2 Jenderal Pentolan Bongkar Kelemahan TNI kepada Prabowo

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 5 menit

VIVA – Beberapa bulan sebelum Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto Djojohadikusumo ditunjuk menjadi Menteri Keamanan Republik Indonesia (Menhan RI), sejumlah Purnawirawan Perwira Tinggi (Pati) TNI dan Polri sempat berdiskusi dengannya. Salah satu yang hadir dalam diskusi itu adalah dua jenderal bintang empat Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Lewat pantauan VIVA Militer dari sebuah akun Youtube, pertemuan itu digelar pada April 2019 lalu. Selain Tedjo yang merupakan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), turut hadir pula mantan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI, Letjen TNI (Purn.) Johannes Suryo Prabowo dan Marsekal TNI (Purn.) Imam Sufaat, eks Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU).

Dalam kesempatan tersebut, Tedjo dan Imam mengungkap sejumlah data postur kekuatan TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara. Yang paling menarik dari diskusi tersebut, tentu saja soal kekuatan kedua matra dalam hal alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Imam yang mendapat kesempatan pertama untuk berbicara, menjelaskan bagaimana postur kekuatan TNI Angkatan Udara saat ini. Dalam pernyataannya, Imam mengungkap bahwa TNI Angkatan Udara masih memiliki kekurangan skuadron pesawat tempur.

Sementara menurut Imam, untuk bisa memaksimalkan kekuatan dalam mengamankan wilayah kedaualatan negara secara keseluruhan, TNI Angkatan Udara diharap bisa mencapai supremasi kekuatan udara (air supremacy) dan superoritas (air superiority).

Selain itu, Imam juga menjelaskan bagaimana pentingnya memiliki pesawat dengan teknologi tinggi seperti drone, untuk menghadapi potensi konflik besar maupun kecil.

"Sebetulnya untuk Angkatan Udara yang kita butuhkan adalah beberapa kekuatan yang menjadi ciri khas Angkatan Udara. Kita harus punya alutsista yang bisa membuat kita menjadi kekuatan yang mengarah kepada air supremacy atau air superiority. Jadi, dibutuhkan pesawat fighter yang mampu membuat kita mencapai keunggulan udara," ujar Imam.

"Yang kedua kita harus punya pesawat yang untuk air strike, atau menghancurkan sasaran di darat. Yang ketiga adalah kita harus punya pesawat yang air mobility. Untuk kita bisa memenangkan high end conflict maupun low end conflict, kita membutuhkan pesawat teknologi tinggi seperti drone di samping airborne radar," katanya.

Alangkah mengejutkan, saat Imam mengungkap bahwa saat ini TNI Angkatan Udara hanya memiliki tujuh skuadron pesawat tempur. Namun jika berbicara masalah alutsista yang bisa mencapai superioritas kekuatan udara, TNI Angkatan Udara hanya punya tiga skuadron yang terdiri dari F-16 Fighting Falcon, Sukhoi Su-27 dan Sukhoi Su-30.

"Seperti pesawat tempur, (seharusnya ) kita minimum punya 11 skuadron tempur. Sekarang ini kita lihat kalau pesawat tempur semua hanya tujuh skuadron. Tapi kalau untuk air superiority kita hanya punya tiga skuadron, F-16 dan Sukhoi," ucap Imam melanjutkan.

Yang tak kalah pentingnya menurut Imam adalah jumlah radar, yang saat ini TNI Angkatan Udara cuma punya 19 unit. Sedangkan dengan luas wilayah yang hampur 2 juta kilometer persegi, maka TNI Angkatan Udara membutuhkan setidaknya 32 unit radar.

"Seperti radar, kita bisa mempertahankan kedaulatan kalau radar kita bisa meng-cover seluruhnya. Sekarang ini yang kita butuhkan minimum itu adalah 32 radar. Itu bisa meng-cover semuanya dengan catatan berintegrasi dengan radar sipil," kata KSAU periode 2009 hingga 2012 itu.

"Namun sejak lima tahun terakhir, hanya ada 19 radar, tidak ada penambahan lagi. Jadi sebenarnya kita masih memiliki banyak blank spot. Jadi radar itu kurang," ucapnya.

Bukan cuma TNI Angkatan Udara yang sebenarnya membutuhkan tambahan kekuatan berupa alutsista. Tedjo yang pernah menjabat sebagai KSAL dan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), juga mengungkap sejumlah kekurangan yang miliki TNI Angkatan Laut.

Tedjo menyebut bahwa saat ini TNI Angkatan Laut hanya memiliki lima unit kapal selam. Namun demikian menurut Tedjo, untuk memaksimalkan peran TNI Angkatan Laut dalam menjaga seluruh wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKR), setidaknya dibutuhkan 16 unit kapal selam.

Perlu diketahui, saat ini TNI Angkatan Laut memiliki lima unit kapal selam tempur. Di kelas Nagapasa, ada tiga kapal selam yakni KRI Nagapasa (403), KRI Ardadedali (404) dan KRI Alugoro (405). Tiga unit kapal selam lainnya di kelas ini tengah dibangun, bekerja sama dengan perusahaan pembuat kapal Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering.

Sementara itu, dua unit kapal selam lainnya adalah dari kelas Cakra, KRI Cakra dan KRI Naggala. Meski masih beroperasi, kedua kapal selam ini sudah berusia hampir 40 tahun sejak dibuat di Jerman Timur.

Selain itu, Tedjo juga mengataka bahwa TNI Angkatan Laut juga membutuhkan setidaknya 30 unit kapal kelas frigate dan corvette. Untuk tipe frigate, saat ini TNI Angkatan Laut memiliki KRI Raden Eddy Martadinata (331) dan KRI I Gusti Ngurah Rai (332) di kelas Martadinata.

Sementara di kelas Ahmad Yani, ada lima kapal lainnya yakni KRI Ahmad Yani (351), KRI Yos Sudarso (353), KRI Oswald Siahaan (354), KRI Abdul Halim Perdanakusuma (355) dan KRI Karel Satsuit Tubun (356).

Untuk tipe corvette, ada 10 unit kapal yang dibagi ke dalam tiga kelas, kelas Diponegoro, kelas Bung Tomo dan Kelas Fatahillah. Di kelas Diponegoro, ada KRI Diponegoro (365), KRI Sultan Hasanuddin (366), KRI Sultan Iskandar Muda (367) dan KRI Frans Kaisepo (368).

Di kelas Bung Tomo ada tiga kapal yakni KRI Bung Tomo (357), KRI John Lie (358) dan KRI Usman Harun (359). Tiga kapal lainnya dari kelas Fatahillah, ada KRI Fatahillah (361), KRI Malahayati (362) dan KRI Nala (363).

"Saat ini kita mempunyai senjata strategis yaitu kapal selam. Itu baru dua yang buatan tahun 80 dan baru dari Korea kita buat dua, dan satu akan dibuat di Indonesia. Tetapi tipenya hampir sama. Tetapi, tidak hanya jumlah yang harus kita miliki, namun capability juga harus," ujar Tedjo.

"Kita untuk meng-cover seluruh wilayah idealnya membutuhkan 16 kapal selam. Yang kemampuan fregate dan corvette kita membutuhkan sekitar 30 kapal. Tetapi yang ada sekarang ini kita masih diperkuat oleh kapal-kapal eks Jerman Timur yang sudah cukup tua," katanya.