15 Persen Anak di Depok Terpapar COVID-19

Agus Rahmat, Zahrul Darmawan (Depok)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Dari puluhan ribu kasus positif COVID-19 di Kota Depok, Jawa Barat, sebanyak 15 persen di antaranya adalah anak-anak. Kondisi ini telah menyedot perhatian Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI.

Kasus teranyar dialami oleh sejumlah anak di salah satu panti asuhan di wilayah Kecamatan Pancoran Mas, Depok. Tim gugus tugas setempat mengaku, dari 45 penghuni panti tersebut, sebanyak 43 orang di antaranya dinyatakan positif COVID-19 tanpa gejala atau OTG.

“Sisanya, untuk dua orang yang dinyatakan negatif itu dilakukan isolasi mandiri akan dicarikan tempat isolasi oleh satgas kecamatan, jadi dipisah dari mereka yang melakukan isolasi di panti asuhan,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Depok, Dadang Wihana pada Jumat 22 Januari 2021.

Baca juga: Pernyataan TransJakarta soal Penumpang Colong Hand Sanitizer

Dadang mengatakan, panti asuhan itu juga sudah mendapatkan perhatian dari KPAI. Demikian pula untuk kasus-kasus lainnya yang menimpa pada anak di Kota Depok.

“Untuk diketahui dari persentase yang terpapar COVID untuk kategori usia anak-anak itu lebih kurang 15 persen dari total kasus,” jelasnya.

Dadang mengaku, KPAI telah menanyakan terkait dengan langkah-langkah yang diambil oleh Satgas COVID-19 Kota Depok, dan dalam hal ini juga Dinas Sosial, karena terkait dengan panti asuhan.

“Untuk bantuan dari KPAI sampai saat ini belum, iya baru menanyakan informasi saja. Tapi mudah-mudahan saja karena kita juga sudah melakukan langkah-langkah termasuk juga DPAPMK (Dinas Perlindungan Anak Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga),” katanya.

Ia menyebut, Pemerintah Kota Depok juga sudah menurunkan tim psikolog untuk menjaga psikis anak-anak panti yang terpapar virus berbahaya tersebut.

“Demikian pula pada saat kejadian klaster-klaster di pesantren yang menimpa anak-anak pesantren,” katanya.

Dadang mengungkapkan, rata-rata anak yang terpapar COVID-19 di Kota Depok berusia di bawah 17 tahun. Menurutnya, pendampingan psikologi penting untuk membangkitkan motivasi, dan memacu gairah anak agar selalu berpikir positif, sehingga imunitas tubuhnya juga meningkat.

“Jadi lebih kepada pendampingan psikolog untuk meningkatkan imun melalui kondisi kejiwaan ataupun kondisi psikis,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan sampai saat ini belum ada laporan yang mengalami gangguan psikis.

“Kalau waswas itu mungkin wajar karena setiap orang ketika terkena musibah itu terjadi seperti itu, jadi inilah makanya fungsi kita bagaimana pemerintah hadir dalam menyediakan layanan itu,” katanya.

Ia menambahkan, pendampingan psikologi ini tidak hanya untuk mencegah adanya gangguan psikis akibat COVID-19.

“Jadi tidak hanya healing terhadap kasus COVID-19 tapi juga dilakukan pendampingan kepada anak-anak yang sulit belajar daring saat ini, kan menimbulkan tingkat stres juga,” katanya

Untuk diketahui, penyebaran COVID-19 di Depok sampai kini masih cukup tinggi. Bahkan, salah satu kota penyangga Jakarta itu belum juga terbebas dari zona merah.

Berdasarkan data pemerintah setempat, angka kasus terkonfirmasi positif di kota itu sampai dengan hari ini telah mencapai sebanyak 23.729 orang, pasien aktif 4.693 orang, sembuh 18.508 orang, dan meninggal dunia mencapai 528 orang.