2,5 Tahun Pandemi Covid-19, Ini Pelajaran yang Bisa Diambil

Merdeka.com - Merdeka.com - Dewan Penasihat Satgas Covid-19 PB IDI Zubairi Djoerban mengatakan, situasi Covid-19 di Indonesia selama 2,5 tahun ini mengalami naik turun. Namun, kondisi Covid sempat membaik pada Mei dan Juni 2022 lalu ketika positivity rate kurang dari 3 persen.

Selama 2,5 tahun ini, terdapat beberapa pelajaran yang diambil. Yang pertama, berdasarkan pernyataan Zubairi, anak-anak juga dapat terkena Covid-19 meskipun sebagian besar yang rawan tertular adalah orang berusia lanjut yang memiliki berbagai penyakit atau komorbid.

"Yang muda, yang sehat, yang kebal maupun anak ternyata bisa tertular sakit Covid-19, bisa sakit, bisa masuk rumah sakit, dan bisa meninggal. Walaupun sebagian besar yang rawan tertular adalah yang berusia lanjut dengan memiliki berbagai penyakit unik, kita mendengar namanya itu komorbid," kata Zubairi dalam Talkhsow Perlindungan Keluarga Sehat yang diselenggarakan oleh Lifebouy dan Halodoc, Kamis (1/8).

Kedua, masyarakat tidak perlu panik pada penularan virus melalui meja, kursi, bahan plastik, metal, ataupun benda lainnya. Namun, yang perlu diperhatikan adalah penularan Covid dari airborne (menular lewat udara), khususnya di ruang tertutup. Selanjutnya, setiap orang dapat tertular Covid-19 sampai tiga kali.

"Ada beberapa teman perawat saya yang tertular ada yang satu kali, dua kali, tetapi ada juga yang tiga kali. Alhamdulillah bisa pulih," cerita Zubairi.

Lalu, Zubairi juga menambahkan bahwa panas yang diharapkan dapat mematikan virus, ternyata sama saja dengan keadaan lembab. Selain itu, juga ada super spreader.

"Jadi ternyata ada orang yang menjadi super spreader artinya kalau biasa menularkan ke tiga, empat orang, (ini) bisa menularkan sampai puluhan bahkan ratusan lebih dari satu orang," kata Zubairi.

Kemudian, pembelajaran yang lain adalah adanya long covid. Menurut Zubairi, virus Covid-19 yang ada di tubuh sudah habis tetapi terlanjut membuat kerusakan baik di paru-paru, jantung, otak, memori, maupun psikologi. Kemudian, koordinasi, kolaborasi, dan partnership merupakan hal yang penting untuk menangani penyebaran Covid-19. Hal lainnya yang bisa dipelajari adalah pentingnya peran media dan public opinion maker.

"Hal yang lain adalah ternyata misinformasi dan hoaks itu berbahaya, harus ditangani dengan baik-baik. Jadi kerja sama dengan teman-teman media karena tanpa teman-teman media kita tidak bisa memberikan informasi yang baik dan benar dan bisa beredar luar di Indonesia. Lalu juga public opinion maker, jangan sampai para pemimpin baik pemerintah maupun public opinion maker lain sampai komunikasi publiknya keliru sehingga bikin bingung," kata Zubairi.

Selanjutnya, perlu diingat bahwa peran tenaga kesehatan itu penting. "Tolong diingat pada bulan Juli tahun lalu, itu lebih dari 200 dokter yang meninggal karena Covid," kata Zubairi.

Kemudian, yang penting lainnya adalah kebijakan harus fleksibel. Maksudnya, ketika pemerintah mengatakan level PPKM setiap minggunya, itu merupakan suatu keharusan karena bergantung pada dinamika pandemi yang sangat dinamis.

"Kebijakan harus disesuaikan dengan bukti-bukti di lapangan yang terbaru. Kemudian, bukti ilmiah penting untuk urusan apapun. Kemudian ada lagi kita mengenal emergency use authorization di mana oabt-obat yang belum terbukti penuh tetapi diduga diperlukan oleh pasien, itu bisa dikeluarkan izin sementaranya dan yang lain kita belajar adalah masa depan ternyata tidak terlalu pasti," tambah Zubairi.

Dengan masih tingginya kasus dan angka kematian, Zubairi mengingatkan untuk hidup sehat. Menurutnya, hidup bersih dan sehat dapat meminimalisir penularan Covid-19 dan menekan rantai penyebaran.

"Jadi cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer itu penting. Makan dengan gizi seimbang, ada karbohidrat, ada protein, ada sayur, ada buah, jadi utama. Kemudian, olahraga itu penting, sangat amat penting, 150 menit seminggu. Kemudian, cukup sinar matahari, istirahat cukup, dan menjaga kebersihan lingkungan," jelas Zubairi.

Terakhir, segera konsultasi kesehatan ketika mulai merasakan gejala ke dokter. Dengan demikian, pelayanan kesehatan merupakan hal yang penting di situasi sekarang ini. Tidak hanya offline tatap muka tetapi juga telemedicine menjadi peran penting di situasi pandemi.

"Layanan ini akan mempermudah pasien mengakses layanan kesehatan tanpa tatap muka langsung. Pada kondisi tertentu, tentu harus datang ke IGD rumah sakit. Namun, sebagian besar dapat ditata laksana dengan telemedika. Sekali lagi, cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, jauhi kerumunan, dan jaga kebersihan, yang penting juga vaksinasi," kata Zubairi. [eko]