2 Orang Tewas dan 20 Terluka dalam Demonstrasi Anti-Kudeta Militer Myanmar

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Mandalay - Dua orang dilaporkan tewas dalam protes anti-kudeta militer Myanmar --menjadikan peristiwa itu sebagai aksi kekerasan terburuk dalam lebih dari dua pekan demonstrasi.

Polisi disebut menggunakan peluru tajam untuk membubarkan demonstran di Mandalay, kata laporan dari lapangan. Setidaknya 20 orang terluka, demikian seperti dikutip dari BBC, Minggu (21/2/2021).

Ratusan orang berkumpul untuk unjuk rasa di galangan kapal di kota terbesar kedua di Myanmar itu.

Demonstran menuntut pembebasan pemimpin sipil terpilih Aung San Suu Kyi ditahan usai menjadi target kudeta militer 1 Februari 2021.

Pendemo juga menunut pembebasan anggota lain dari partai National League for Democracy (NLD) pimpinan Suu Kyi.

Militer menyebut kemenangan telak NLD dalam pemilu November 2020 adalah kecurangan, tetapi belum memberikan bukti.

Bentrokan pecah di Mandalay ketika polisi berhadapan dengan demonstran dan menyerang pekerja galangan kapal.

Laporan mengatakan beberapa pengunjuk rasa melemparkan proyektil ke polisi, yang merespons dengan gas air mata dan peluru tajam.

Beredar foto-foto yang menunjukkan temuan kartrid peluru di lokasi demo.

Kerabat salah satu dari korban tewas mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa korban adalah seorang tukang kayu, berusia 36 tahun, yang tertembak di dada. Korban jiwa lainnya - laporan mengatakan seorang anak di bawah 18 - tertembak di kepala.

Uni Eropa mengatakan sangat mengutuk kekerasan itu dan kedutaan besar AS di Myanmar mengatakan itu "sangat bermasalah".

Singapura, investor besar di Myanmar, memperingatkan "konsekuensi merugikan serius bagi Myanmar dan kawasan" jika kekerasan terus meningkat.

Total Korban Tewas Selama Demo Anti-Kudeta

Seorang pengunjuk rasa mengacungkan salam tiga jari saat demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar pada Sabtu (6/2/2021). Menurut saksi mata, aksi tersebut adalah demonstrasi jalanan terbesar yang berlangsung di Myanmar sejak kudeta hari Senin, 1 Februari lalu. (STR / AFP)
Seorang pengunjuk rasa mengacungkan salam tiga jari saat demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar pada Sabtu (6/2/2021). Menurut saksi mata, aksi tersebut adalah demonstrasi jalanan terbesar yang berlangsung di Myanmar sejak kudeta hari Senin, 1 Februari lalu. (STR / AFP)

Pada Jumat 19 Februari 2021, seorang wanita muda menjadi kematian pertama yang dikonfirmasi dari protes --menjadikan keseluruhan total korban tewas menjadi tiga untuk saat ini.

Mya Thwe Thwe Khaing ditembak di kepala pada 9 Februari pada unjuk rasa di ibukota Nay Pyi Taw. Kelompok-kelompok hak asasi mengatakan luka-lukanya konsisten dengan penggunaan amunisi hidup. Polisi membantah menggunakan kekuatan mematikan.

Di sisi lain, otoritas militer mengatakan seorang polisi telah tewas sejak protes dimulai setelah kudeta 1 Februari.

Demonstrasi lebih lanjut terjadi pada hari Sabtu di beberapa kota, termasuk Yangon, di mana penduduk menggedor panci dan menyalakan lilin di luar kedutaan AS. Pasukan keamanan sebagian besar meninggalkan demonstran sendirian.

Simak video pilihan berikut: