3 Alasan Utama Pembelian Properti Secara Virtual di Masa Pandemi COVID-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Properti bukanlah pengecualian dalam daftar panjang perubahan pola pemasaran selama pandemi COVID-19. Seperti yang lain, sektor ini mau-tak mau beradaptasi dengan ranah digital untuk menggantikan agenda yang biasanya dilakukan secara langsung.

Bukan tanpa tantangan tentunya. Menurut CEO Crown Group, Iwan Sunito, sesi siaran langsung dalam memperlihatkan model properti jadi satu sandungan yang harus dijawab secara tuntas. Namun demikian, ia menyambung, setidaknya ada tiga alasan pembelian properti secara virtual di masa kriris kesehatan global.

"Sudah tahu lokasi unit membuat klien yakin untuk berinvestasi properti," katanya dalam jumpa pers virtual, Rabu, 27 Januari 2021. Kemudian, loyalitas dan kepercayaan pada sebuah brand juga dinilai Indra memengaruhi keputusan ini.

Terakhir, transparansi informasi tentang properti juga punya andil besar dalam pengambilan keputusan apakah akan membeli atau sebaliknya. Head of sales and marketing Crown Indonesia, Tyas Sudaryomo, menyambung bahwa memanfaatkan teknologi dalam pemasaran justru dinilai begitu efektif.

"Satu kasusnya waktu itu ada klien yang mau beli properti di Melbourne, anaknya tinggald di sana. Meeting secara virtual, otomatis itu dari tiga wilayah berbeda dan komunikasinya jadi lebih mudah," ungkapnya di kesempatan yang sama.

Tahap pemasaran properti berupa memperlihatkan, mulai dari layout sampai warna unit, semua telah dilakukan secara virtual. "Itu sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya (akad jual-beli unit kebanyakan berlangsung secara daring)," sambung Tyas.

Ekspansi Proyek

ARTIS, proyek properti hunian vertikal garapan Crown Group. (dok. Crown Group)
ARTIS, proyek properti hunian vertikal garapan Crown Group. (dok. Crown Group)

Sementara itu, pihaknya melaporkan keuangan satu tahun terakhir, yakni 2019--2020, termasuk empat bulan pertama pandemi, menunjukkan kenaikan jumlah akad jual-beli dan serah terima unit hingga 25 persen yang apabila digabungkan bernilai Rp4,6 triliun.

Pendapatan perusahaan pada tahun keuangan 2019--2020 didapat dari penyelesaian proyek Waterfall by Crown Group senilai Rp3,95 triliun di kawasan Waterloo, Sydney dengan proses serah terima pada saat puncak pandemi COVID-19.

"Ke depan, kami akan melanjutkan dengan proyek hunian vertikal pertama kami di Brisbane," kata Iwan. Keputusan melanjutkan proyek-proyek baru ini didasari keyakinan bahwa perlambatan dalam aktivitas konstruksi hunian akibat melemahnya pasar saat ini akan menciptakan kekurangan pasokan di masa depan.

Untuk proyek hunian di Brisbane, Crown Group telah menunjuk arsitek kenamaan asal Jepang, Kengo Kuma, dan perusahaan lokal, Plus Architecture, untuk mendesain pembangunan hunian senilai Rp5 triliun yang berlokasi di 117 Victoria Street, West End.

Kuma sendiri dikenal melalui penggunaan elemen cedar dan sering menggabungkan kayu, serta lingkungan alam dengan struktur perkotaan kontemporer. Beberapa karya Kuma yang paling terkenal, termasuk Museum Seni Suntory di Tokyo, Rumah Tembok Bambu di Cina, kantor pusat Grup Louis Vuitton Moet Hennessy di Jepang, dan Stadion Olimpiade Tokyo.

Revisi desain diharapkan akan diajukan ke Dewan Kota Brisbane pada pertengahan 2021 dengan rencana penjualan off-the-plan mulai awal 2022.

Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona

Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: