2 Kolonel TNI Pemberani di Rusuh Jakarta dan Gaduh Gatot Nurmantyo

Bayu Adi Wicaksono
·Bacaan 3 menit

VIVA – Dalam beberapa pekan ini, para petinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Jakarta benar-benar mendapatkan banyak cobaan keras dalam melaksanakan tugas menjaga keamanan Ibukota Negara Indonesia.

Namun, hebatnya semua itu dilalui dengan keberhasilan tanpa kekerasan. Malahan kegaduhan-kegaduhan itu dituntaskan dengan cara-cara sangat sopan.

Dalam catatan VIVA Militer, ada dua kasus yang membuat suasana di Jakarta jadi sorotan masyarakat Indonesia. Dan tentunya di balik semua itu ada juga sosok yang menjadi sorotan masyarakat.

Nah, di edisi kali ini, kita akan fokus membahas dua sosok Kolonel TNI pemberani dalam kegaduhan di Jakarta. Siapa saja dan bagaimana kisahnya? Simak ulasan lengkap berikut.

1. Kolonel TNI Ucu Yustiana

Kegaduhan pertama yaitu terjadi di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Pada 30 September 2020. Penyebab gaduhnya ialah, munculnya tuduhan kepada Komandan Komando Distrik Militer 0504/Jakarta Selatan, Kolonel Ucu Yustiana, bahwa dia telah menghadang atau mencegat mantan Panglima TNI, Jenderal (purnawirawan) Gatot Nurmantyo, ketika akan melakukan tabur bunga di makam pahlawan.

Saat itu, seolah-olah Kolonel Ucu telah membuat kesalahan besar. Padahal kenyataan tidak demikian, tak ada upaya penghadangan terhadap jenderal kelahiran Tegal, Jawa Tengah.

VIVA Militer: Kolonel TNI Ucu.
VIVA Militer: Kolonel TNI Ucu.

Sebaliknya, Kolonel Ucu tenang dan sopan berbicara kepada seniornya di TNI itu. Bahkan, Kolonel Ucu membungkukkan tubuhnya ketika berbicara dengan Jenderal Gatot, meskipun beberapa kali Jenderal Gatot berbicara sembari mengacung-acungkan jari telunjuknya ke tubuh sang kolonel.

Kolonel Ucu menghampiri Jenderal Gatot untuk menyampaikan beberapa aturan yang ditetapkan dalam berziarah, dan aturan itu tak hanya berlaku untuk Jenderal Gatot beserta rombongan. Tapi semua kalangan yang datang.

Aturan berziarah yang diterangkan Kolonel Ucu kepada Jenderal Gatot adalah aturan yang sesuai dengan protokol kesehatan COVID-19 yang ditetapkan pemerintah untuk mencegah penularan Virus Corona.

Yakni pembatasan jumlah massa yang akan berziarah. Sebab, memang Kolonel Ucu merupakan prajurit TNI yang bertugas dalam Satgas COVID-19.

Dan terbukti, setelah Jenderal Gatot sepakat hanya membawa 30 orang dalam rombongan ziarah ke area makam pahlawan, Kolonel Ucu memfasilitasinya dengan baik.

Keberanian Kolonel TNI Ucu dalam menjalankan tugas menghadapi rombongan Gatot Nurmantyo patut diacungi jempol. Sebab semua dilakukannya dengan baik, sopan dan sesuai aturan. Tanpa membeda-bedakan sosok yang dihadapinya dalam menerapkan protokol kesehatan.

2. Kolonel TNI Luqman Arief

VIVA Militer: Kolonel Lukman Arief
VIVA Militer: Kolonel Lukman Arief

Kegaduhan selanjutnya ialah, kerusuhan yang terjadi dalam rangkaian unjukrasa menolak Omnibus Law Cipta Kerja dari mulai 8 Oktober hingga 20 Oktober 2020.

Kerusuhan terfokus di wilayah Jakarta Pusat, sebab memang lokasi konsentrasi demonstrasi di wilayah ini.

Pada demo Selasa 13 Oktober 2020, terjadi keributan antara massa tak dikenal dengan polisi. Keributan pecah sampai malam hingga Rabu dinihari 14 Oktober 2020.

Untuk meredam aksi anarkis perusuh, polisi melakukan pembubaran paksa dengan cara memukul mundur para perusuh menggunakan tembakan gas air mata. Celakanya, perusuh kabur ke pemukiman warga dan polisi terus saja melepaskan tembakan gas air mata.

Ternyata tembakan gas air mata ke pemukiman warga memicu kemarahan warga di wilayah Kwitang. Mereka pun bergerak keluar rumah untuk melakukan pembalasan terhadap tindakan polisi.

Dalam situasi yang memanas itu, muncullah Kolonel TNI Luqman Arief. Beliau merupakan Komandan Kodim 0501/Jakarta Pusat. Dan kehadiran Kolonel Luqman ternyata mendapat respons positif dari warga. Malahan setelah berdialog, emosi warga mampu diredam dan mau mengikuti imbauan Kolonel Luqman untuk kembali ke rumah masing-masing.

VIVA Militer: TNI redam amuk warga Kwitang.
VIVA Militer: TNI redam amuk warga Kwitang.

Lalu, pada Rabu 21 Oktober 2020, keributan kembali terjadi dalam unjukrasa di sekitar kawasan Patung Kuda. Massa tak dikenal yang membonceng unjukrasa mahasiswa menyerang polisi. Dan ketika itu polisi memutuskan untuk mundur.

Di tengah situasi yang mulai panas itu, dengan gagah berani Kolonel Luqman muncul dan maju paling depan berhadapan langsung dengan massa.

Dengan pengeras suara, Kolonel itu mulai berbicara lantang namun sangat humanis kepada massa. "Adik-adik semua saya jamin aman pulang. Luar biasa adik-adik hari ini. Adik-adik semua dikawal tentara untuk pulang," kata Kolonel itu.

Situasi mendadak mulai tenang, beberapa massa mendekati sang Kolonel TNI dan berbicara dari balik barikade pagar duri. 10 menit kemudian, massa akhirnya mundur dari lokasi tanpa melakukan tindak kekerasan.

Sebelum membubarkan diri, massa meneriakkan yel-yel, "Terimakasih bapak TNI," berulang kali. Sekitar pukul 17.45, Prajurit Marinir dan prajurit gabungan dari Yonmekanis 202, Yonmekanis 203 serta Yonkav 9 mulai memasuki barisan massa.

Sekarang sudah tahukan, siapa dua sosok Kolonel TNI yang jadi sorotan di tengah kegaduhan yang tercipta di Ibukota Jakarta?.

Baca: Jenderal TNI AU Ajudan SBY Dimutasi dari Jabatan Kepala Basarnas