2 Kali AKBP Ari Cahya Alias Acay Bantah Tangani Perkara KM 50 Laskar FPI

Merdeka.com - Merdeka.com - Mantan Kanit I Subdit III Dittipidum Bareskrim Polri, AKBP Ari Cahya Nugraha, alias Acay membantah apabila disebut sebagai Anggota Tim dari Peristiwa KM 50 yang diminta amankan rekaman CCTV Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga.

Bantahan dari Acay menyangkut dengan perkara dugaan Obstruction of Justice (OOJ) kematian Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, terhadap terdakwa Hendra Kurniawan dan Agus Nurpatria.

"Alhamdulillah bukan, tidak pak (anggota KM 50)," jawab Acay saat hadir sebagai saksi dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis (27/10).

Sanggahan dari Acay ini dilayangkan sebanyak dua kali dalam sidang. Padahal dalam dakwaan telah dituliskan jika Acay adalah anggota Tim KM 50. Dengan merujuk pada kasus Unlawfull Killing atas enam laskar FPI yang telah disidangkan sebelumnya.

"Pernah tangani peristiwa KM 50?" tanya tim penasehat hukum terdakwa.

"Tidak bapak," jawab Acay.

Meski telah membantah terkait anggota KM 50, namun Acay mengamini apabila ditanya sebagai bawahan Ferdy Sambo termasuk juga saat disinggung soal anggota dari Tim Satgasus Merah Putih.

"Saksi pernah jadi bawahan Pak Ferdy Sambo?" tanya penasehat hukum.

"Betul," singkat Acay.

"Apa saksi anggota tim satgassus Merah Putih?" tanya lanjutan penasehat hukum

"Betul," jawab kembali Acay.

"Apa saksi di bawah naungan Sambo?" cecar penasehat hukum

"Iya beliau atasan saya," timpal Acay.

Lalu, Acay menjelaskan meski jadi bawahan Ferdy Sambo dalam Satgassus Merah Putih, namun secara struktur tugas ia berada di bawah Direktur Tindak Pidana Umum atau Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi.

"Perintah siapa yang saudara dengar? Pak dirtipidum?" tanya penasihat hukum

"Ya," singkat Acay

"Bukan pak FS?" tanya kembali penasihat hukum.

"Kan tugas Satgassus Merah Putih beda pak (dengan tugas dia di Bareskrim)," ujarnya.

Beda Dengan Dakwaan

Sebelumnya, dalam dakwaan JPU telah menyebutkan jika instruksi eks Karo Paminal Propam Polri Brigjen Hendra Kurniawan untuk mengambil rekaman CCTV sempat ditujukan ke AKBP Ari Cahya Nugraha alias Acay yang merupakan tim KM 50.

Tim KM 50 yang sempat dimintakan mengamankan CCTV, turut merujuk pada kasus Unlawfull Killing atas enam laskar FPI yang beberapa waktu lalu telah rampung disidangkan.

"Sekira pukul 08.00 Wib Hendra Kurniawan menghubungi saksi Ari Cahya Nugraha, alias Acay yang merupakan tim CCTV pada saat kasus KM 50, namun tidak terhubung," kata Jaksa dalam dakwaan perkara Obstruction of Justice yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Rabu (19/10).

Namun, saat Brigjen Hendra dan Agus Nurpatria mencoba menghubunginya kembali. Ari Cahya bisa terhubung. Dia menjelaskan posisinya yang sedang berada di Bali. Dia memerintahkan anggotanya yakni AKP Irfan Widyanto untuk menggantikan tugasnya untuk mengamankan CCTV tersebut.

"Saksi Ari Cahya Nugraha alias Acay menjelaskan, dia sedang berada di Bali dan menyampaikan nanti biar anggotanya, maksudnya saksi Irfan Widyanto yang melakukan pengecekan CCTV," ujar Jaksa.

Pada Sabtu (9/7) sekitar pukul 15.00 Wib, Irfan yang telah ditugaskan tiba di lokasi rumah dinas Kompleks Perumahan Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Sambil menunggu anggota lainnya yakni Tomser dan Munafri.

Selanjutnya, Irfan melakukan penyisiran dan menemukan ada kurang lebih sekitar 20 CCTV yang berada di kompleks Polri, Duren Tiga yang dilaporkan ke Agus Nurpatria bersama Hendra Kurniawan.

Hendra memerintahkan Agus agar tidak perlu mengamankan seluruh CCTV yang ada. Adapun CCTV yang dimaksud yakni CCTV lapangan basket di depan rumah dinas, dan CCTV milik eks Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Ridwan Soplanit.

"Saksi Agus Nurpatria Adi Purnama meminta kepada saksi lrfan Widyanto agar DVR CCTV yang berada di rumah Ridwan Rhekynellson Soplanit diambil diganti dengan yang baru," jelas jaksa.

Atas perbuatannya Terdakwa Hendra dan Agus pun didakwa karena diduga terlibat menutupi untuk menjalankan rencana skenario palsu baku tembak yang ditengarai adanya pelecehan seksual yang telah dirancang Ferdy Sambo.

"Dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan tindak apapun yang berakibat terganggunya sistem elektronik dan atau mengakibatkan sistem elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya," demikian dakwaan JPU.

Atas tindakan itu, Hendra dan Agus didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP. [rhm]