3 Momen Mencengangkan di Altar Piala Dunia : Ada Apa dengan Gazza ?

Bola.com, Jakarta - Semua pihak sudah tak sabar menyaksikan Piala Dunia 2022 Qatar. Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Neymar merupakan tiga dari puluhan bintang yang akan beraksi di pentas tertinggi sepak bola empat tahunan FIFA.

Diikuti 32 tim yang tergabung dalam delapan grup, Piala Dunia 2022 akan dimulai pada 21 November mendatang. Kali pertama berlangsung di Uruguay pada 1930, Piala Dunia meninggalkan banyak aneka momen.

 

Banyak Momen

Ada momen suka, duka, lucu, bahkan tragis. Nah, sembari menanti pemain idola dan tim pujaanmu beraksi, ada baiknya kita flashback sejenak ke tiga Piala Dunia yang tentunya bisa membuatmu ikut terbawa emosi.

Berikut tiga di antara momen terbaik Piala Dunia yang wajib kamu ketahui. Tunggu apa lagi, kuy simak segera!

 

1. Tangisan Gazza

Foto gelandang Timnas Inggris Paul Gascoigne di Piala Dunia 1990. Inggris pernah gagal tampil di Piala Dunia 1994. (AFP / STAFF)
Foto gelandang Timnas Inggris Paul Gascoigne di Piala Dunia 1990. Inggris pernah gagal tampil di Piala Dunia 1994. (AFP / STAFF)

Ini adalah pertandingan terbesar Inggris sejak melangkah ke final dan memenangkan Piala Dunia 1966 di Wembley, Inggris. Pada Piala Dunia 1990, Inggris bertemu Jerman Barat di semifinal. Keduanya akan saling menyingkirkan di Stadion Delle Alpi, Torino, Italia, 4 Juli.

Katalisator kesuksesan Inggris sepanjang turnamen adalah Paul Gascoigne. Dia cemerlang. Pemain yang akrab dipanggil Gazza itu bisa mendikte lawan dengan permainan impresifnya yang luar biasa di lini tengah.

Fase semifinal, Gascoigne juga tampil oke. Meski terlihat sedikit gempal, namun dia terlihat lincah dan elegan.

 

Hasil Akhir

Andreas Brehme lebih dulu membawa Jerman unggul pada menit ke-60. Hanya berselang 20 menit, Gary Lineker menyamakan skor jadi 1-1.

Pada babak kedua perpanjangan waktu, Gascoigne melakukan pelanggaran keras terhadap Thomas Berthold. Wasit asal Brasil, Jose Roberto Wright, memberinya kartu kuning.

Gascoigne terlihat terguncang. Dia membayangkan dirinya tak bisa tampil di final jika sekiranya The Three Lions bisa mengalahkan Jerman. Gazza memerah tak kuasa menahan air mata. Si bengal itu menangis...

Perpanjang waktu tak menghasilkan gol. Inggris dan Jerman harus memungkasi laga via drama adu penalti. Inggris kalah 3-4.

 

2. Bola Perak Cannavaro

Fabio Cannavaro dinobatkan sebagai peraih penghargaan Ballon d'Or dengan nilai transfer terendah. Ia sukses meraih gelar Liga Italia musim 2005/06 bersama Juventus dan trofi Piala Dunia 2006 bersama Timnas Italia saat nilai pasarnya masih mencapai 13 juta euro. (AFP/Franck Fife)
Fabio Cannavaro dinobatkan sebagai peraih penghargaan Ballon d'Or dengan nilai transfer terendah. Ia sukses meraih gelar Liga Italia musim 2005/06 bersama Juventus dan trofi Piala Dunia 2006 bersama Timnas Italia saat nilai pasarnya masih mencapai 13 juta euro. (AFP/Franck Fife)

Pada Piala Dunia 2006, Fabio Cannavaro memenangkan Bola Perak untuk penampilannya dan bisa dibilang seharusnya dia mendapatkan Bola Emas.

Di Piala Dunia 2006, semua orang tahu tentang Cannavaro. Dia benar-benar tampil brilian, termasuk ketika mengalahkan Prancis di final.

 

Pemain Kunci

Cannavaro adalah bek kunci dan stabil seperti batu. Dalam lima dari tujuh pertandingan Italia, dia ikut menjaga clean sheet, dan di dua laga lainnya hanya kebobolan satu gol.

Cannavaro bukan hanya bek yang hebat, tapi juga kapten yang hebat. Kepemimpinannya membuat Italia tetap tenang dan fokus melalui saat-saat menegangkan dalam setiap laga.

Secara keseluruhan, Cannavaro memiliki salah satu penampilan terbaik sepanjang masa untuk seorang bek di Piala Dunia.

 

3. Selebrasi Tardelli

Marco Tardelli.
Marco Tardelli.

Piala Dunia adalah tentang gairah. Di situlah kecintaan akan permainan yang indah dan kebanggaan pada bangsa bersatu.

Mungkin, tidak ada permainan yang melambangkan gairah turnamen lebih baik daripada perayaan Marco Tardelli di Final Piala Dunia 1982. Italia bertemu Jerman Barat pada 11 Juli.

Pertandingan itu diperkirakan akan berlangsung ketat dan di babak pertama, begitulah yang terjadi. Tak ada gol yang tercipta. Di babak kedua, pertandingan kian terbuka.

 

Ekspresi Lari

Pahlawan turnamen, Paolo Rossi, membuka skor pada menit ke-57 untuk membawa Italia unggul. Ketika Tardelli menjebol gawang Harold Schumaker pada menit ke-69, mereka sedang dalam perjalanan menuju kejuaraan.

Tardelli berlari ke seluruh lapangan dan berteriak kegirangan. Kepalanya terguncang ke depan. Kebahagiaannya terlukis di seluruh wajahnya.

 

Arti Khusus

Selebrasi Tardelli menunjukkan apa artinya bagi para pemain untuk memenangkan Piala Dunia. Dia tahu bahwa dia akan menjadi pahlawan bagi rakyatnya dan memberi mereka kegembiraan yang besar.

Oleh karena itulah dia tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Italia kemudian memenangkan pertandingan 3-1 dan mengangkat trofi untuk kali ketiga. Lari liar Tardelli menjadi satu di antara momen khas Piala Dunia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel