3 Laga Heboh di Panggung Piala Dunia 2022 : Banjir Gol dan Air Mata

Bola.com, Jakarta - Piala Dunia 2022 sudah semakin dekat. Terhitung mulai 22 November, miliaran pasang mata akan menyaksikan duel-duel seru yang terjadi di Qatar.

Sebanyak 32 negara terbagi dalam delapan grup, dan mereka siap bertempur demi kejayaan bangsa dan negara di pesta bola terakbar empat tahunan hajatan FIFA. Seperti di Piala Dunia sebelumnya, Piala Dunia 2022 akan menyuguhkan duel-duel super big match mencekam.

 

Daftar Mencekam

Hal itu bisa terjadi di babak grup, fase gugur, dan juga di partai final. Sekarang, yuk kita menoleh ke belakang, melihat kembali duel-duel terbesar dalam sejarah Piala Dunia.

Sudah pasti mencekam, karena gengsi dan harga diri serta reputasi semuanya dipertaruhkan.

 

Inggris 4-2 Jerman Barat (1966)

Inggris vs Jerman di Piala Dunia 1966. (AFP/Str)
Inggris vs Jerman di Piala Dunia 1966. (AFP/Str)

Pada edisi ini, Jerman Barat kembali bersiap berpesta di kandang lawan seperti yang pernah mereka torehkan di Swiss pada Piala Dunia 1954. Saat itu, Jerman Barat tampil sebagai juara setelah mengalahkan Hongaria 3-2 di partai puncak.

Tapi, kali ini, Jerman Barat harus menangis. Tak ada party, karena yang ada hanya kepedihan mendalam. Inggris yang menantang mereka di final Piala Dunia 1966 masih terlalu kuat untuk ditaklukkan.

Sempat unggul lebih dulu lewat gol kilat Helmut Haller pada menit ke-12, Jerman Barat menyerah dari tuan rumah dengan skor 2-4. Sir Geoffrey Charles "Geoff" Hurst, striker Inggris, menjadi neraka bagi Jerman Barat.

Hurst memahat hat-trick yang membuat Jerman Barat luluh lantak. Sebiji gol Tiga Singa lainnya diceploskan oleh Martin Peters. Ini merupakan satu di antara kekalahan menyakitkan bagi Jerman Barat.

 

Portugal 5-3 Korea Utara (1966)

Korea Utara adalah contoh nyata kalau tim underdog bisa jadi sembilu sekaligus batu sandungan bagi tim-tim unggulan. Berada di Grup 4, Korea Utara finis di posisi kedua dan bersama negara komunis lainnya, Uni Soviet, melaju ke fase selanjutnya.

Sementara itu, dua tim unggulan di grup yang sama yakni Italia dan Cile terkapar berdarah-darah alias tersingkir. Sayang, dalam laga berikutnya, Korea Utara, yang menjelma menjadi hantu menakutkan, kalah 3-5 dari Portugal.

Padahal mereka sempat unggul 3-0 lewat aksi Pak Seung-zin pada menit pertama, Li Dong-woon menit 22', serta Yang Seun-kook menit 25'. Tapi, setidaknya, Portugal yang waktu itu diperkuat bintangnya, Eusebio, sempat ketar-ketir sebelum akhirnya berhasil memenangkan duel.

 

Italia 3-2 Brasil - 1982

Keduanya sebenarnya tak ingin bersua terlalu cepat. Tapi siapa yang bisa menghindar dari takdir? Italia dan Brasil, dua raksasa dunia itu, saling berhadapan di perempat final Piala Dunia 1982.

Genderang perang sudah ditabuh. Banyak pihak yang bilang, duel ini merupakan final yang sesungguhnya. Setelah 1970, Brasil tak pernah lagi juara.

Sementara itu, Italia, lebih lama lagi tak pernah naik podium kehormatan. Gli Azzurri kali terakhir menjadi yang terhebat pada Piala Dunia 1938. Keduanya kini siap saling bunuh.

Brasil takluk. Armada Tele Santana yang dijejali pemain bintang seperti Zico, Socrates, Junior, dan Serginho menyerah 2-3. Gol Socrates dan Falcao tak mampu menyelamatkan Selecao dari tsunami air mata.

Mau tahu siapa yang paling dibenci pendukung Brasil saat itu? Tak pelak lagi, jawabannya adalah Paolo Rossi. Ya! Rossi. Hat-triknya ke gawang Brasil membuyarkan semua asa dan doa Tim Samba.

Pada edisi ini, Italia melaju ke final dan kemudian tampil sebagai kampiun usai meremukkan Jerman Barat 3-1.