2 Petani Tewas dalam Bentrok Berdarah di Lahan Tebu, Bupati Majalengka Geram

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Majalengka - Bupati Majalengka Karna Sobahi menyayangkan terjadinya bentrok di lahan tebu di perbatasan Indramayu-Majalengka, Senin (4/10/2021) kemarin.

Bentrok tersebut mengakibatkan dua petani tebu asal Kabupaten Majalengka meninggal dunia. Bupati Karna meminta pelaku ditangkap dan diproses hukum.

Diketahui, bentrokan terjadi di lahan tebu milik PG Jatitujuh perbatasan Kabupaten Indramayu-Kabupaten Majalengka, tepatnya di Desa Kerticala, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu.

Sementara dua korban meninggal dunia atas nama Suenda, warga Desa Sumber Kulon, Kecamatan Jatitujuh dan Yayan, warga Desa Jatiraga, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.

Korban berasal dari kelompok yang tergabung dalam kemitraan dengan PG Jatitujuh. Sedangkan para terduga pelaku penyerangan, berasal dari kelompok yang menolak kemitraan tersebut.

"Kami turut berduka cita atas meninggalnya warga kami warga kami yang tinggal di Desa Jatiraga Kecamatan Jatitujuh dan Desa Sumber Kulon Kecamatan Jatitujuh yang menjadi korban penganiyaan oleh kelompok masa yang berasal dari Indramayu," tuturnya saat mendatangi kediaman korban, Selasa (5/10/2021).

Bupati Karna menuturkan, peristiwa ini seringkali terjadi dan perlu segera diselesaikan mencari jalan keluar agar tidak ada lagi sengketa perebutan lahan hingga berujung bentrok.

Karna menyesalkan dan meminta aparat kepolisian segera menindak tegas para pelaku. Karna meminta kepada keluarga korban untuk bersabar dan bertawakal menerima kenyataan ini.

"Tentu sangat berat menerima kenyataan, semua orang pasti menyesalkan,"ujar Karna.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Cari Solusi

Tidak hanya itu, Bupati Karna juga mendesak pimpinan pabrik gula agar mencari solusi dan memastikan para petani penggarap lahan tanam tebu diberikan jaminan keselamatan.

Bupati Indramayu Nina Agustina mengatakan, sengketa lahan yang diselesaikan dengan cara kekerasan tidak hanya merugikan petani. Namun, juga akan ikut mengganggu iklim investasi daerah.

Nina menilai, keberadaan petani seharusnya dilindungi dan bukan dijadikan obyek untuk kepentingan kelompok tertentu. Karena itu, dia berharap agar aksi premanisme yang berkedok 'melindungi petani' tidak terjadi lagi di Kabupaten Indramayu.

"Kasihan petani kita, seharusnya jangan diseret ke pusaran konflik kepentingan kelompok. Secara pribadi, saya prihatin dan menyampaikan terima kasih kepada Polres dan Kodim Indramayu atas tindakan tegas ini," kata Nina.

Nina mengaku sudah berupaya menahan diri kepada kelompok yang berseteru. Upaya tersebut, kata dia, sebagai bagian dari pemerintah daerah menjaga iklim investasi yang aman dan nyaman.

"Investasi itu sensitif, kasus-kasus seperti ini tentu akan membuat investor berhitung soal kenyamanan dan keamanan," cetus Nina.

Untuk itu, Nina menjamin setiap bentuk kekerasan dan pelanggaran hukum yang berimplikasi terhadap gangguan iklim investasi, akan diberangus dari Kabupaten Indramayu.

"Saya pikir di daerah manapun, atau di belahan dunia manapun, tidak akan pernah membiarkan bentuk kekerasan. Saya menjamin, situasi di Indramayu aman dan nyaman untuk berinvestasi," tandas Nina.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel