20 September 2021: Total Infeksi COVID-19 Dunia 228 Juta, Kasus AS 42 Juta

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Washington, DC - Kasus COVID-19 di Amerika Serikat terus menanjak usai musim panas 2021. Berdasarkan data Johns Hopkins University, Senin (20/9/2021), totalnya ada 42 juta kasus corona di negara itu.

Selama 28 hari terakhir, ada 4,2 juta kasus baru di AS. Artinya, 10 persen infeksi virus corona terbaru berasal dari sebulan terakhir, meski demikian angka kematian mingguan di AS masih belum melonjak tinggi.

Pihak CDC berkata infeksi yang terjadi adalah akibat ada warga yang masih ogah divaksinasi. Pakar kesehatan pun mendorong agar lebih banyak orang mendapatkan vaksin COVID-19 dua dosis.

Kasus tinggi lainnya berada di India dengan total 1 juta kasus dalam 28 hari terakhir. Totalnya, ada 33,4 juta kasus di negara tersebut.

Korea Selatan juga sedang waspada karena banyaknya warga mudik di liburan Chuseok. Akhir pekan lalu, kasus harian tembus 2.000 kasus.

Penularan di Indonesia sedang menurun dengan cukup cepat, sehingga kasus barunya termasuk yang paling sedikit di Asia Tenggara. Malaysia masih mencatat kasus baru terbanyak di kawasan ini dengan total 547 ribu kasus.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Vaksin Booster di AS

Presiden AS terpilih, Joe Biden melakukan fist bump setelah menerima dosis pertama vaksin virus corona Pfizer-BioNTech di Rumah Sakit Christiana di Newark, Delaware, Senin (21/12/2020). Istrinya, Jill Biden, menerima rangkaian vaksin pertamanya pada hari sebelumnya. (AP Photo/Carolyn Kaster)
Presiden AS terpilih, Joe Biden melakukan fist bump setelah menerima dosis pertama vaksin virus corona Pfizer-BioNTech di Rumah Sakit Christiana di Newark, Delaware, Senin (21/12/2020). Istrinya, Jill Biden, menerima rangkaian vaksin pertamanya pada hari sebelumnya. (AP Photo/Carolyn Kaster)

Sebelumnya dilaporkan, panel kesehatan yang menjadi penasihat Badan Obat dan Makanan AS (FDA) memutuskan bahwa vaksin booster COVID-19 dari Pfizer hanya untuk lansia usia 65 tahun ke atas. Artinya, mayoritas populasi tak boleh disuntik vaksin COVID-19 dosis tiga ini.

Berdasarkan laporan AP News, Sabtu (18/9), keputusan panel kesehatan itu berlawanan dengan keingingan Gedung Putih yang ingin vaksin booster segera didistribusikan demi menangkal COVID-19 varian delta.

Kini, peluang generasi X, milenial, hingga generasi Z untuk mendapat vaksin booster dalam waktu dekat nyaris tertutup. Sementara, peluang bagi boomer semakin prospektif.

Alasannya adalah masih kurangnya data keselamatan untuk dosis ekstra, selain itu mayoritas kasus baru juga berasal dari yang belum divaksin, sehingga lebih baik vaksin booster diberikan ke kelompok tertentu saja.

Orang dengan penyakit bawaan didukung untuk mendapatkan vaksin, begitu pula para tenaga kesehatan.

Rekomendasi dari panel itu diberikan kepada BPOM sebelum mengambil keputusan. CDC juga dijadwalkan ikut memberikan pandangan pada pekan depan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel