15 Tahun Pura-pura Tuli, Inilah Kisah Hatim Al-Asham

Syahdan Nurdin, kisahteldan
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas tentang sebuah kisah yang menurut kami salah satu kisah yang perlu kita ambil sabagai sebuah pelajaran dalam menjalani hidup sebagai makhluk sosial.

Kisah kali ini adalah kisah tentang menjaga perasaan, terkadang kita seringkali tidak sengaja maupun sengaja mengatakan hal yang dapat menyakiti hati saudara kita sendiri kepada teman atau orang sekitar kita.

Nah, di dalam Agama Islam kita dilarang menyakiti hati saudara kita sendiri seagama maupun yang berbeda agama. Sebagaimana islam juga memelihara kehormatan setiap individu umatnya agar tidak di intimidasi atau di lecehkan oleh orang lain.

Di Kota Baghdad ada seorang ulama besar yang mempunya gelar Al-Asham (Tuli), beliau adalah Hatim Al-Asham merupakan salah seorang ulama besar yang wafat di Baghdad, Irak tahun 852 M atau 237 H.

Terdapat sebuah kisah penuh hikmah tentang pentingnya menjaga perasaan saudara kita sesama muslim dan juga yang mendasari kata ‘al-asham’, yang menjadi julukannya, sebagaimana diriwayatkan Imam Ghazali dalam kitab Nashaihul Ibad.

Awal Kisah Sejatinya Hatim tidak-lah tuli, hingga pada suatu hari, seorang wanita datang ke tempat Hatim untuk menanyakan sesuatu. Tak dinyana, ketika melontarkan pertanyaannya di hadapan Hatim, belum selesai ia bertanya, wanita tadi tak kuasa untuk menahan kentutnya. Bunyinya terdengar jelas, hingga membuat ia salah tingkah dan terdiam.

Di tengah kegalauan wanita itu, tiba-tiba Hatim berkata dengan suara keras. “Tolong bicara yang keras! Saya tuli,” Namun, yang bertanya justru bingung.

Dalam kebingungannya, ia kembali dikagetkan dengan suara keras Hatim. “Hai, keraskanlah suaramu, karena aku tidak mendengar apa yang kamu bicarakan,” teriak Hatim. Wanita tadi kemudian menduga bahwa Hatim ini seorang yang tuli. Ia pun merasa sedikit lega, karena suara kentutnya tidak didengar Hatim.

Suasana kembali menjadi cair. Ia pun kembali mengulang pertanyaannya. Sejak saat itu, Hatim mendadak “menjadi tuli” dan bahkan ia melakukan hal tersebut selama wanita tadi masih hidup.

Ya, demi menjaga perasaan dan kehormatan wanita itu, ia terus berpura-pura tuli selama 15 tahun. Setelah wanita itu meninggal dunia, Hatim Al Asham sudah tidak berpura-pura tuli lagi, jika ditanya orang lain, dia dapat menjawabnya dengan mudah, tapi ia selalu mengatakan: “berbicaralah yg keras!”, kata-kata itu sudah menjadi kebiasaannya, karena sudah 15 tahun lamanya ia selalu mengucapkan hal itu kepada siapa saja yg menjadi lawan bicaranya.

Semenjak peristiwa itu, maka Hatim diberi gelar AL-ASHAM yang artinya si tuli, jadi Hatim Al Asham berarti Hatim yang tuli.