15 Negara Butuh 8 Tahun buat Sepakati Perundingan Dagang RCEP Setebal 14.367 Halaman

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Indonesia bersama dengan 14 negara ASEAN berhasil menyepakati perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Kesepakatan itu berhasil ditempuh setelah perjalanan panjang selama 8 tahun.

Menteri Perdagangan (Mendag), Agus Suparmanto mengungkapkan bahwa RCEP sudah dirancang sejak 2011 lalu. Di mana pada saat itu dimulai pada tanggal 12 November 2012 di Phnom Penh, Kamboja.

Itu ketika 16 kepala negara dan pemerintahan menyepakati guiding principle and objective for negotiating RCEP dengan target penyelesaian penyelesaian 2015.

"Gagasan RCEP dicetuskan oleh menteri perdagangan indonesia pada tahun 2011, yang kemudian dilanjutkan oleh para penerusnya hingga berhasil dalam bentuk sebuah perjanjian yang mengikat pada hari ini," kata dia dalam konferensi pers yang tayang virtual, Minggu (15/11/2020).

Putaran pertama perundingan digelar pada bulan Mei 2013 di Brunei Darussalam di bawah pimpinan Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo. Di mana Imam saat itu menjabat sebagai Ketua Komite Perundingan.

"Tugas ini ditangani tanpa jeda oleh Pak Iman selaku Dirjen PPI hingga perundingan secara resmi dinyatakan selesai pagi tadi. Kita memulai perundingan ini dengan total peserta 16 negara. Namun, seperti diketahui pada KTT RCEP ke 3 bulan November tahun lalu di Bangkok, India menyatakan menarik diri dari perundingan RCEP," paparnya.

Perjanjian RCEP, dikatakan dihasilkan dari sebuah proses perundingan yang panjang, perundingan paripurna sebanyak 31 putaran dan juga sejumlah perundingan intersesi.

"Hasilnya adalah sebuah perjanjian setebal 14.367 halaman, yang terbagi ke dalam 20 bab, 17 aneks, dan 54 schedule komitmen yang mengikat 15 negara pesertanya, tanpa memerlukan satu pun side letter," tambahnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Mendag Ungkap Sederet Keuntungan Indonesia saat Ikutan Perjanjian Ekonomi RCEP

Ilustrasi (AFP)
Ilustrasi (AFP)

Indonesia akan mendapatkan sederet keuntungan saat ikut dalam Perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Salah satunya, meningkatkan sektor perdagangan hingga investasi di Indonesia.

Menteri Perdagangan (Mendag), Agus Suparmanto mengatakan, RCEP berpotensi meningkatkan total ekspor Indonesia ke negara-negara peserta mencapai 8-11 persen. Sementara investasi ke Indonesia diperkirakan mencapai 18-22 persen.

Ini merupakan hasil kajian tentang dampak RCEP dalam lima tahun ke depan. "RCEP merupakan gagasan secara berani yang dicetuskan Indonesia untuk mempertahankan sentralitas Asean memasuki global value chain secara lebih dalam," kata dia dalam conferensi pers, di Jakarta, Minggu (15/11/2020).

Dia mengatakan, perjanjian RCEP menjadi proses panjang perundingan hingga 31 putaran. Selain itu, perjanjian kerjasama itu juga dilakukan didalam perundingan intersesi tingkat group maupun tingkat menteri.

"Kerja keras kita selama delapan tahun menghasilkan setebal 14.367 halaman, terbagi dalam 20 bab dan 54 schedule komitmen yang mengikat 15 negara pesertanya tanpa memerlukan salter," katanya.

Dia menambahkan, dari 15 negara, penandatanganan RCEP sudah mewakili 29,6 miliar penduduk dunia atau 32 persen dari GDP dunia. Selain itu, juga mencakup 7,4 persen dari perdagangan dunia dan 29,8 persen FDAs dunia.

Berdasarkan data ekspor Indonesia ke 14 negara RCEP selama 5 tahun terakhir menunjukan tren positif yakni 7,35 persen.

Pada tahun 2019 total ekspor non migas ke kawasan RCEP mewakili 56,51 persen total ekspor Indonesia ke dunia atau USD 84,4 miliar. Sementara dari sudut impor RCEP mewakili 65,79 persen total impor Indonesia dari penduduk dunia yakni USD 102 miliar.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com