2 Teknologi Canggih Ini Baru E-Commerce dan Bank Besar yang Pakai

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Teknologi maha data dan kecerdasan buatan (big data and artificial intelligence/AI) menjadi tren teknologi yang sudah banyak dibicarakan. Bahkan, keduanya telah diadopsi oleh perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, tidak banyak yang paham bagaimana mengimplementasikannya dengan baik.

Pendiri Rosebay Group, Rohit Kumar mengatakan, data yang dipadukan dengan kecerdasan buatan akan menjadi data pintar (smart data). Data pintar itulah yang akan memberikan banyak manfaat bagi perusahaan. Mulai dari mengurangi risiko diambilnya keputusan yang salah, efisiensi, rekomendasi, hingga pemasaran.

Baca: Oppo Hadirkan Ponsel dengan Kecerdasan Buatan

"Dengan data, kita bisa mengirim iklan SMS atau email ke konsumen. Dibantu kecerdasan buatan, kita juga bisa menentukan apakah iklan SMS dan email tersebut benar-benar terkirim ke konsumen yang sesuai,” ujar Rohit, dalam sesi diskusi Big Data & Artificial Intelligence, Kamis, 26 November 2020.

Lantas, bagaimana di Indonesia? Ia melihat big data adalah wilayah baru. Begitu pula dengan artificial intelligence (AI). Padahal, kata Rohit, kebutuhan akan smart data sangat tinggi. ”Di Indonesia ada banyak peluang untuk mengolah data dengan baik. Karena, banyak perusahaan yang masih mengolah datanya secara manual,” paparnya.

Adapun saat ini big data dan AI hanya digunakan oleh perusahaan e-commerce atau perbankan besar. ”Kami ingin menutup celah itu supaya big data dan AI bisa lebih merata. Kami ingin mewujudkan lebih banyak lagi perusahaan yang berorientasi pada data (data driven organization) dalam menjalankan bisnis mereka,” tutur Rohit.

Menurutnya, ada 3 area yang terus dikembangkan Rosebay Group dalam menyediakan layanan big data dan AI terbaik di Indonesia. Pertama, teknologi face recognition di sektor keuangan yang akurat dan mempermudah nasabah bank untuk mencocokkan identitas dan mencegah penipuan/fraud.

Kedua, mengurangi bottle neck atau penyumbatan adopsi Big Data dan AI di Indonesia. ”Karena, banyak yang tidak bisa mengaplikasikan big data dan AI dengan baik. Saya melihat ada perusahaan yang menghabiskan waktu 2 tahun untuk persiapan dan implementasi, tapi tidak mendapatkan hasil sesuai harapan,” ungkap Rohit.

Ketiga, soal keamanan dengan menggabungkan teknologi blockchain dan AI. ”Kombinasi blockchain dan AI bisa memprediksi kapan security breach (kebocoran/pembobolan data) akan terjadi. Blockchain akan membuat data sangat aman, sedangkan AI akan melakukan prediksi dan melakukan pencegahan (counteractive measures)," jelasnya.

Apakah UMKM perlu big data dan AI? Blockchain Business Solution Rosebay Group, Meera Tiwari, menjawab tentu saja. ”Banyak UMKM merasa big data dan AI tidak relevan bagi mereka, karena perusahaan mereka baru saja dibentuk dan masih memiliki sedikit sekali data tentang konsumen," ungkap dia.

Selain Indonesia, ia menemukan kasus serupa di Vietnam dan Kamboja. Padahal teknologi AI bisa melakukan melakukan prediksi hingga rekomendasi tentang seluk-beluk atau perilaku konsumen. ”Jadi, siapa pun bisa mendapatkan keuntungan jika menggunakan AI,” klaim Meera.

Hal yang sama juga terjadi pada blockchain. Ia mengatakan jika kebutuhan penyimpanan data secara aman lewat teknologi blockchain dibutuhkan oleh semua perusahaan, baik kecil maupun besar. ”Kami melihat blockchain akan menjadi teknologi yang umum digunakan oleh semua perusahaan dalam 5-10 tahun ke depan,” tuturnya.