3 Bukti dan Dampak Naiknya Suhu Bumi di Indonesia

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan, kondisi beberapa kota-kota besar di Indonesia mengalami kenaikan suhu dalam beberapa waktu terakhir.

BMKG mencontohkan, Jakarta dalam periode 100 tahun, kenaikan suhunya sudah mencapai 1,4 derajat Celcius.

Lalu di beberapa wilayah industri di Indonesia, ada yang kenaikannya mencapai 0,7 sampai 0,9 derajat Celcius hanya dalam periode 30 tahun.

"Artinya apa yang dikatakan bahwa di Puncak, Bogor, yang biasanya dingin, lalu sudah pakai kipas angin, itu ya memang karena sudah terjadi pemanasan. Itu dirasakan, termasuk juga tidak hanya di Puncak, di wilayah lainnya," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati kepada Liputan6.com.

Indonesia dan negara-negara di dunia menyadari kenaikan suhu bumi terus terjadi dengan cepat. Untuk itu, secara global negara-negara di dunia telah berkomitmen untuk menekan kenaikan suhu di bawah 1,5 derajat Celcius sebagai ambang batas kritis iklim.

Komitmen ini disahkan melalui Paris Agreement dalam United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) pada 2015.

Indikator kenaikan 1,5 derajat Celcius dihitung mulai masa pra industri atau tahun 1850 sampai 2030.

Sayangnya, laporan United Nations Intergovernmental Panel on Climate Change menyebut bahwa kenaikan saat ini sudah menuju ambang batas, sementara 2030 masih sembilan tahun lagi.

Hal ini terjadi lantaran Bumi telah dengan cepat memanas 1,1 derajat Celcius lebih tinggi dari era pra industri.

"IPCC sudah merekam naiknya temperatur dari tahun 1850 sampai sekarang, suhu bumi itu sudah naik ke 1,09 derajat Celcius. Kita punya target di tahun 2100 berdasarkan Paris Agreement, kita tidak boleh melebihi kenaikan temperatur 1,5 derajat celcius, karena kalau lebih, katakanlah naik 2 derajat celcius, maka dampaknya akan sangat buruk," ucap Adila.

Berikut beberapa bukti serta dampak dari kenaikan suhu bumi yang semakin mendekati ambang batas 1,5 derajat Celcius di Indonesia dihimpun Liputan6.com:

1. Dilanda Badai Tropis

Tahun 2016 mendatang, kemungkinan bumi akan mengalami suhu terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah.
Tahun 2016 mendatang, kemungkinan bumi akan mengalami suhu terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah.

Badai Tropis semakin sering melanda Indonesia. Padahal Indonesia berada dalam ekuator bumi yang semestinya tidak bisa ditembus badai tropis.

"Padahal seharusnya paling dalam itu ekornya (badai) saja. Seperti badai cempaka, badai yang lain seperti dahlia. Kenapa itu bisa terjadi? Karena suhu muka air laut perairan Indonesia semakin panas," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Perempuan berusia 57 tahun ini menerangkan, seharusnya suhu muka air laut di perairan Indonesia rata-rata mencapai 26 derajat celcius.

Tapi, kata dia, sekarang telah menyentuh lebih dari 29 derajat Celcius. Pemanasan suhu air laut berisiko tinggi terhadap habitat flora dan fauna laut.

Dia juga menyebut bagaimana musim kemarau sekarang yang kerap dibarengi hujan. Terdapat sebagian daerah yang mengalami kekeringan saat musim kemarau, tapi ada sebagian daerah yang malah mengalami banjir.

Pada zona yang suhu muka air lautnya tinggi, penguapannya meningkat sehingga yang seharusnya musim kemarau tidak banyak terbentuk awan, tapi justru terbentuk awan.

Dampak seperti itu, menurut Dwikorita, sudah terasa di beberapa wilayah di Indonesia. Selain itu, BMKG memprediksi es di puncak Gunung Jayawijaya, Papua, akan punah tidak lebih dari tahun 2026.

Hujan ekstrem di DKI Jakarta pada 1 Januari 2020 juga antara lain sebagai pengaruh dampak perubahan iklim. Kala itu, kata Dwikorita, udara dingin dari dataran tinggi Tibet bisa menyeruak masuk ke wilayah Indonesia. Hal itu disebabkan suhu udara di tanah air lebih panas.

2. Rentan Terjadi Kebakaran Hutan yang Memakan Kerugian Negara dalam Jumlah Besar

Ilustrasi kebakaran hutan (AFP Photo)
Ilustrasi kebakaran hutan (AFP Photo)

Mengacu pada laporan terbaru IPCC, peneliti Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Adila Isfandiari menilai kondisi bumi saat ini sangat mengkhawatirkan.

Kebakaran hutan adalah salah satu bencana yang kerap terjadi di Indonesia. Salah satu pemicunya tak lain adalah kenaikan suhu bumi.

Adila mengimbau manusia untuk segera melakukan upaya baik jangka panjang ataupun jangka pendek karena kerusakan yang ditimbulkan tak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga sektor lain termasuk sosial dan ekonomi.

"Semakin panas bumi, maka semakin mudah juga memicu kebakaran hutan dan kita semakin sulit untuk memadamkan apinya. Kebakaran hutan tahun 2016 yang hebat itu di Indonesia kerugiannya mencapai Rp 221 triliun. Itu dua kali biaya rekonstruksi tsunami Aceh. Lalu kebakaran hutan 2019 juga besar dan kerugiannya mencapai Rp 80 triliun," papar Adila.

"Ketika bicara krisis iklim, kita bukan cuma bicara lingkungan saja. tapi juga mulai dari krisis kemanusiaan, ekonomi dan lain-lain. Dampaknya itu banyak sekali," dia melanjutkan.

3. Prediksi Musim Kemarau dan Musim Hujan pada 2030 Tak Bersahabat

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan di Australia selama musim kemarau, lazim dikenal sebagai fenomena Bushfire. (Rob Griffith / AFP PHOTO)
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan di Australia selama musim kemarau, lazim dikenal sebagai fenomena Bushfire. (Rob Griffith / AFP PHOTO)

BMKG memprediksi, pada tahun 2030, musim kemarau akan semakin kering sampai 20 persen, sedangkan musim hujan akan semakin basah disertai hujan yang lebih lebat.

Tapi, fenomena banjir bandang di sejumlah wilayah utara dan barat khatulistiwa diprediksi justru terjadi ketika musim kemarau.

Krisis iklim akibat suhu bumi memanas membuat daerah yang seharusnya dingin, malah terkena gelombang panas.

"Jadi kacau, porak-poranda, kalau kita tidak mau berubah. Karena ini slow onset, jadi orang tidak merasakan. Tapi, kalau tiba-tiba seketika terjadi, itu baru kita syok," jelas Dwikorita.

(Cindy Violeta Layan)

Bumi Makin Panas, Ancaman Nyata Bagi Manusia

Infografis: Bumi Makin Panas, Ancaman Nyata Bagi Manusia (Liputan6.com / Abdillah)
Infografis: Bumi Makin Panas, Ancaman Nyata Bagi Manusia (Liputan6.com / Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel