25 Kata-Kata Okky Madasari yang Penuh Makna Kehidupan

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Okky Puspa Madasari atau Okky Madasari, adalah seorang novelis berasal dari Indonesia, yang lahir pada 30 Oktober 1984. Diusianya yang ke 28 tahun, Okky Madasari pernah menjadi pemenang termuda dalam Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2012, untuk novel ketiganya yang berjudul Maryam.

Okky telah menerbitkan beberapa buku yang menarik untuk dibaca, dan terdapat banyak makna mendalam yang ditulis dalam novel karangannya, seperti Entrok (2010), 86 (2011), Maryam (2012), Pasung Jiwa (2013), Kerumunan Terakhir (2016), Yang Bertahan dan Binasa Perlahan (2017), Mata di Tanah Melus (2018), Mata dan Rahasia Pulau Gapi (2018), serta Mata dan Manusia Laut (2019).

Ada beberapa novel miliknya, yang berisi tentang kehidupan politik yang terjadi pada saat orde baru. Setelah kelulusannya di tahun 2005, Okky terus melanjutkan kariernya sebagai pewarta dan penulis novel, sambil melanjutkan study hingga mendapatkan gelar doktor di Singapura, dengan beasiswa penuh.

Setiap tulisan yang ia tulis dalam novelnya, memiliki makna yang mendalam dan sangat berarti dalam kehidupan. Berikut kata-kata Okky Madasari yang pernah ditulis dalam novelnya:

TERKAIT: 33 Kutipan The Chronicles of Narnia yang Inspiratif dalam Bahasa Inggris

TERKAIT: 25 Kutipan The Catcher in the Rye dalam Bahasa Inggris

TERKAIT: 29 Kutipan Anne Frank Penulis Novel The Diary of a Young Girl

Kata-Kata Okky Madasari

ilustrasi membaca/George Milton/pexels
ilustrasi membaca/George Milton/pexels

1. “Ealah.. Nduk, sekolah kok malah membuatmu tidak menjadi manusia.”

2. “Cinta mungkin hanya sebuah kata kecil yang belum ditemukan, terselip di antara segala kemudahan dan kenyamanan.”

3. “Hati yang sudah terikat oleh beban tak bisa menghasilkan apa-apa selain kegelisahan dan ketakpuasan.”

4. “Tak ada jiwa yang bermasalah. Yang bermasalah adalah hal-hal yang ada di luar jiwa itu. Yang bermasalah itu kebiasaan, aturan, orang-orang yang mau menjaga tatanan. Kalian semua harus dikeluarkan dari lingkungan mereka, hanya karena kalian berbeda.”

5. “Kebenaran ada ketika banyak orang yang mengatakannya.Keadilan diukur dari jumlah orang yang mendukung”

6. “SELURUH hidupku adalah perangkap. Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orangtuaku, lalu semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan. Semuanya adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang hidupku.”

7. “Senang sekali mendengar seseorang bisa berhenti melakukan sesuatu karena bosan. Tapi sayangnya tidak denganku. Aku bosan, tapi tak berhenti melakukan. Aku tak suka, tapi harus selalu bisa.”

8. “Menyanyi, berjoget, dan berdandan. Mereka memberikan uang atas kenikmatan mata dan telinga yang mereka dapatkan. Tapi jangan coba-coba memperlakukanku seenaknya. Aku punya harga diri. Kalau hanya memandang dengan tatapan meremehkan atau menertawakan di kejauhan aku tak pernah keberatan. Tapi kalau sampai menyentuh tubuhku tanpa izinku... cih! Makan ini bogemku!”

9. “Meskipun pikiran dan tubuh telah terpenjara, jiwa kita masih tetap bebas berkelana.”

10. “Jiwa adalah kesadaran yang menempel dalam keberadaan manusia. Sangat kecil, sangat tersembunyi. Suaranya selalu jernih, tapi lirih tak terdengar. Kesadaran yang lama tak diperhatikan, akhirnya makin bersembunyi, kalah oleh timbunan-timbunan suara luar yang diyakini sebagai kebenaran.”

Kata-Kata Okky Madasari

ilustrasi membaca/Hailey Galloway/pexels
ilustrasi membaca/Hailey Galloway/pexels

11. “Kebebasan baru ada jika ketakutan sudah tak ada.”

12. “Kesadaranku yang menentukan apa yang aku ingat dan aku pikirkan. Aku tuan atas tubuhku. Aku majikan atas pikiranku.”

13. “Melawan sesuatu yang ada dalam pikiran jauh lebih susah daripada melawan musuh dalam kenyataan.”

14. "Demi Ibu aku bertekad mengendalikan diri, Aku mengurung jiwa dan pikiranku, Aku membangun tembok tinggi-tinggi, aku mengikat tangan dan kakiku sendiri."

15. "Yang bermasalah itu kebiasaan, aturan, orang-orang yang mau menjaga tatanan. Kalian semua harus dikeluarkan dari lingkungan mereka, hanya karena kalian berbeda."

16. "Hanya kita berdua. Ini akan jadi petualangan seru kita berdua. Kita adalah Alice, kita adalah Dora. Kita penjelajah, kita petualang. Girl power! Yay!"

17. "Jangan mudah termakan opini yang dibangun media massa dan orang-orang yang berkuasa. Jangan biarkan orang baik menjadi korban."

18. "Percuma pakai seragam kalo belinya sama calo."

19. "Semuanya memiliki batas waktu."

20. "Apalagi yang lebih baik dari seorang ibu yang menjadi sumber segala cerita?"

Kata-Kata Okky Madasari

ilustrasi novel/Oladimeji Ajegbile/pexels
ilustrasi novel/Oladimeji Ajegbile/pexels

21. "Hati yang sudah terikat oleh beban tak bisa menghasilkan apa-apa selain kegelisahan dan ketakpuasan."

22. "Hush! Itu juga aku nggak tahu apa-apa. Aku nggak pernah minta. Tiba-tiba ada yang antar ke rumah. Katanya ucapan terima kasih. Cuma sekali itu, nggak pernah lagi."

23. "Jadi perempuan jangan terlalu pilih-pilih."

24. "Manusia Melus adalah orang-orang pintar. Kami bisa bicara bermacam-macam bahasa, hanya perlu sat kali saja mendengar kami sudah akan bisa bicara dalam bahasa itu dengan lancar."

25. "Mau bilang siapa? Semua orang di sini juga seperti itu. Jadi tahu sama tahu. Yang bego yang nggak pernah dapat. Sudah nggak dapat apa-apa, semua orang mengira dia dapat."

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel