3 Alasan Graham Potter Bukan Pelatih Kaleng-kalengan yang Cocok buat Chelsea

Bola.com, Jakarta - Chelsea akhirnya resmi menujuk Graham Potter sebagai manajer baru mereka. Pada Kamis (8/9/2022), Potter diumumkan sebagai bos baru The Blues, menggantikan Thomas Tuchel.

Pergerakan Chelsea dalam pergantian manajer pergantian terhitung cepat. Baru pada Rabu (7/9/2022) The Blues memecat Tuchel, dalam hitungan kurang dari 24 jam mereka sudah punya nakhoda anyar.

Pemecatan Tuchel sejatinya cukup mengejutkan, meski sudah ada tanda-tanda buruk sejak awal musim. Rentetan kekalahan di beberapa pertandingan penting di pentas Premier League dan Liga Champions membuat posisi Tuchel tidak aman.

Kini, Todd Boehly memercayakan perkembangan tim kepada Graham Potter, mantan pelatih Brighton.

Bersama Brighton, nama Potter melejit sebagai salah satu pelatih terbaik di level papan tengah.

Kerja keras Potter mengembangkan Brighton sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Awal musim ini, Brighton menduduki peringkat keempat klasemen sementara setelah enam pertandingan.

Potter punya rapor apik yang mendukung kepindahannya ke Chelsea. Ia memang bukan pelatih beken yang pernah menangani klub elite, namun hasil kerjanya di Brighton yang terhitung klub medioker layak diapresiasi.  Jadi, jangan dulu meremehkan arsitek kelahiran 20 Mei 1975 itu. Berikut 3 alasan Graham Potter cocok untuk Chelsea.

Selama tiga tahun ke depan Elang Mahkota Teknologi (Emtek) Group menjadi pemegang hak siar English Premier League (EPL). Kompetisi bergengsi ini akan ditayangkan secara gratis di stasiun televisi SCTV dan bisa dinikmati secara live streaming dengan berlangganan di Vidio. Sobat Bola.com mau tahu detailnya? Klik tautan ini.

Taktik yang Detail

Brighton termasuk salah satu tim medioker Inggris dengan gaya bermain spesifik. Artinya, Potter tahu gaya bermain terbaik untuk timnya dan dia bisa mengembangkan itu.

Di bawah bimbingan Potter, Brighton dikenal dengan taktik fleksibel, berani membangun serangan dari belakang ke depan. Ada identitas yang jelas dalam gaya main Brighton.

"Keunggulan terbesar Graham adalah bagaimana dia merencanakan taktik dan apa yang dia inginkan dari kami," ujar gelandang Brighton Alexis Mac Allister kepada Sky Sports.

Artinya, Potter tahu betul apa yang harus dilakukan timnya untuk meraih kemenangan. Dia membuat rencana detail dari laga ke laga sembari tetap mempertahankan identitas tim.

Jeli Membaca Potensi Pemain

Faktor kedua yang membuat Potter menarik adalah kemampuannya mengembangkan pemain. Dia bisa melihat potensi pemain dan membantunya menemukan ruang perkembangan yang sebelumnya tidak terlihat.

Kasus Leandro Trossard jadi contoh yang sangat jelas. Awalnya dia direkrut Brighton sebagai winger, tapi Potter pernah memainkannya sebagai Si No.10, false nine, gelandang sentral, dan baru-baru ini sebagai wing back.

Ada banyak kasus serupa selain Trossard, semua berdampak positif. Akibatnya, skuad Potter di Brighton dikenal serbabisa, pemain bisa saling mengisi posisi di lapangan.

Kemampuan Potter yang satu ini bakal sangat penting bagi Chelsea. Pasalnya, Tuchel sering dikritik karena menurunkan pemain di posisi yang salah dan mencadangkan pemain yang sebenarnya bisa jadi penentu.

Komunikatif

Potter juga dikenal sebagai sosok manajer yang dekat dengan pemain. Dia tahu betul cara mengembangkan pemain bukan hanya sebagai aset dalam tim, tapi sebagai manusia yang perlu diperhatikan.

Potter ingin menjalin hubungan dekat dengan pemain. Cara ini tentu sangat penting bagi sebagian pemain Chelsea yang sempat terpinggirkan di era Tuchel.

"Dia adalah seorang problem solver," ujar Nathan Dryer, mantan pemain Swansea. "Soal taktik, dia sangat bagus dalam memastikan ketika tim masuk ke lapangan, setiap pemain tahu apa yang harus dilakukan."

Selain itu, Potter juga dikenal sebagai pelatih yang berani pasang badan untuk timnya. Dia tidak mau menyalahkan pemain untuk hasil buruk atau kekalahan tim.

Karier Kepelatihan

Pelatih dari Brighton and Hove Albion Graham Potter tertawa di depan wasit usai pertandingan pekan keenam Liga Inggris 2022/2023 melawan Leicester City. (AFP/Adrian Dennis)
Pelatih dari Brighton and Hove Albion Graham Potter tertawa di depan wasit usai pertandingan pekan keenam Liga Inggris 2022/2023 melawan Leicester City. (AFP/Adrian Dennis)

Graham Potter memulai karier kepelatihan pada 2011. Dia pertama kali membesut klub Swedia, Ostersunds FK, pada 2011-2018.

Potter sukses mengantarkan Ostersunds FK promosi ke kasta tertinggi Swedia pada 2015. Gelar juara Piala Swedia berhasil diraihnya dua tahun berselang.

Pada 2018, Potter direkrut Swansea City yang turun kasta ke divisi Championship. Potter hanya bertahan satu tahun di sana sebelum dibajak ke klub Premier League, Brighton & Hove Albion.

Sistem Menyerang

Manajer Brighton and Hove Albion, Graham Potter. (AFP/Glyn Kirk)
Manajer Brighton and Hove Albion, Graham Potter. (AFP/Glyn Kirk)

Brighton asuhan Potter menjelma menjadi tim kuda hitam di Premier League. Dia berhasil membawa The Seagulls ke pencapaian tertinggi di Liga Inggris musim lalu, yakni posisi sembilan (51 poin), serta menorehkan rekor kemenangan besar Brighton di liga (4-0 vs Manchester United).

Brighton saat ini menduduki posisi keempat klasemen sementara Liga Inggris 2022/2023.

Salah satu hal menonjol dari Potter adalah kemampuan untuk sering berganti sistem tergantung pada lawan dan situasi. Namun, Potter tetap mempertahankan identitas serta cara bermain timnya sendiri. Ia mengaku pelatih yang menyukai gaya bermain menyerang.

Di tim-tim yang dibesutnya Potter sering menggunakan formasi 3-4-2-1, 4-4-2 dan 4-1-4-1 selama membesut Brighton.

Sumber: Berbagai sumber