25 Hal Unik yang Cuma Ada di Sepak Bola Indonesia: Timnas Ada 2 (Bagian 3)

Jakarta Bicara hal-hal unik dan lucu di sepak bola Indonesia seolah tidak ada habisnya. Ada saja momen atau peristiwa yang membuat pecinta bola geleng-geleng kepala. 

Insiden yang sangat sulit dihapus dari kenangan tentu saja dualisme kompetisi, timnas, hingga klub, pada musim 2011-2012. Kasus seperti itu tampaknya tak ada di belahan dunia lainnya. Bagaimana mungkin sebuah negara memiliki dua tim nasional yang berbeda?  

Situasi dualisme tersebut dipicu kisruh di PSSI yang akhirnya merembet ke mana-mana. Suporter dan pemain juga yang akhirnya menjadi korban. 

Pemain dan suporter jadi korban permainan politis di level tinggi. Ujungnya, prestasi sepak bola Indonesia yang jadi taruhannya. 

Selain kasus dualisme, masih ada beberapa keunikan lain yang mungkin hanya ada di sepak bola Indonesia. Berikut ini ini tujuh fakta terakhir dari keunikan sepak bola Indonesia. 

19. Dualisme Timnas Indonesia Jelang Piala AFF 2012

Pemain Timnas Indonesia Raphael Maitimo berusah keluar dari jagaan pemain Timnas Laos dalam Laga Piala AFF Suzuki 2012 Minggu 25 November 2012, di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur Malaysia. Pertandingan berakhir dengan Skor 2-2.

Sebuah negara memiliki dua tim nasional? Mungkin hanya terjadi di Indonesia. Fenomena aneh tersebut terjadi menjelang Piala AFF 2012. 

Dualisme kepengurusan PSSI berimbas besar kepada Tim Garuda, yang sempat mengalami perpecahan. Hasilnya cukup buruk, Tim Merah-Putih yang tidak dibentuk dari pemain-pemain terbaik hanya berkiprah di babak penyisihan grup di Malaysia.

Tim Garuda yang berangkat ke Malaysia dipimpin oleh pelatih Nilmaizar, diisi oleh mayoritas dari klub-klub Indonesia Premier League (IPL).

Pemain-pemain asal klub Indonesia Super League (ISL) melakukan aksi boikot karena diancam diputus kontrak oleh klubnya. Hanya Bambang Pamungkas (Persija Jakarta) dan Oktovianus Maniani (Persiram Raja Ampat) yang datang memenuhi panggilan membela negara.

Saat itu klub-klub ISL tengah melakukan pemberontakan ke PSSI, yang mengubah sistem kompetisi profesional dengan mengabaikan statuta. Disokong sejumlah anggota Komite Eksekutif PSSI, mereka kemudian membuat organisasi tandingan, Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI).

Jelang Piala AFF 2012, KPSI sempat membentuk timnas sendiri dengan asuhan Alfred Riedl, yang belakangan eksistensinya tidak diakui AFF.

Alhasil Nil Maizar hanya memberdayakan pemain alakadarnya. Ia bahkan sampai harus memasukkan nama Elie Aiboy, pemain gaek yang sejatinya tidak lagi cukup pantas membela Tim Merah-Putih.

Untuk menambal skuat Timnas Indonesia, PSSI mendatangkan pemain naturalisasi, Raphael Maitimo, Tonnie Cussel, dan Jhon van Beukering, yang sayangnya performanya ternyata di bawah ekspetasi.

Dampaknya compang-campingnya skuat Timnas Indonesia berimbas ke lapangan. Tim Garuda hanya mampu bermain 2-2 saat berhadapan dengan Laos. 

Pada laga kedua Indonesia menghadapi Singapura, tim yang sudah dua kali menjadi juara Piala AFF, yaitu pada 2004 dan 2007. Namun, di pertandingan inilah Timnas Indonesia mampu memperlihatkan sebuah titik balik yang bagus walau hanya menang tipis 1-0.

Pada pertandingan terakhir, Indonesia takluk dari Malaysia. Irfan Bachdim dkk. pun tersingkir.

Perjalanan Timnas Indonesia di Piala AFF 2012 menjadi cermin dari permasalahan dualisme PSSI yang berimbas kepada dualisme liga, dan akhirnya menjadi dualisme Timnas Indonesia, sehingga tim yang beraksi di level internasional pun harus diakui bukan yang terbaik.  

20. Hampir Semua Klub Sepak Bola Tak Punya Stadion Sendiri

Pemain sayap Persebaya Surabaya, Irfan Jaya, berusaha melepaskan diri dari kepungan pemain Persela Lamongan saat kedua tim bertanding di laga pekan keenam Shopee Liga 1 2019 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Senin (1/7/2019). Persebaya menang 3-2 dalam laga ini. (Bola.com/Aditya Wany)

Indonesia memiliki kompetisi sepak bola yang terdiri dari beberapa divisi. Alhasil, jumlah klub di Indonesia juga sangat banyak, bahkan ratusan. 

Namun, yang memprihatinkan, hampir semua klub profesional tak memiliki stadion sendiri. Klub-klub tersebut memakai stadion milik pemerintah daerah.

Contohnya Arema FC yang memakai Stadion Kanjuruhan, Persebaya menggunakan Stadion Gelora Bung Tomo, PSS bermarkas di Stadion Maguwoharjo, dan lain-lain. Semuanya harus menyewa ke pemerintah daerah.  

Hanya satu klub yang mengklaim memiliki stadion sendiri, yaitu Bhayangkara FC. Mereka bermarkas di Stadion PTIK, Jakarta.  

21. Lima Wasit Tempuh 24 Jam, Termasuk Naik Kapal Laut, demi Pimpin Pertandingan

Effendi Djumadi, bercerita perjalanan seru dengan kapal laut dari Biak menuju Serui, Papua. (Bola.com/Robby Firly)

Wasit harus menempuh perjalanan selama 24 jam untuk memimpin pertandingan di sebuah pertandingan liga domestik, termasuk naik kapal laut, mungkin hanya ada di Indonesia. Kondisi demograsi Indonesia yang berupa negara kepulauan, dengan moda transportasi yang belum semuanya lengkap, membuat situasi seperti itu tak terhindarkan. 

Kisah heroik tersebut dialami lima wasit yang harus mengarungi perjalanan panjang ke Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, untuk memimpin laga di pentas Torabika Soccer Championship presented by IM3 Ooredoo. Itu adalah laga kandang perdana Perseru kontra Mitra Kukar di Stadion Marora, Senin, 2 Mei 2016.

Lima korps pengadil yang terdiri dari Cahyanto (PP), Djumadi Effendi (wasit), Jerry Elly (wasit cadangan), Sukri Sulaiman, dan Zaenal Khotamilaili (asisten wasit) harus menyiapkan fisik dan mental.

Djumali Effendi mengungkapkan dirinya harus menghabiskan waktu 24 jam sejak berangkat dari Malang hingga Serui.

"Saya dari Malang Jumat (29/4/2016) malam, dan tiba di Serui, Sabtu (30/4/2016) malam. Ini perjalanan paling gila dan melelahkan selama saya jadi wasit. Momen paling menjemukan ketika di atas kapal cepat Biak-Serui. Tapi saya coba membunuhnya dengan bernyanyi karena di kapal disiapkan tempat karaoke. Terkadang juga berdiri di pinggir kapal untuk melihat keindahan laut Papua," ucap Djumadi Effendi.

Selain faktor fisik dan mental, semua korps baju hitam masing-masing harus merogoh kocek sangat dalam untuk menunaikan tugas mulia itu.

"Saya siapkan Rp 3 juta untuk biaya di jalan. Itu belum termasuk tiket pergi-pulang pesawat dan kapal cepat. Tiket kapal laut kelas VIP Rp 1,2 juta bolak-balik," papar Djumadi Effendi.

Para perangkat pertandingan terpaksa ke Serui dengan moda transportasi laut, karena mereka harus mengalah dengan tim Mitra Kukar. Tim tamu dapat prioritas ke Biak-Serui dengan pesawat. "Kami terpaksa harus jadi korban. Karena hanya ada tiga kali penerbangan Biak-Serui. Itu pun dengan pesawat kecil yang bisa mengangkut 15 orang," kata Djumadi Effendi.

Untuk menjalankan tugas ini, ujar Djumadi Effendi, total durasi perjalanan pun bisa mencapai lima hari. 

"Untuk pertandingan Perseru melawan Mitra Kukar, saya berangkat H-2 dan pulang H+2. Saat pulang harus menginap di Biak untuk menunggu penerbangan ke Surabaya. Bahkan tiga teman lainnya terpaksa bermalam dua hari sebelum pulang. Karena semua penerbangan penuh menyambut libur panjang pekan ini," jelasnya.

 

22. Tanda Bintang di Jersey yang Tak Jelas Regulasinya

Pemain Persija Jakarta saat launching tim dan jersey 2019 di Epicentrum, Jakarta, Jumat (17/5). Tim berjulukan Macan Kemayoran itu memperkenalkan 30 pemain serta jersey untuk berlaga di Liga 1 2019. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Beberapa klun di Liga Indonesia menyematkan tanda bintang di jersey mereka. Tanda bintang tersebut menandakan klub tersebut pernah menjadi juara liga. 

Namun, tidak ada regulasi khusus tentang penerapan tanda bintang di jersey di Indonesia. Di Italia, satu tanda bintang di jersey menandakan klub yang bersangkutan telah 10 kali merebut gelar Serie A atau Scudetto. Artinya, klub baru menambah bintang jika minimal juara 20 kali. 

Di Indonesia tidak ada aturan khusus. Ada klub yang memasang bintang sesuai dengan jumlah gelar liga yang mereka miliki. Tapi, ada juga yang membuat aturan sendiri.

Persija Jakarta misalnya. Pada babak 8 besar Piala Presiden 2018 kontra Kalteng Putra (28 Maret 2019), Persija mengenakan jersey dengan hanya menyematkan satu bintang. Padahal, Persija baru saja meraih gelar juara untuk kali kedua di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.  

Saat itu, Ketua Jakmania, Ferry Indrasjarief, mengatakan pemasangan bintang itu tak perlu dipersoalkan. Alasannya, di Indonesia memang tidak ada regulasi khusus yang mengatur penambahan bintang saat meraih titel juara. 

 

 

 

23. Tradisi Ziarah demi Mencari Berkah

Selebrasi gol PSIM yang dicetak Syaiful Indra Cahya ke gawang Persiba Balikpapan di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Kamis (22/8/2019). (Bola.com/Vincentius Atmaja)

Beberapa tim sepak bola Tanah Air masih memiliki tradisi yang unik, seperti ziarah ke makam jelang kompetisi supaya mendapat berkah untuk modal mengarungi persaingan ketat. 

Tim yang masih memegang tradisi tersebut antara lain Persis Solo dan PSIM Yogyakarta. Skuat Persis Solo biasanya melakukan ziarah ke makam Raden Mas Said atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa, di Kompleks Astana Giri Bangun, Matesih, Karanganyar. 

Pangeran Sambernyawa merupakan tokoh yang namanya kemudian diadopsi menjadi julukan Persis Solo.  

Jika Persis ziarah ke makam Pangeran Sambernyawa, PSIM biasanya ziarah ke makam raja-raja Mataram di Imogiri, Bantul dan makam Sultan Hamengkubuwono IX. Itu sudah menjadi tradisi PSIM menjelang kompetisi. Tujuannya juga sama, supaya mendapat berkah menjelang bersaing di kompetisi yang ketat. 

Sesuai aturan, para pemain dan tim pelatih harus mengenakan pakaian adat untuk masuk kompleks makam raja-raja Mataram itu. 

 

24. Pernah Terjadi Dualisme Klub

Persebaya 1927 optimistis memenuhi syarat verifikasi yang ditentukan BOPI sebelum tampil jadi peserta turnamen ISL 2016. (Bola.com/Zaidan Nazarul)

Hal unik apa yang mungkin hanya terjadi di Indonesia? Tentu saja satu di antaranya dualisme kompetisi yang memicu terciptanya dualisme klub. 

Dualisme kompetisi itu dipicu karena konflik antara PSSI dan KPSI.  Masing-masing kubu menyelenggarakan kompetisi, yaitu Liga Primer Indonesia dan ISL pada musim 2011-2012. 

Gara-gara dualisme kompetisi itu akhirnya memicu dualisme klub. Beberapa klub yang mengalami dualisme yaitu Persebaya, Arema dan Persija Jakarta. 

Sempat muncul dua Persebaya, yaitu Persebaya DU dan Persebaya 1927. Sebagian besar Bonek lebih memilih mendukung Persebaya 1927 yang asli. 

Dualisme yang pelik juga menimpa Arema, yaitu Arema Indonesia dan Arema Cronus. Aremania saat itu lebih banyak mendukung Arema Cronus yang berlaga di ISL. 

 

25. Sebagian Besar Klub Berawalan Huruf P

Skuat Persipura di Liga 1 2019. (Bola.com/Aditya Wany)

Salah satu fakta unik tentang sepak bola Indonesia adalah sebagian besar nama klubnya berawalan huruf P. Tengok saja klub-klub yang berpartisipasi di kompetisi kasta tertinggi hingga terendah. Pasti mayoritas klubnya berawalan huruf P. 

Ambil contoh di Liga 1 2019. Lihat saja klub-klub yang berawalan P, contohnya Persib, Persebaya, PSIS, PSS hingga Persipura. 

Fenomena serupa juga ditemui di Liga 2, maupun Liga 3. Kalau sempat, silakan hitung sendiri berapa jumlah klub bola di Indonesia yang berawalan huruf P.  (Habis) 

Disadur dari Bola.com

(penulis Yus Mei Sawitri, Published 6/11/2019)