19 Perempuan Dijadikan PSK di Pasuruan, Lima Pelaku Ditangkap Polisi

Merdeka.com - Merdeka.com - 19 wanita diduga menjadi korban human traficking atau penjualan manusia di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Ke-19 wanita tersebut diduga dijajakan sebagai pekerja seks komersial (PSK) di kawasan Tretes, Pasuruan.

Dari pengungkapan kasus ini, polisi menangkap lima pelaku berinisial DG (29) pemilik warung kopi dan muncikari. RS (30) pemiliki wisma dan muncikari. AD (42) penjaga ruko. CE (26) kasir warung kopi, dan AS (31) kasir wisma. Kelima pelaku ini diringkus Subdit IV Renakta (Remaja Anak dan Wanita) Polda Jatim.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Dirmanto didampingi Kasubdit Renakta (Remaja Anak dan Wanita) Polda Jatim AKBP Hendra Eko Triyulianto mengatakan, kasus tersebut diungkap pada Senin lalu. Hasilnya, ditemukan di antara 19 orang perempuan terdiri dari 15 orang dewasa dan empat masih di bawah umur.

"Petugas mendatangi sebuah ruko di Gempol (Pasuruan) yang juga digunakan sebagai warkop, dan mendapati delapan perempuan dan empat di antaranya anak di bawah umur. Serta satu orang penjaga ruko," kata Hendra dalam keterangannya, Senin (21/11).

Hendra menuturkan, selain dipekerjakan di warkop tersebut, para korban dieksploitasi oleh pelaku sebagai PSK dengan tarif Rp500 ribu hingga Rp800 ribu. Korban sehari-harinya dilarang keluar ruko dan HP-nya disita.

"Untuk 19 para korban sudah beroperasi (dipekerjakan) kurang lebih 1 tahun, dan tidak boleh keluar dari lokasi tersebut, hanya untuk melayani tamu hidung belang saja," tegasnya.

Kepolisian lalu melakukan pengembangan kasus dan menemukan lokasi diduga sebagai wisma di kawasan Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

Dari Wisma tersebut, polisi telah mengamankan korban sebanyak 11 perempuan dan satu orang di antaranya anak di bawah umur.

"Para korban per satu orang dengan tarif kurang lebih Rp800 ribu sampai Rp500 ribu. Jadi per orang pelaku ini mendapatkan dari hasil mengeksploitasi para korban, tersangka mendapat uang berkisar Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu," jelas Hendra.

Para tersangka dijerat dengan pasal 27 pasal 17 dan pasal 10 undang-undang nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, dan pasal 2 ayat 1 huruf R tentang undang-undang nomor 8 tahun 2010, dengan hukuman paling singkat tiga tahun dan paling lama 15 tahun penjara dan denda paling 120 juta paling banyak Rp600 juta. [cob]