21-08-1961: Pembebasan Jomo Kenyatta, Bapak Pendiri Kenya yang Pernah Dipenjara 9 Tahun

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Nairobi - Hari ini tercatat sejarah pada tahun 1961 sebagai momen pemimpin gerakan kemerdekaan Kenya, Jomo Kenyatta resmi dibebaskan oleh otoritas kolonial Inggris setelah hampir sembilan tahun dipenjara dan ditahan.

Dua tahun kemudian, Kenya mencapai kemerdekaan dan Jomo menjadi perdana Menteri.

Jomo digambarkan sebagai simbol nasionalisme Afrika yang mengancam, tetapi ia yang membawa stabilitas ke negara itu dan membela kepentingan Barat selama 15 tahun sebagai pemimpin Kenya.

Dilansir dari History, Jomo lahir di dataran tinggi Afrika Timur di barat daya Gunung Kenya pada 1980-an.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Lika-liku Perjalanan Jomo Kenyatta

Jomo Kenyatta, presiden pertama Kenya pasca-merdeka dari Inggris (Wikimedia Commons)
Jomo Kenyatta, presiden pertama Kenya pasca-merdeka dari Inggris (Wikimedia Commons)

Dia adalah anggota kelompok etnis Kikuyu, salah satu etnis terbesar di Kenya, dan dididik oleh misionaris Presbiterian.

Pada 1920, Kenya secara resmi menjadi tanah jajahan inggris, dan pada 1921, Jomo tinggal di ibukota kolonial Nairobi.

Di sana dia terlibat dalam gerakan nasionalis Afrika, kemudian dia naik jabatan menempati posisi sekretaris jenderal Asosiasi Pusat Kikuyu, sebuah organisasi yang menentang perempasan tanah suku oleh pemukin Eropa pada 1928.

Pada 1929, untuk pertama kalinya Jomo pergi ke London untuk memprotes kebijakan kolonial, tetapi pihak berwenang menolak untuk bertemu dengannya.

Usaha Jomo tidak berhenti di sana, tahun-tahun berikutnya dia datang lagi ke London untuk mengajukan petisi bagi hak-hak Afrika. Lalu, dia menetap di Eropa pada 1930-an untuk menerima Pendidikan formal di berbagai institusi, termasuk Universitas Moskow.

Pada 1938, dia menerbitkan sebuah karya Menghadap Gunung Kenya, yang memuji masyarakat tradisional Kikuyu dan membahas penderitaannya di bawah pemerintahan kolonial. Selama Perang Dunia II, dia tinggal di Inggris untuk mengajar dan menulis.

Pada 1946, Jomo kembali ke Kenya, dan setahun setelah itu dia menjadi Presiden Kenya African Union (KAU) yang baru dibentuk.

Dia mendorong kekuasaan mayoritas, merekrut Kikuyu dan non-Kikuyu masuk dalam gerakan non-kekerasan, tetapi minoritas pemukim kulit putih pantang menyerah dalam menolak peran penting orang kulit hitam dalam pemerintahan kolonial.

Kemudian, tahun 1952, kelompok ekstremis Kikuyu bernama Mau Mau memulai perang gerilya melawan para pemukim dan pemerintah kolonial.

Perang tersebut menimbulkan pertumpahan darah, kekacauan politik, dan penahanan paksa puluhan ribu Kikuyu.

Jomo memainkan peran kecil dalam pemberontakan, tetapi dia difitnah oleh Inggris dan diadili pada 1952 dengan lima pemimpin KUA lainnya karena mengelola organisasi teroris Mau Mau.

Seorang advokat non-kekerasan dan konservatisme menyatakan Jomo bersalah dalam pengadilan yang dipolitisir dan akhirnya dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara.

Bebas Setelah Mendekam Dibalik Jeruji Besi Selama 9 tahun

Ilustrasi penjara (AFP)
Ilustrasi penjara (AFP)

Jomo menghabiskan enam tahun di penjara, lalu dikirim ke pengasingan internal di Lodwar, di mana dia tinggal di bawah tahanan rumah.

Hingga saatnya, pemerintah Inggris perlahan mulai menyerahkan Kenya ke pemerintahan mayoritas kulit hitam. Pada 1960, Kenya African National Union (KANU) diorganisir oleh kaum nasionalis kulit hitam, dan Jomo terpilih sebagai presiden.

Partai tersebut mengumumkan tidak andil dalam pemerintahan sampai Jomo dibebaskan. Jomo menjanjikan perlindungan hak-hak warga di Kenya yang merdeka.

Akhirnya, tepatnya 14 Agustus 1961, dia diizinkan untuk kembali ke Kikuyu dan secara resmi dibebaskan pada 21 Agustus.

Bapak Pendiri Kenya

Jomo Kenyatta (AFP)
Jomo Kenyatta (AFP)

Tahun 1962, dia pergi ke London untuk merundingkan kemerdekaan Kenya, lalu dia memimpin KANU meraih kemenangan dalam pemilihan pra-kemerdekaan pada Mei 1963.

Tepat tanggal 12 Desember 1963, Kenya merayakan kemerdekaannya, dan Jomo secara resmi menjadi perdana menteri. Tahun berikutnya, sebuah konstitusi baru menetapkan Kenya sebagai republik, dan Jomo terpilih sebagai presiden.

Dalam kepemimpinannya, Jomo mendorong kerjasama rasial, mempromosikan kebijakan ekonomi kapitalis, dan mengadopsi kebijakan luar negeri yang pro-barat. Dia menggunakan wewenangnya untuk menekan oposisi politik, terutama dari kelompok radikal.

Kenya menjadi negara satu partai, hal ini menghasilkan stabilitas yang menarik investasi asing di Kenya.

Jomo tutup usia pada 22 Agustus 1978, dan digantikan oleh Daniel Arap Moi, yang melanjutkan sebagian besar kebijakannya.

Dikenal dengan kasih sayangnya dan disebut sebagai mzee atau orangtua dalam Bahasa Swahili, Jomo dirayakan sebagai bapak pendiri Kenya, serta orang berpengaruh di seluruh Afrika.

Reporter: Cindy Damara

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel