3 Fakta Menarik di Balik Tim Bulu Tangkis Indonesia Dipaksa Mundur dari All England 2021

·Bacaan 3 menit
Ganda putra Indonesia Hendra Setiawan / Mohammad Ahsan mengalahkan Ben Lane / Sean Vendy pada babak pertama All England 2021 di Utilita Arena Birmingham, Inggris, Rabu, 17 Maret. (foto: BWF-limited acces)

Liputan6.com, Jakarta - Tim bulu tangkis Indonesia saat ini masih berada di Birmingham, Inggris. Mereka menjalani isolasi di Hotel di Crowne Plaza Birmingham City Centre. Langkah mereka di All England terpaksa terhenti setelah pejabat kesehatan berwenang setempat, NHS mengirim email notifikasi kepada 20 dari 24 anggota kontingen Indonesia.

PBSI selaku induk organisasi bulu tangkis di Indonesia hingga kini masih berupaya untuk mencari jalan agar para atlet bisa bertanding. Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mendukung langkah PBSI untuk mengklarifikasi kejadian ini kepada BWF.

Sedangkan Dubes Indonesia untuk Inggris, Desra Percaya juga ikut mengirimkan surat kepada Presiden Badminton World Federation (BWF) Poul-Erik Høyer Larsen untuk meminta penjelasan atas situasi tersebut.

"Kedua, menyampaikan fakta-fakta terkait PCR test dan kepatuhan protokol yang sudah dilakukan atlet Indonesia termasuk vaksin yang sudah dilakukan," jelasnya.

Untuk diketahui, BWF melakukan eliminasi kepada tim bulu tangkis Indonesia lantaran mereka satu pesawat dengan penumpang yang terjangkit Covid-19 dalam perjalanan dari Istanbul, Turki, menuju Birmingham, Inggris, Sabtu, 13 Maret lalu.

Hingga hari ini, Sabtu (20/3/2021), delapan hari sudah tim berserta official Indonesia menjalani isolasi mandiri.

Ternyata di balik peristiwa tersebut menyisakan beberapa fakta menarik setelah tim bulu tangkis Indonesia dipaksa mundur dari All England 2021:

1. Absennya Tim Tiongkok

Perlakuan dipaksa mundurnya Tim Indonesia dan absennya Tiongkok menjadikan All England 2021 turnamen bersejarah. Untuk kali pertama dalam 35 tahun, tidak ada wakil kedua negara tersebut dalam daftar juara.

Terakhir kali Indonesia dan Tiongkok gagal menempatkan wakilnya di podium tertinggi All England terjadi pada 1986.

Ketika itu Morten Frost (Denmark), Kim Yun-ja (Korea Selatan), Kim Moon-soo/Park Joo-bong (Korea Selatan), Chung Myung-hee/Hwang Hye-young (Korea Selatan), dan Park Joo-bong/Chung Myung-hee (Korea Selatan) sukses merebut gelar.

Fenomena 1986 juga sudah menjadi anomali sepanjang sejarah All England. Sebelumnya wakil Indonesia atau Tiongkok setidaknya merebut satu gelar ajang bulu tangkis tertua di seluruh dunia tersebut sejak 1968.

2. Selain Indonesia, Pebulu Tangkis Turki Juga Dikeluarkan

Selain atlet-atlet Indonesia, pebulu tangkis Turki, Neslihan Yigit, yang juga berada di pesawat, akhirnya dikeluarkan dari All England.

"Baik BWF maupun Badminton Inggris ingin mengklarifikasi bahwa keputusan melakukan isolasi diri selama 10 hari bagi pemain dan rombongan tim Indonesia, dan kini Yigit, secara mandiri oleh layanan tes dan trace NHS (Otoritas Kesehatan Inggris)," bunyi pernyataan resmi BWF, Kamis, 18 Maret

BWF juga menjelaskan, tindakan mereka sesuai dengan protokol dan aturan COVID-19 Pemerintah Inggris yang juga diatur dalam undang-undang nasional negara Ratu Elizabeth tersebut.

Aturan tersebut juga terpisah dari pedoman apapun yang ditetapkan oleh BWF dan Badminton Inggris dalam Prosedur Operasi Standar (SOP) yang berlaku dalam perhelatan YONEX All England 2021.

BWF dan Badminton England pun tidak memiliki pilihan selain mengikuti arahan NHS dan menarik peserta dari turnamen.

"Ini adalah keadaan yang sangat disayangkan dan sesuatu yang tidak diinginkan oleh BWF dan Badminton Inggris untuk tim Indonesia dan Yigit dari Turki," tulis BWF.

3. Beda Perlakuan Dengan Negara Lain

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Inggris (PPI UK) menyatakan mendukung langkah pemerintah Indonesia dalam meminta klarifikasi Badminton World Federation (BWF) pada ajang All England 2021.

PPI UK pun melanjutkan, dengan menyebut adanya "kesimpangsiuran dalam penyelenggaraan All England yang memerlukan penjelasan dari panitia penyelenggara".

Mereka menjelaskan lebih lanjut seperti ketika terdapat kontingen dari negara lain, yakni Denmark dan India, yang sebelumnya mendapatkan hasil tes swab positif COVID-19 dan melakukan tes ulang hingga mendapatkan hasil tes swab negatif.

"Dalam hal ini, BWF memberikan penundaan jadwal pertandingan kepada kontingen negara-negara tersebut. Dan ketika telah mendapatkan hasil tes swab negatif, dapat bertanding kembali pada All England. Adanya kejadian tersebut mengundang banyak pertanyaan mengenai dugaan diskriminasi implementasi aturan dari BWF kepada negara peserta turnamen," ungkap Gatot.

Syauyiid Alamsyah (Magang)

Saksikan video pilihan di bawah ini: