi BUMN.

"Saya kira ini ada upaya bagus untuk memberikan alternatif pendanaan bagi BUMN,” kata dia.

Ia menuturkan, selama ini sebagian besar perusahaan negara lebih memilih instrumen utang sebagai sumber pendanaan sehingga menjadi beban saat terjadi krisis seperti pandemi COVID-19. Hal ini lantaran bunga harus tetap dibayar.

"Sementara dengan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) maka instrumen financing ini bersifat ekuitas. Jadi, dengan go public saya kira bagus buat keseimbangan struktur pembiayaan BUMN," ujar dia.

Selain itu, dia menambahkan dengan menjadi perusahaan terbuka atau Tbk, tuntutan good corporate governance atau GCG juga semakin besar sehingga diharapkan aspek transparansi, fairness, dan akuntabilitas makin besar di perusahaan negara. Ini merupakan fondasi bagus buat peningkatan kinerja BUMN.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini