Pertempuran Pedang Yerusalem, Konflik Berdarah di Hari Raya

·Bacaan 1 menit

VIVAIsrael dan kelompok pejuang Hamas Palestina akhirnya sepakat untuk melakukan gencatan senjata, setelah pertempuran pecah selama 11 hari. Baik militer Israel dan para pejuang Hamas tetap mengklaim kemenangan berada di pihaknya.

Menurut laporan yang dikutip VIVA Militer dari Israel National News, ada 200 orang warga Palestina tewas akibat serangan roket militer Israel. Sebaliknya, jumlah tersebut diklaim sebagai sebuah bentuk kemenangan negara Zionis itu.

Di sisi lain, Hamas juga mengaku jadi pemenang perang. Anggota Biro Politik Hamas Palestina, Ezzat El-Reshiq, meyakini bahwa para rakyat Palestina kehilangan nyawa dalam konflik ini adalah seorang syuhada.

Menurut El-Reshiq, rakyat Palestina tahu persis bahwa mereka harus melakukan perlawanan untuk membebaskan tanah air mereka dari cengkraman Israel. Mewakili Hamas, El-Reshiq menyebut perang itu dengan julukan "Perang Pedang Yerusalem".

"Apa yang terjadi setelah pertempuran "Pedang Yerusalem" tidak seperti yang terjadi sebelumnya, Karena, rakyat Palestina mendukung perlawanan dan tahu bahwa perlawanan sesuatu yang akan membebaskan tanah mereka. Dan, melindungi situs suci mereka," ucap El-Reshiq.

Pernyataan El-Reshiq terkait perjuangan untuk melindungi situs suci Islam, Masjid Al-Aqsa, sangat lah tepat. Sebab seperti yang diketahui, faktor utama yang jadi penyebab konflik berdarah ini adalah intimidasi militer Israel.

Pada 10 Mei 2021, sejumlah polisi Israel menggeruduk dan menyerang sejumlah warga Palestina, yang tengah melakukan ibadah Salat Tarawih di Masjid Al-Aqsa.