25 September 1996: Gertakan Taliban untuk Menguasai Ibu Kota Kabul Afghanistan

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Kabul - Pada 25 September 1996, kelompok oposisi di Afghanistan telah mencapai bagian pinggiran timur Kabul dan siap mengusai ibu kota negara itu.

Dilansir dari laman BBC on this day, Taliban akhirnya berhasil merebut Sarobi, wilayah yang strategis dan penting, berada 45 mil sebelah timur Kabul, yang memungkinkan mereka berbaris dalam jarak 3 mil (4,8 km) dari pusat kota.

Kemajuan Taliban adalah ancaman terbesar bagi koalisi 5 faksi yang membentuk pemerintah Afghanistan sejak perang saudara dimulai tahun 1992.

Mullah Mohammed Omar, pemimpin gerakan fundamentalis Islam tersebut mengatakan bahwa Presiden Burhanuddin Rabbani bersiap untuk melarikan diri dan menawarkan amnesti pada pasukan pemerintah jika mereka menyerah.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pembelotan

Pasukan Taliban berjaga di luar Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan, 31 Agustus 2021. Taliban menguasai Bandara Kabul setelah Amerika Serikat menarik semua pasukannya dari Afghanistan. (WAKIL KOHSAR/AFP)
Pasukan Taliban berjaga di luar Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan, 31 Agustus 2021. Taliban menguasai Bandara Kabul setelah Amerika Serikat menarik semua pasukannya dari Afghanistan. (WAKIL KOHSAR/AFP)

Kemenangan Taliban ini terjadi setelah perebutan Ngarai Sutra yang aman 6 hari sebelumnya– yang bahkan gagal direbut oleh tentara Soviet selama 10 tahun.

Seorang anggota senior pemerintah Afghanistan menyalahkan kekalahan itu pada komandan pasukan pemerintah yang menyerang Taliban.

Koalisi Presiden Rabbani juga menuduh Pakistan mendukung Mullah Omar, tetapi juru bicara Kementerian Luar Negeri di Islamabad membantah tuduhan tersebut.

Pemimpin bermata satu yang penuh rahasia dan para petempurnya telah menguasai 2/3 Afghanistan dan hampir menerapkan interpretasi ketat mereka terhadap hukum Islam di seluruh negeri.

Satu-satunya oposisi serius yang mereka hadapi adalah dari Jenderal Abdul Rashid Dostam - panglima perang utara yang mengendalikan pasokan gas alam dan minyak yang menguntungkan negara itu.

Reporter: Ielyfia Prasetio

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel