14 Gejala COVID-19 yang Khas, Jangan Disepelekan

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta Memahami gejala COVID-19 yang khas akan membuat setiap orang lebih waspada dan tidak menyepelekan. Mengingat virus Corona COVID-19 atau SARS-CoV2 ini persebarannya semakin masif terjadi. Tak hanya ditularkan melalui droplet, kini virus Corona COVID-19 bisa melayang-layang di udara selama 16 jam.

Gejala COVID-19 yang khas tak hanya demam, batuk kering, sesak napas, dan kehilangan indra penciuman. Gejala khas setiap orang berbeda-beda dan sulit dibedakan dengan masalah kesehatan biasa. Gejala ini menyerang saluran pernapasan, pencernaan, sampai organ vital.

Meski gejala COVID-19 yang khas mirip dengan masalah kesehatan biasa, virus ini belum pernah terindentifikasi sebelumnya pada manusia. Badan Kesehatan Dunia WHO pun sudah menetapkannya sebagai pandemi, mengingat tingkat penyebaran dan keparahannya cukup mengkhawatirkan.

Berikut Liputan6.com ulas gejala COVID-19 yang khas dari berbagai sumber, Selasa (17/11/2020).

Gejala COVID-19 yang Khas

Ilustrasi demam | Polina Tankilevitch dari Pexels
Ilustrasi demam | Polina Tankilevitch dari Pexels

Demam

Demam merupakan salah satu gejala COVID-19 yang khas. Demam yang dialami berkisar pada suhu 38 derajat celcius atau lebih. Maka dari itu jika suhu tubuh sudah pada angka 37.5 derajat Celcius, jangan disepelekan.

Apalagi jika demam yang dialami terjadi setelah bepergian. Segera periksakan ke dokter dan lakukan isolasi mandiri. Memang belum tentu gejala COVID-19, tetapi demam sudah pasti terjadi karena infeksi.

Batuk Kering

Mengalami batuk kering yang tak kunjung berkesudahan harus diwaspadai. Paling tidak sudah berupaya melakukan pengobatan. Jika tak kunjung sembuh dan pulih, batuk kering yang dialami termasuk gejala COVID-19 yang khas.

Apalagi jika batuk kering yang dialami disertai dengan demam tinggi. Bisa jadi, infeksi virus Corona COVID-19 sudah terjadi mengingat persebarannya semakin masif. Batuk kering bisa berarti respon terhadap patogen asing yang masu dalam tubuh.

Gejala COVID-19 yang Khas

Ilustrasi Bau | Pixabay
Ilustrasi Bau | Pixabay

Kehilangan Bau dan Rasa

Ketika kehilangan bau dan rasa tiba-tiba, jangan dianggap masalah biasa. Apalagi kondisinya sedang pandemi COVID-19. Keduanya termasuk gejala COVID-19 yang khas pada kasus ringan dan sedang.

Anosmia merupakan gejala alami bagi beberapa pasien. Hingga ada yang sampai kehilangan nafsu makan karenanya. Paling tidak ada sekitar 30 persen pasien yang mengalami, seperti yang terjadi di Korea Selatan.

Ruam kulit

Kini gejala COVID-19 yang khas semakin terus bertambah. Menurut penelitian, ada 20 persen pasien yang terdiagnosis Corona COVID-19 dengan ruam merah pada kulitnya. Ruam merah yang dialami hampir mirip dengan cacar air. Bergelombang, gatal, dan iritasi seperti cacar.

Kulit yang mengalami ruam disertai gejala demam dan batuk kering, harus diwaspadai. Menurut para ahli, ruam merupakan gejala khas keempat setelah demam, batuk kering, dan kehilangan bau. Segera lakukan pemeriksaan agar infeksi tidak menjadi semakin parah kemudian.

Gejala COVID-19 yang Khas

Ilustrasi mengigil | cottonbro dari Pexels
Ilustrasi mengigil | cottonbro dari Pexels

Bingung dan Mengigil

Gejala COVID-19 yang khas selanjutnya membuat pasien bingung dan menggigil. Kebingungan terjadi ketika pasien yang terinfeksi Corona COVID-19 sulit menopang dirinya. Bibir pasien akan kebiru-biruan dan mengalami nyeri dada.

Lalu rasa menggigil yang dialami pasien lebih sering terjadi pada malam hari. Kondisi seperti ini harus diwaspadai betul, apalagi ketika pasien juga sempat melakukan perjalanan, demam, batuk kering, dan sesak napas.

Pegal-Pegal

Pegal-pegal lumrahnya hanya disebabkan karena masuk angin saja. Jangan salah, pegal kini menajdi gejala COVID-19 yang khas. Pegal merupakan sinyal ketika tubuh tengah memerangi infeksi virus.

Pegal biasanya dibarengi dengan demam dan meriang. Pada saat itu pula sistem kekebalan tubuh sedang berperang dan menyebabkan tubuh meradang. Memang mirip masuk angin biasa, tetapi karena sedang pandemi COVID-19 gejala seperti ini tidak boleh disepelekan.

Lakukan isolasi mandiri dan redakan dengan mengonsumsi obat pereda demam. Jika perlu segera lakukan pemeriksaan untuk penanganan lebih dini. Biasanya dokter akan memeberikan resep obat penurun panas untuk pemulihan jika infeksi yang dialami bukan COVID-19.

Gejala COVID-19 yang Khas

Ilustrasi Sakit Perut | Andrea Piacquadio dari Pexels
Ilustrasi Sakit Perut | Andrea Piacquadio dari Pexels

Masalah Pencernaan

Rasa-rasanya masalah pencernaan tidak ada hubungannya dengan saluran pernapasan. Kali ini kondisinya berbeda, pandemi Corona COVID-19 membuat masalah pencernaan ikut perlu diperhatikan.

Menurut sebuah penelitian di China ada sekitar 200 pasien COVID-19 yang mengalami masalah pencernaan. Kondisi ini bisa menjadi gejala COVID-19 yang khas bagi beberapa orang. Beberapa di antaranya diare tetapi tidak mengalami demam.

Umumnya masalah pencernaan ini muncul pada pasien yang terlambat melakukan pemeriksaan. Penelitian juga menunjukkan bahwa pasien ini justru lebih sulit menyingkirkan virus Corona COVID-19 dari tubuh.

Badai Sitokin

Badai sitokin merupakan faktor pemengaruhi kasus flu tahun 1918. Banyak pula peneliti yang percaya bahwa badai ini memicu reaksi sama dengan infeksi Corona COVID-19. Badai sitokin pun termasuk gejala COVID-19 yang khas.

Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh tengah merespon infeksi. Lalu tubuh akan menunjukkan reaksi berupa peradangan yang belebihan. Peradanagn ini bisa sampai menyebabkan gagal ginjal, jantung, pembekuan darah, dan paru-paru.

Gejala COVID-19 yang Khas

Ilustrasi sesak napas | Freepik
Ilustrasi sesak napas | Freepik

Sesak Napas

Gejala COVID-19 yang khas adalah sesak napas. Kondisi ini terjaid karena virus Corona COVID-19 menyerang saluran pernapasan dan bereplika di sana. Gejalanya tidak langsung muncul setelah pasien mengalami infeksi, tetapi bertahap.

Biasanya sesak napas terjadi pada minggu kedua setelah pasien terinfeksi virus Corona COVID-19. Tingkat keparahan sesak napas juga bergantung dari penyakit bawaan yang dimiliki penderitanya. Bahkan bagi yang tidak memiliki penyakit bawaan, masalah bronkitis dan pneumonia bisa terjadi karenanya.

Awal mula infeksi virus Corona COVID-19 adalah mirip infeksi virus influenza. Menyebabkan pilek, hidung tersumbat, sakit kepala, sakit tenggorokan, sampai demam. Bedanya, kini masalah flu tidak boleh disepelekan karena persebaran virus Corona COVID-19 semakin masif.

Tidak Nafsu Makan

Kehilangan nafsu makan bagi yang terinfeksi COVID-19 tidak terjadi begitu saja. Biasanya sebelum kehilangan nafsu makan, penderita akan mengalami demam, batuk kering, dan kehilangan indra penciuman.

Namun tidak menutup kemungkinan hal ini terjadi pada pasien COVID-19 yang tak bergejala. Kehilangan nafsu makan bisa terjadi tiba-tiba. Maka dari itu, tetap patuhi berbagai protokol kesehatan agar infeksi tidak semakin masif terjadi.

Delirium

Delirium adalah salah satu gejala COVID-19 yang khas dan baru. Kondisi ini terjadi setelah pasien kehilangan indra perasa dan bau. Delirium merupakan gangguan mental yang dipengaruhi perubahan pada fungsi otak.

Sudah pasti saat delirium terjadi, pasien COVID-19 sulit berpikir, fokus, mengingat, dan berkonsentrasi. Dampak lainnya, pasien akan kesulitan tidur dan bingung. Kondisi seperti ini harus diwaspadai bila disertai dengan demam, sesak napas, batuk kering, dan gejala lainnya.

Gejala COVID-19 yang Khas

Ilustrasi Mata Merah | Credit: freepik.com
Ilustrasi Mata Merah | Credit: freepik.com

Mata Merah

Beberapa penelitian di negara dengan kasus infeksi tinggi seperti China, beberapa pasien mengalami mata merah. Kondisi ini bisa menjadi gejala COVID-19 yang khas bagi beberapa pasien saja, 1-3 persen.

Saat konjungtiva terjadi, penularan bisa lebih masif dilakukan oleh pasien yang mengalami. Tepatnya ketika masalah mata merah dibarengi dengan beberapa gejala lain seperti demam, batuk kering, dan sesak napas.

Kelelahan

Selain badan yang pegal seperti orang meriang, gejala COVID-19 yang khas menyebabkan kelelahan parah. Kelelahan ini biasanya terjadi tanpa alasan yang jelas. Tepatnya ketika seseorang tak melakukan aktivitas apapun, tetapi merasakan tubuhnya sangat lemas.

Badan Kesehatan Dunia WHO melaporkan, 40 persen dari 6.000 pasien positif COVID-19 mengaku seperti mengalami kelelahan. Pada beberapa kasus, kelelahan ekstrem masih terjadi ketika virus hilang atau saat pemulihan dilakukan.