3 Moda Transportasi Publik yang Izinkan Penumpangnya Buka Puasa dengan Ketentuan

·Bacaan 3 menit
Bus Transjakarta antre saat melintasi Shelter Harmoni, Jakarta, Kamis (5/11/2020). PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menargetkan di tahun 2030 seluruh armada merupakan bus listrik. Diharapkan total bus listrik mencapai 12.120 unit diakhir tahun 2030. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Jakarta Pandemi Covid-19 yang belum juga usai, menyebabkan protokol kesehatan terus diterapkan ditempat-tempat umum termasuk saat menggunakan moda transportasi publik. Hal tersebut dilakukan guna mencegah penularan virus Corona menjadi semakin luas.

Protokol kesehatan tersebut antara lain seperti penyekatan di stasiun atau halte, pengecekan suhu tubuh, menjaga jarak, wajib menggunakan masker, serta dilarang untuk makan dan minum selama perjalanan.

Namun, selama bulan Ramadhan terdapat sejumlah aturan yang diubah untuk kenyamanan penumpang yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Sejumlah transportasi publik kini memperbolehkan penggunanya untuk berbuka puasa saat Ramadhan. Antara lain adalah KRL (kereta rel listrik), Moda Raya Terpadu Jakarta (MRTJ), dan juga bus Transjakarta.

Meski diizinkan untuk makan dan minum di waktu buka puasa, pelaksanaannya harus berdasarkan protokol kesehatan dan ketentuan yang telah ditetapkan.

Berikut ini adalah tiga moda transportasi publik yang mengizinkan penumpangnya berbuka puasa dengan ketentuannya dihimpun Liputan6.com:

1. KRL (Kereta Api Listrik)

PT KAI Commuter memperbolehkan penumpang KRL relasi Solo-Yogyakarta makan dan minum di dalam kereta selama bulan Ramadhan. Sebelumnya larangan makan dan minum memang diberlakukan selama perjalanan KRL.

"Selama bulan puasa, KAI Commuter memperbolehkan para pengguna untuk makan dan minum di dalam KRL khusus pada waktu berbuka puasa hingga satu jam setelahnya," ujar Manager External Relations KAI Commuter, Adli Hakim, Selasa, 13 April 2021.

Dalam pelaksanaannya tersebut, Adli mengajak para pengguna yang hendak berbuka puasa tetap menjaga protokol kesehatan dan menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat.

"Para pengguna kami imbau untuk berbuka puasa dengan minuman dan makanan ringan secukupnya," katanya.

Adli menyebut, potensi kepadatan pengguna KRL berada di rentang waktu menuju waktu berbuka puasa. Puncak mobilitas pengguna KRL saat pagi hari diperkirakan terjadi pukul 06.00-07.00 WIB, sementara pada sore harinya pada pukul 16.00-17.00.

"Kami mengajak para pengguna KRL untuk merencanakan kembali perjalanannya pada bulan Ramadhan ini agar terhindar dari kepadatan di dalam KRL," katanya.

Selain itu, Adli menyebut KRL tetap beroperasi normal selama bulan Ramadhan. Sebagaimana pola operasi saat ini, di bulan puasa KAI Commuter tetap mengoperasikan 983 perjalanan KRL per hari.

Perjalanan tersebut mulai pukul 04.00 WIB hingga 22.00 WIB di wilayah Jabodetabek dan 22 perjalanan KRL per hari mulai pukul 05:05 WIB hingga 19.10 WIB di wilayah Solo-Yogyakarta.

"Seluruh layanan KRL juga berlangsung dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan," tandasnya.

2. Bus Transjakarta

Sementara itu, Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas PT Transjakarta Angelina Betris menyatakan, makan dan minum diperbolehkan pada saat membatalkan puasa.

"Makan dan minum diperbolehkan pada saat membatalkan puasa dengan maksimal waktu 10 menit sejak azan Magrib," kata Betris dalam keterangan tertulis, Selasa, 13 Aprilm 2021.

Angelina mengatakan, pengguna hanya dapat berbuka menggunakan air minum, kurma atau makanan ringan. Penumpang Transjakarta dilarang mengonsumsi makanan berat, seperti halnya nasi.

"Tidak diperkenankan mengonsumsi nasi dan lauk pauk, makanan menyengat, dan makanan siap saji lainnya," ucapnya.

Ia mengatakan, masker dapat dibuka sementara waktu hanya pada saat berbuka puasa. Kemudian masker wajib digunakan kembali setelah makan dan minum selesai.

"Pada saat melepas masker, pelanggan tidak diperkenankan untuk berbicara baik secara langsung ataupun melalui telepon genggam," jelas dia.

3. MRT Jakarta

Selanjutnya, PT MRT Jakarta (Perseroda) juga memperbolehkan penumpang membatalkan puasa saat berada di dalam rangkaian kereta ataupun area berbayar. Yakni seperti peron atau beranda peron.

Pelaksana Tugas (Plt) Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta Ahmad Pratomo mengatakan, pengguna jasa hanya diperbolehkan membatalkan puasa dengan air putih dan buah kurma.

Selain itu, pembatalan puasa tersebut maksimum 10 menit setelah azan Magrib.

"Pengguna jasa tidak diperbolehkan untuk membatalkan puasa dengan minuman selain air putih, seperti teh, kopi, sirup, soda dan lain-lain, serta kudapan selain buah kurma," kata Pratomo.

Sama halnya dengan Transjakarta, Ahmad mengatakan, masker penumpang dapat dibuka sementara saat berbuka dan digunakan kembali setelah membatalkan puasa selesai.

Selama membuka masker, pengguna jasa tetap harus menerapkan protokol kesehatan dengan tidak berbicara baik satu maupun dua arah.

Dinda permata (Magang)

Saksikan video pilihan di bawah ini: