3 Hal Dugaan Penimbunan Kedelai oleh Importir hingga Harga Melonjak

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Harga kedelai yang melonjak sempat membuat para pengusaha tempe dan tahu menghentikan produksinya. Hal ini sontak membuat makanan khas Indonesia ini menjadi barang langka hingga sulit ditemukan di pasaran.

Tak ayal kondisi ini membuat para pelaku usaha meradang karena kenaikan harga kedelai membuat biaya produksi ikut naik. Untuk bisa bertahan, mereka pun terpaksa mereka menaikkan harga.

Polisi menduga tingginya harga kedelai akibat ulah importir nakal yang melakukan penimbunan. Bahkan saat ini pihak Bareskrim Polri melalui Satgas Pangan tengah mendalami adanya dugaan penimbunan kedelai sebagai bahan baku tempe dan tahu.

Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono bahkan menyatakan bahwa pihaknya tak segan memproses secara hukum bagi para importir yang mencoba berlaku curang.

"Polri merespons kelangkaan kedelai di pasar terutama importir. Apabila ditemukan ada dugaan pidana maka Satgas Pangan akan melakukan penegakan hukum," tutur Kadiv Humas Polri Irjen Raden Prabowo Argo Yuwono dalam keterangannya, Rabu (6/1/2021).

Berikut sejumlah hal adanya dugaan penimbunan kedelai oleh importir hingga membuat harga dipasaran melonjak dirangkum Liputan6.com:

Satgas Pangan Sudah Lakukan Pengecekan

Terikait kasus ini, Argo menuturkan, Satgas Pangan Bareskrim Polri sudah melakukan pengecekan ke gudang-gudang importir kedelai pada Selasa, 5 Januari kemarin.

Pertama, mendatangi gudang yang berada di Bekasi, yakni, PT Segitiga Agro Mandiri. Dalam temuannya, bahwa perusahaan itu bergerak di bidang impor kedelai ex Amerika dengan kapasitas antara 6.000 hingga 7.000 ton per bulan.

"Bahwa kedelai impor tersebut selain diperuntukan guna pemenuhan industri tahu dan tempe untuk kualitas II juga dipergunakan untuk proses pakan ternak dan proses pembuatan minyak kedelai serta produk turunan lainya," ujar Argo.

Lalu, distribusi ke UMKM industri tahu dan tempe ke wilayah Jabodetabek dan Bandung Jawa Barat dengan pendistribusian antara 250-300 ton per hari dan stok tersisa saat ini sebanyak 2.500 ton.

Sementara, kacang kedelai yang disalurkan melalui distributor dengan harga saat ini Rp 8.600/kg terjadi kenaikan sekitar Rp 1.000 sejak pertengahan bulan Desember 2020.

Lokasi lain yang diperiksa yaitu, PT FKS Mitra Agro di Pasar Kemis Pasir Jaya Cikupa Tangerang. Dari pemeriksaan diketahui bahwa pada tanggal 31 Desember 2020 kedelai masuk sebanyak 533,29 ton dan sudah didistribusikan sebanyak 79 ton, sisa stok per 31 Desember 2020 sebanyak 474,29 ton.

"Bahwa pada tanggal 4 Januari 2021 kedelai masuk sebanyak 460,22 ton dan sudah didistribusikan sebanyak 76 ton, sisa stok per 4 Januari sebanyak 384,22 ton. Sisa stok per tanggal 5 Januari 2021 sebanyak 858,51 ton," ucap Argo.

Selanjutnya, PT. Sungai Budi di Daan Mogot, Kota Tangerang, Banten. Ditemukan fakta bahwa, pada tanggal 4 Januari 2021 kedelai masuk sebanyak 400 ton dan sebanyak 300 ton sudah siap didistribusikan ke konsumen, sehingga sisa stok saat ini per 5 Januari 2021 sebanyak 100 ton.

Kedelai Mengalami Kenaikan Mulai Awal 2021

Sebelumnya, Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo bersama Kasatgas Pangan Polri Brigjen Helmy Santika telah melakukan pemeriksaan di sejumlah gudang importir dan distributor kedelai di wilayah Cikupa, Cengkareng, dan Bekasi.

"Satgas juga telah menginstruksikan satgas kewilayahan di tiap Polda untuk melakukan pengecekan harga, ketersediaan kedelai serta sentra-sentra pengolahan khususnya UMKM yang memproduksi tempe dan tahu," tutur Listyo dalam keterangannya, Selasa, 5 Januari 2021.

Selanjutnya, berdasarkan data yang dikumpulkan, harga kedelai mengalami kenaikan mulai awal 2021.

Alhasil, sejumlah perajin tahu tempe pun mogok produksi selama tiga hari dan pasokan tahu tempe terdeteksi menghilang di pasaran selama 1 Januari sampai 3 Januari 2021.

"Kenaikan harga kedelai dinilai membebani pengusaha. Kenaikan harga kedelai di kisaran angka Rp 9.000. Dari semula sekitar Rp 7.000 per kilogram," jelas dia.

Kasatgas Pangan Polri Brigjen Helmy Santika menambahkan, pihaknya memiliki catatan dan analisa ketersediaan kebutuhan kedelai secara nasional.

"Kami telah koordinasi dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan sejumlah pihak lain untuk menelusuri dugaan adanya penimbunan dan permainan harga kedelai yang melonjak sejak beberapa hari lalu," ujar Helmy.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengklaim telah menurunkan tim untuk mencari sumber masalah mogok produksi oleh produsen tahu tempe. Pemerintah juga menjamin pasokan kedelai akan segera stabil.

Helmy menyebutkan, perkembangan global di masa pandemi Covid-19 sebenarnya turut mempengaruhi harga kedelai di pasar dunia.

"Berdasarkan data FAO, pada Desember 2020 ada kenaikan harga kedelai di pasar global sebesar 6 persen dari harga awal USD435 menjadi USD461 per ton," ucap Helmy.

Dilakukan Penegakan Hukum Bila Ada Unsur Pidana

Selain itu, Kadiv Humas Polri Irjen Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, jika ditemukan adanya dugaan pidana, maka polri akan melakukan penegakan hukum kepada pelaku.

"Polri merespons kelangkaan kedelai di pasar terutama importir, apabila ditemukan ada dugaan pidana maka Satgas Pangan akan melakukan penegakan hukum," tutur Kadiv Humas Polri Irjen Raden Prabowo Argo Yuwono dalam keterangannya, Rabu (6/1/2021).

Argo menyebut, Satgas Pangan Bareskrim Polri sendiri sudah melakukan pengecekan ke sejumlah gudang importir kedelai. Di antaranya di Bekasi yakni PT Segitiga Agro Mandiri. Perusahaan itu bergerak di bidang impor kedelai eks Amerika dengan kapasitas 6 ribu hingga 7 ribu ton per bulan.

"Bahwa kedelai impor tersebut selain diperuntukkan guna pemenuhan industri tahu dan tempe untuk kualitas II juga dipergunakan untuk proses pakan ternak dan proses pembuatan minyak kedelai serta produk turunan lainya," jelas dia.

Kemudian, distribusi ke UMKM industri tahu tempe ke wilayah Jabodetabek dan Bandung, Jawa Barat, dengan pendistribusian antara 250 hingga 300 ton per hari dan stok tersisa saat ini sebanyak 2.500 ton.

Kacang kedelai itu disalurkan melalui distributor dengan harga saat ini Rp 8.600 per kilogram, terjadi kenaikan sekitar Rp 1.000 sejak pertengahan Desember 2020.

"Didapat informasi dari staf perusahaan tersebut kenaikan harga disebabkan karena selain harga beli di negara asal terjadi kenaikan yang sebelumnya 6.800 menjadi 8.300 juga disebabkan dikarenakan sejak pertengahan bulan Oktober-Desember 2020 kapal yang langsung tujuan Indonesia sangat jarang, sehingga menggunakan angkutan tujuan Singapura dan sering terjadinya delay dikarenakan menunggu waktu dalam konekting ke Indonesia, sehingga keterlambatan antara 2 sampai 3 minggu," ujar Argo.

(Fifiyanti Abdurahman)

Saksikan video pilihan di bawah ini: