2 Usul Bos Bio Farma agar Jemaah Haji Indonesia bisa Masuk Arab Saudi

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir mengusulkan 2 hal kepada pemerintah agar jemaah haji Indonesia bisa diperbolehkan masuk.

Pertama, pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri bisa melobi Arab Saudi agar mengizinkan vaksin Sinovac bisa menjadi syarat keberangkatan calon jemaah haji Indonesia.

Saat ini, Arab Saudi baru mengizinkan jemaah haji yang masuk yang mendapatkan vaksin dari Eropa dan Amerika. Seperti Pfizer, Moderna, Johnson and Johnson dan AstraZeneca.

"Indonesia sendiri baru memiliki satu jenis vaksin yang sesuai dengan kriteria Arab Saudi yaitu Astrazeneca," ungkap dia dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (25/5/2021).

Honesti menilai usulan tersebut memiliki landasan yang kuat. Mengingat, saat ini vaksin Sinovac tengah proses memperoleh use listing procedure atau EUL dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kemudian, pihaknya juga meyakini pada minggu pertama atau minggu kedua Juni mendatang vaksin Sinovac sudah memperoleh use listing procedure atau EUL dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Kami memastikan semua vaksin di indonesia bisa dapat EUL secepatnya. Kami harap ini bisa dikomunikasikan dengan Arab Saudi," terangnya.

Opsi Lain

Vaksin COVID-19 Sinovac Biotech Ltd ditampilkan dalam konferensi pers di Beijing, China, 24 September 2020. Sebanyak 1,2 juta dosis vaksin COVID-19 Sinovac telah sampai di Indonesia, sementara 1,8 juta dosis lagi akan menyusul kemudian. (WANG ZHAO/AFP)
Vaksin COVID-19 Sinovac Biotech Ltd ditampilkan dalam konferensi pers di Beijing, China, 24 September 2020. Sebanyak 1,2 juta dosis vaksin COVID-19 Sinovac telah sampai di Indonesia, sementara 1,8 juta dosis lagi akan menyusul kemudian. (WANG ZHAO/AFP)

Tak hanya itu, Honesti mengusulkan opsi lainnya terhadap proses negosiasi dengan pemerintah Arab Saudi.

Yaitu bagi calon jemaah haji asal Indonesia yang telah disuntik vaksin Sinovac untuk bisa memperoleh layanan vaksinasi kembali dengan jenis AstraZeneca.

Kendati demikian, opsi tersebut harus dikomunikasikan lebih lanjut dengan pemangku kepentingan terkait. Diantaranya BPOM, Komnas KIPI, hingga ITAGI.

"Apakah mereka boleh diberikan vaksin AstraZeneca?. Tapi ini tentu dipertimbangkan oleh ahlinya," tukas dia.

Saksikan Video Ini