17 Orang Tersangka, Polisi Selidiki Aktor Intelektual Penyerangan Petani di Riau

Merdeka.com - Merdeka.com - Polda Riau masih mengusut dalang penyerangan sejumlah petani yang mengakibatkan kepala anak kecil berdarah, dan sejumlah wanita terluka. Saat ini, sudah 17 orang ditetapkan sebagai tersangka atas penyerangan di Desa Terantang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar itu. Kericuhan terjadi terkait adanya dualisme kepengurusan koperasi sawit KUD Iyo Basamo.

Kabid Humas Polda Riau Kombes Sunarto saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya masih mengusut siapa orang yang menyuruh belasan tersangka itu. Dia juga menyebutkan, sudah puluhan orang saksi yang diperiksa termasuk para tersangka.

"Kepolisian sudah menetapkan 17 orang sebagai tersangka penyerangan ibu dan anak-anak di lokasi. Saat ini, Polres Kampar masih mengusut siapa dalangnya," tegas Sunarto kepada merdeka.com Rabu (22/6).

Sunarto memastikan Polda Riau tak pandang bulu dalam menindak aksi premanisme. Termasuk soal dugaan Ketua KUD Iyo Basamo lama, inisial HL (Hermayalis) yang diduga terlibat.

"Siapapun yang terlibat akan kami usut. Saat ini tim masih bekerja untuk mengusut tuntas orang yang dimaksud (dalangnya)," katanya.

Sementara itu, Pengacara Hermayalis, Asep Ruhiat mengatakan kliennya tidak pernah menyuruh sejumlah orang itu untuk menyerang petani. Dia menyebutkan, justru ada sejumlah orang yang memprovokasi dan menyerang terlebih dahulu.

"Mereka (para pelaku) kontrak dengan Pak Hermayalis sebagai pengamanan kebun, tidak menyerang duluan," kata Asep saat dihubungi merdeka.com.

Asep menyebutkan, selama ini lokasi kebun sawit yang jadi tempat kericuhan terjadi dikuasi Hermayalis karena sebagai ketua koperasi Iyo Basamo. Dia mengakui adanya 2 kepengurusan yang masih dalam proses hukum di Mahkamah Agung.

"Soal 2 kepengurusan masih proses di MA, jadi pak Hermayalis masih menguasai lahan, tapi tiba-tiba datang sekelompok orang yang bukan anggota koperasi. Ada sebagian yang memprovokasi sehingga terjadi kericuhan," jelas Asep.

Asep juga menyayangkan aksi tersebut sampai terjadi jatuhnya korban anak-anak dan perempuan. Dia tak menyangka sekelompok orang mengerahkan anak-anak dan wanita ke kebun sawit koperasi itu.

"Kita prihatin anak-anak dan wanita ada di lokasi, seharusnya itu tidak terjadi. Mereka (wanita dan anak-anak) ini diduga merupakan korban yang terprovokasi dari orang yang mengaku sebagai pengurus koperasi. Kita sedih, mereka yang tidak tahu apa-apa, datang karena diiming-imingi akan mempunyai lahan, kasihan kita," ujar Asep. [eko]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel