3 Jenderal TNI Berdarah Batak Pentolan Pasukan Intel Kopassus

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Dibentuk pada 24 Juli 1967, Grup 3/Sandhi Yudha Komando Pasukan Khusus (Kopassus) adalah satuan yang punya kemampuan berbeda dengan satuan yang lain. Dan yang jelas, tak mudah bagi seorang prajurit TNI Angkatan Darat untuk bisa menjadi anggota grup ini.

Dirangkum VIVA Militer dari berbagai sumber, anggota Grup 3/Sandhi Yudha memiliki tugas khusus dalam operasi rahasia (clandestine operation). Tak hanya itu, para anggota Grup 3/Sandhi Yudha Kopassus juga menguasai kemampuan intelijen tempur (combat intell) dan kontra pemberontakan (counter insurgency).

Dari penjelasan di atas, jelas tak sembarang orang bisa menjadi pempin di satuan ini. Komandan Grup 3/Sandhi Yudha adalah perwira terpilih yang memiliki kemampuan yang lengkap, baik soal pertempuran maupun intelijen.

Hingga saat ini, tercatat ada 32 orang Perwira Menengah (Pamen) TNI Angkatan Darat. Namun demikian, kali ini VIVA Militer hanya akan membahas tiga sosok Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat, yang pernah menduduki posisi sebagai Komandan Grup 3/Sandhi Yudha Kopassus.

Nama pertama adalah Letjen TNI (Purn.) Hotmangaraja Panjaitan. Jebolan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) 1977 ini adalah putra dari Pahlawan Revolusi, Mayjen TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan, atau yang lebih dikenal D.I. Panjaitan.

Hotmangaraja adalah seorang anggota Kopassus, yang menghabiskan hampir sebagian besar kariernya bersama Korps Baret Merah.

Pria kelahiran Palembang 67 tahun lalu ini ditunjuk menjadi Komandan Grup 3/Sandhi Yudha Kopassus pada tahun 2000, saat masih berpangkat Kolonel Infanteri (Inf.) TNI.

Saat itu, Hotmangaraja diplot untuk menggantikan posisi Kolonel Inf. Erwin Hudawi Lubis yang mendapat tugas baru sebagai Asisten Operasi Kepala Staf Komando Daerah Militer (Asops Kasdam) IX/Udayana.

Salah satu prestasi Hotmangaraja adalah keberhasilannya menyelesaikan pendidikan Ranger Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army), di Fort Benning, Georgia.

Hotmangaraja adalah salah satu dari lima perwira TNI yang berhasil mendapatkan Tab Ranger selain Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono, Letjen TNI (Purn.) Nugrogho Widyatmoko, Letjen TNI (Purn.) Syaiful Rizal, dan Kapten Inf. Teddy Indra Wijaya.

Nama selanjutnya adalah Letjen TNI (Purn.) Sintong Panjaitan. Sintong juga pernah menjadi Dangrup 3/Sandhi Yudha Kopassus, periode 1982 hingga 1983.

Jebolan Akademi Militer Nasional (AMN) 1963 ini punya segudang pengalaman tempur, mulai dari Operasi Penumpasan Gerakan 30 September 1965, Operasi Penumpasan Pasukan Gerilya Rakyat/Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PGRS/Paraku), hingga Operasi Seroja di Timor-Timur.

Setelah menjabat Dangrup 3/Sandhi Yudha Kopassus, Sintong juga sempat menjadi orang nomor satu di Korps Baret Merah. Ia ditunjuk menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus pada Mei 1985, menggantikan posisi Jenderal TNI (Purn.) Wismoyo Arismunandar.

Perlu diketahui juga, Sintong dan Hotmangaraja sama-sama pernah menjadi Pangdam IX/Udayana. Sintong menuduki posisi Pangdam IX/Udayana periode 12 Agustus 1988 hingga 1 Januari 1992, sementara Hotmangaraja mulai dari 26 Juni 2008 hingga 1 April 2020.

Nama terakhir sudah tentu Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Luhut Binsar Panjaitan. Pria yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia (Menkomarinves RI), menjadi Komandan Grup 3/Sandhi Yudha Kopassu periode 1990 hingga 1992.

Luhut juga dikenal sebagai salah seorang prajurit terbaik yang pernah dimiliki oleh TNI Angkatan Darat, khususnya Kopassus. Seperti halnya Sintong, Luhut juga pernah terjun dalam Operasi Seroja di Timor-Timur sejak dimulainya pada 7 Desember 1975.

Sebelum menjadi Komandan Grup 3/Sandhi Yudha Kopassus, Luhut juga pernah jadi orang nomor satu di satuan elite Kopassus lainnya. Tepatnya pada 1981, Luhut yang masih berpangkat Mayor Infanteri (Inf.) TNI dipercaya menjadi Komandan Detasemen 81 Penanggulangan Teror, atau dikenal dengan Sat-81/Gultor.

Luhut dan Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto Djojohadikusumo dikirim ke Jerman, untuk mengikuti pendidikan anti-teror di pasukan khusus Kepolisian Federal Jerman, Grenzschutzgrupppe 9 (GSG-9).