28 Pemudik Balik Tanpa SIKM di Duren Tiga Jaksel Diisolasi, Rumah Ditempel Stiker

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 28 warga yang tersebar di sejumlah RW di Kelurahan Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan diisolasi mandiri karena baru kembali dari kampung halamannya tanpa Surat Izin Keluar Masuk (SIKM). Bahkan tempat tinggalnya ditempel stiker khusus. 

"Ini merupakan salah satu arahan dari pimpinan Pak Wali Kota dan Pak Camat Pancoran untuk menindaklanjuti pemudik-pemudik yang kembali lagi ke Jakarta," kata Lurah Duren Tiga, Muhammad Mursid, Selasa (2/6/2020).

Mursid mengatakan, sejak awal Ketua Gugus RW ditugaskan mendata warga yang kembali dari mudik ke Jakarta pada hari pertama Idul Fitri 1441 Hijriah/2020.

Ketua Gugus Tugas RW lantas menemukan sejumlah warga yang kembali dari mudik ke Jakarta, sebanyak 28 orang.

"Mereka isolasi mandiri selama 14 hari di masing-masing rumahnya," kata Mursid seperti dilansir Antara.

Selama menjalani karantina, warga tersebut akan dipantau kegiatannya oleh dokter dari Puskesmas kelurahan. Setelah menjalani karantina, warga tersebut akan diperiksa kesehatannya.

Sementara itu, untuk logistik, konsumsi warga yang menjalani karantina akan dibantu oleh tetangganya, sehingga tetap nyaman selama isolasi mandiri.

Para pemudik yang kedapatan kembali dari kampung halaman tersebut tersebar di sejumlah RW di Kelurahan Duren Tiga, salah satunya RW 05.

 

Alasan Lolos Tanpa SIKM

Petugas mengecek SIKM milik penumpang di stasiun Gambir Jakarta, Kamis (28/5/2020). Penumpang yang mudik dari Surabaya mengunakan kereta api luar biasa harus memiliki SIKM sebagai syarat yang dimiliki warga untuk keluar atau masuk ke wilayah Jakarta. (merdeka.com/Imam Buhori)

Ketua RT 04/ RW 05 Kelurahan Duren Tiga, Wahyu Setiawan menyebutkan, warga yang menjalani karantina mandiri tersebut rata-rata berprofesi sebagai pedagang.

Warga tersebut kembali mudik dari kampung halamannya di Tegal, Brebes, dan Pemalang, Jawa Tengah. Mereka masuk ke Jakarta tanpa mengantongi SIKM dan lolos di pos pemeriksaan.

"Cerita mereka bisa lolos macam-macam, ada yang mengaku punya surat kesehatan dari Puskesmas asalnya," kata Wahyu.

Selain itu beberapa warga mengaku sudah menjalani karantina di kampung halamannya serta menjalani tes cepat deteksi Covid-19.

"Mereka mengaku sudah dikarantina di kampung halaman dan ditempatkan di balai desa," kata Wahyu.

Wahyu menambahkan, selama menjalani karantina, warga akan mendapat suplai makanan dari para tetangga termasuk dari ketua Rukun Tetangga.

Hal ini dilakukan untuk meringankan beban mereka, karena kebanyakan mereka berprofesi sebagai pedagang yang memiliki penghasilan harian dari berdagang.

"Mereka juga bilang tidak bisa jualan, sedangkan kontrakan harus bayar. Pas saya kasih solusi makan ditanggung, mereka senang sekali," kata Wahyu.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: