2 Guru Bersimbah Darah Dibunuh OPM, Wanita Buronan Polisi Seret TNI

Bayu Adi Wicaksono
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ternyata wanita buronan polisi tak henti-hentinya membentuk untuk opini yang menyudutkan militer Tentara Nasional Indonesia (TNI) terkait tindakan biadab kelompok separatis bersenjata OPM Papua.

Kali ini, wanita bernama Veronica Koman itu, menggiring opini masyarakat melalui media sosial seolah-olah pembunuhan sadis yang dilakukan OPM terhadap seorang guru di Beoga, Papua, dipicu oleh aktivitas TNI di Papua.

Dalam kicauannya dikutip VIVA Militer Jumat 16 April 2021, buronan kasus provokasi Asrama Mahasiswa Papua itu menyeret-nyeret TNI, dengan membuat narasi seakan aksi sosial prajurit TNI dengan mengajar ke sekolah-sekolah di pedalaman Papua, sebagai pemicu perbuatan biadab OPM.

Wanita yang selama ini digadang-gadang pembela HAM itu menyimpulkan bahwa kegiatan sosial prajurit TNI ke sekolah membuat guru-guru di Papua kini menjadi sasaran tuduhan OPM, sebagai tentara yang menyamar. Sehingga terjadi pembantaian brutal terhadap para guru oleh OPM.

'Guru dan dokter itu sangat dihormati dan dijaga oleh masyarakat di Papua. Pasca 2019 Papua meledak, militerisme makin meningkat, TNI jadi sering masuk ke sekolah-sekolah untuk indoktrinasi. Insiden Beoga adalah puncak gunung es, guru jadi dituduh OPM sebagai tentara yang menyamar' tulis Vero.

Perlu diketahui, pada Kamis 8 April 2021, dua guru Kampung Julugoma, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua, tewas bersimbah darah dibunuh secara sadis oleh OPM.

Kedua guru itu yakni Oktavianus Rayo yang mengajar di Sekolah Dasar (SD) Inpres Beoga, dan Yonatan Randen yang mengajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Beoga.

Dua guru itu dibunuh dengan cara ditembaki oleh OPM. Oktavianus Rayo dibunuh lebih dahulu, disusul Yonatan beberapa jam kemudian dengan ditembak bagian dadanya. Tak cuma membunuh kedua guru itu, OPM juga membakar bangunan sekolah.

OPM mengeluarkan alasan yang sama dengan kicauan Veronica, bahwa kedua guru dieksekusi mati karena menjadi mata-mata dari TNI.

Sementara itu, yang perlu dicatat Veronica Koman merupakan wanita yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Polda Jawa Timur. Dia jadi buronan karena tak memenuhi panggilan pemeriksaan polisi setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus provokasi AMP di Surabaya, yang memicu kerusuhan di Papua pada 2019.

Namun sayangnya, walau telah ditetapkan sebagai tersangka. Bahkan telah diajukan red notice ke Interpol, hingga saat ini polisi tak mampu meringkus Veronica Koman.